Ujian Loyalitas
Aroma melati yang biasanya menenangkan kini terasa seperti jebakan bagi Aris. Ia meletakkan teko keramik di atas meja kayu yang baru ia ampelas, namun kedai Sari Laut pagi ini ganjil. Kursi-kursi rotan yang seharusnya mulai diisi para nelayan atau warga lokal sebelum melaut, kini kosong melompong. Hanya ada Bu Ratna, duduk mematung di sudut favoritnya, memandang cangkir teh yang masih mengepul tanpa menyentuhnya.
"Tehnya segar, Bu. Saya baru saja mengambil air dari sumber di balik tebing pagi ini," ujar Aris. Ia tahu tenggat waktu pelunasan utang bank tinggal tiga hari lagi. Kedai yang sepi adalah ancaman nyata bagi sisa waktu tersebut.
Bu Ratna mendongak. Matanya yang biasanya tajam dan menuntut kini menyiratkan ketakutan yang tertahan. Ia menggeser cangkir itu menjauh. "Orang-orang di pasar sedang bicara, Aris. Mereka bilang air dari tebing itu sudah tercemar limbah konstruksi proyek pengembang di ujung jalan. Mereka takut sakit jika meminumnya."
Aris merasakan dadanya sesak. "Itu bohong, Bu. Saya sendiri yang menguji kejernihannya. Sistem air kuno di bawah lantai ini menyaring semuanya secara alami. Saya menjaminnya."
"Jaminanmu tidak bisa melawan rasa takut, Nak," jawab Bu Ratna pelan. "Rumor adalah racun yang bekerja lebih cepat daripada limbah itu sendiri."
Aris tidak bisa diam. Ia membutuhkan bukti. Siang harinya, ia mengundang warga untuk demonstrasi penyeduhan teh. Ia berdiri di balik meja saji, sementara Dika bangkit dari bawah lantai, tangannya yang kotor oleh bekas minyak dan tanah mengusap keringat di dahi. Dika telah memeriksa pipa tembaga kuno itu berkali-kali—sistem itu berfungsi sempurna, mengunci fondasi bangunan dengan kestabilan yang mustahil.
"Ini air dari sumber yang sama," Aris berkata lantang di depan Pak RT dan beberapa warga yang berdiri ragu di ambang pintu. "Jika memang ada racun, saya orang pertama yang akan meminumnya. Jika kedai ini berbahaya, saya orang pertama yang akan menutupnya." Ia menyesap teh itu dalam diam, membiarkan aroma melati memenuhi ruangan. Keheningan mencekam menyelimuti kedai hingga Pak RT akhirnya maju dan mengambil cangkir. Saat ia meminumnya, ketegangan sedikit meluruh. Warga mulai duduk, namun dari kejauhan, Aris melihat sosok berpakaian rapi—orang suruhan pengembang—mengamati dari balik pilar dengan senyum sinis yang mengancam.
Kemenangan kecil itu terputus saat mereka mulai membersihkan sisa debu renovasi di dinding timur. Dika mengetuk kayu jati itu dengan gagang palu. Suaranya hampa. "Ini tidak wajar, Aris. Ada rongga di balik papan ini."
Aris mendekat, menyalakan senter ponsel. Cahaya menangkap ujung kertas yang menguning terselip rapat. Dengan linggis kecil, mereka mencongkel papan hingga berderit lepas, menampakkan kompartemen tersembunyi yang berisi buku catatan kulit dan setumpuk surat. Aris membuka halaman pertama dan matanya membelalak. Itu bukan catatan keuangan biasa, melainkan daftar transaksi pemerasan terstruktur. Nama perusahaan pengembang yang sekarang berusaha menggusurnya tertulis jelas di sana, lengkap dengan nominal yang dulu digunakan untuk menjatuhkan kakeknya.
"Mereka orang yang sama, Dika," bisik Aris, suaranya bergetar. "Mereka tidak hanya ingin tanah ini, mereka ingin menghapus jejak kejahatan masa lalu mereka."
Aris kini memiliki bukti, namun waktu hanya tersisa 72 jam. Saat ia dan Dika bersiap menutup kedai, langit di atas pesisir berubah warna menjadi ungu lebam. Badai besar mulai menyelimuti cakrawala, menekan atap kedai dengan hawa dingin yang tidak biasa. Aris menatap cakrawala di mana garis laut dan awan melebur menjadi satu kekacauan. Fondasi kedai yang baru saja diperbaiki kini akan diuji oleh amukan alam. Jika badai ini merusak struktur tersebut, maka ia tidak hanya kehilangan kedai, tetapi juga kehilangan satu-satunya tempat di mana ia merasa memiliki akar. Badai menghantam, dan Aris sadar bahwa kedai ini adalah satu-satunya tempat yang ia miliki untuk bertahan hidup.