Perbaikan yang Berarti
Bau kayu lapuk dan lembap laut menguar saat Aris menarik bilah kayu terakhir dari dinding timur. Tangannya gemetar; bukan karena lelah, melainkan karena ia tahu fondasi yang menopang atap kedai ini sudah terlalu lama keropos. Di luar, debur ombak terdengar seperti detak jantung yang makin cepat—menghitung sisa waktu sebelum fajar tiba dan kedai ini benar-benar runtuh.
"Jangan berhenti sekarang, Aris. Kalau balok penyangga ini tidak terpasang sebelum air pasang naik, seluruh dinding bisa ambruk ke arah dapur," suara Dika memecah keheningan. Pria itu berlumuran debu semen, otot lengannya menegang saat ia menahan balok kayu jati yang berat dengan bahunya. Aris tidak menjawab. Ia fokus pada instruksi di peta kuno yang mereka temukan. Peta itu tidak hanya menunjukkan lokasi sumber air, tetapi juga sistem katrol kuno yang seharusnya mengalirkan air dari tebing langsung ke dapur kedai. Jika sistem ini aktif, kedai tidak hanya akan memiliki pasokan air bersih yang stabil, tetapi juga tekanan air yang mampu mengunci struktur bangunan melalui mekanisme pemberat di bawah lantai.
"Aku butuh kunci pas itu, sekarang!" seru Aris. Ia merangkak masuk ke celah sempit di bawah lantai kayu yang berderit nyaring. Kegelapan pekat hanya ditembus oleh sorot lampu senter yang mulai meredup. Aris meraba pipa tembaga yang dingin dan berkarat. Dengan satu sentakan kuat, ia memutar katup yang macet. Suara gemuruh halus terdengar dari balik dinding—air mengalir, mengisi sistem pemberat kuno itu. Kedai itu bergetar, seolah menarik napas panjang, lalu diam. Fondasi itu terkunci. Dika menarik napas lega di atas sana, namun Aris tahu, ini baru permulaan. Masih ada tiga hari sebelum bank menyita segalanya.
Keesokan harinya, aroma cat tembok yang baru dioleskan beradu dengan aroma lembap sisa hujan. Aris mengusap keringat di dahinya, menatap dinding ruang utama yang kini berwarna krem hangat, jauh lebih cerah dibanding warna kusam yang ia temukan saat pertama kali tiba. Namun, ketenangan itu retak saat suara ketukan tongkat kayu Bu Ratna menggema di lantai kayu yang mulai kokoh.
"Terlalu pucat," ujar wanita tua itu tanpa basa-basi, matanya memicing ke arah sudut ruangan. "Dinding ini butuh jiwa, Aris. Kakekmu selalu menggantung kaligrafi kuno di sana agar pelanggan merasa seperti pulang ke rumah, bukan bertamu ke kantor bank."
Aris meletakkan kuasnya, napasnya memburu. "Bu Ratna, saya baru saja menyelesaikan perbaikan fondasi agar atap tidak runtuh. Menghias dinding adalah prioritas terakhir saat tenggat waktu bank hanya tinggal tiga hari lagi."
Bu Ratna tidak bergeming. Ia meletakkan sebuah bungkusan kain lusuh di atas meja kayu yang baru saja diamplas Aris. Di dalamnya terdapat seperangkat cangkir keramik porselen yang retak halus di bagian bibir, namun motif bunganya masih memancarkan warna biru tua yang elegan. "Justru karena waktumu sempit, kamu harus membuat mereka lupa bahwa tempat ini sedang diincar. Kalau pelanggan tidak merasa kedai ini berharga, mereka tidak akan peduli saat pengembang datang membawa surat sita. Estetika adalah pertahanan pertamamu."
Aris menatap cangkir-cangkir itu. Ia menyadari sesuatu; setiap retakan di keramik ini memiliki cerita, persis seperti dinding kedai yang baru saja ia perkuat. Saat ia menyentuh porselen dingin itu, rasa lelah yang menghimpit dadanya perlahan memudar. Ia mulai menata cangkir-cangkir itu di rak dengan ketelitian yang belum pernah ia miliki saat bekerja di kota besar.
Sore harinya, saat matahari mulai tenggelam, Aris berdiri di teras kedai. Kedai Sari Laut tidak lagi terlihat seperti bangkai kapal yang terdampar. Dinding-dindingnya kini kokoh, hasil keringatnya bersama Dika. Aris menatap cangkir porselen di tangannya. Ia tidak lagi memikirkan apartemennya yang dingin dan steril di kota; ia justru membayangkan bagaimana besok pagi, ia akan menyeduh teh dengan air dari sumber yang baru ia aktifkan. Ia merasa lebih nyaman di sini, di tengah debu dan aroma teh, daripada di balik meja kantor yang dulu ia kejar.
"Kau sudah melakukan lebih dari yang kubayangkan, Aris," suara serak Bu Ratna memecah keheningan dari arah teras. Wanita tua itu menatap hasil renovasi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tapi ingat, bangunan yang kokoh tidak akan berarti apa-apa jika orang-orang berhenti datang karena racun yang disebarkan orang-orang kota itu."
Aris mengerutkan kening. "Racun apa, Bu?"
Bu Ratna menghela napas panjang, tatapannya beralih ke cakrawala. "Rumor. Mereka mulai berbisik di pasar bahwa teh di sini basi karena airnya diambil dari sumber yang terkontaminasi. Mereka ingin memastikan tidak ada pelanggan yang berani melangkah masuk ke sini lagi sebelum tenggat waktu bank berakhir."