Jejak yang Tersembunyi
Kayu jati di dinding timur Kedai Sari Laut mengerang—suara kayu tua yang menyerah pada beban waktu. Aris menekan bahunya ke panel yang lembap, menahan atap yang melengkung rendah. Di sampingnya, Dika memegang linggis dengan buku-buku jari memutih, napasnya memburu di tengah udara kedai yang pengap oleh debu dan aroma tanah basah.
"Jangan lepaskan, Aris!" seru Dika. "Kalau balok utama ini bergeser satu sentimeter saja, seluruh sisi kedai akan runtuh sebelum fajar."
Aris tidak menjawab. Fokusnya tersedot pada titik temu antara dinding yang rapuh dan fondasi yang keropos. Utang bank yang jatuh tempo dalam tiga hari terasa seperti beban fisik yang menekan dadanya, namun keruntuhan fisik kedai ini adalah ancaman yang jauh lebih nyata. Jika kedai ini rata dengan tanah malam ini, tidak akan ada lagi warisan yang bisa ia pertahankan.
Dengan sentakan kuat, Dika mencongkel panel kayu yang lapuk. Suara kayu patah bergema nyaring, disusul jatuhnya bongkahan semen tua. Debu mengepul, memaksa Aris memejamkan mata. Saat debu menipis, di balik panel yang hancur, terdapat sebuah ceruk sempit. Di dalamnya, tersimpan kotak logam berkarat yang menyimpan gulungan kulit usang.
Aris membuka gulungan itu di atas meja bar yang goyah. Di bawah cahaya lampu gantung yang meredup, garis-garis tinta pudar pada peta tersebut tampak menari.
"Ini tidak masuk akal," Dika memecah keheningan, menyeka keringat di dahinya dengan lengan kemeja yang kotor. "Tanda silang ini tepat di titik sumber mata air pegunungan yang sudah mati sejak tahun sembilan puluhan. Semua orang di desa tahu, aliran itu berhenti setelah gempa besar."
Aris menunjuk tanda silang tersebut dengan ujung jarinya yang gemetar. "Tapi kakek tidak mungkin menggambarnya tanpa alasan. Dia meninggalkan ini tepat di balik dinding yang kau bongkar. Lihat guratan di sini, ini petunjuk teknis. Ada ruang di bawah fondasi kedai ini yang terhubung langsung ke saluran air lama."
"Kau ingin menggali di bawah lantai kedai yang hampir roboh ini?" Dika mendengus skeptis. "Jika kau salah langkah, kedai ini akan runtuh menimpa kita sebelum fajar."
Aris menatap Dika, matanya memancarkan ketegangan yang mendalam. "Aku tidak punya pilihan lain. Bank tidak akan menunggu."
Mereka bergerak di bawah lindungan kegelapan, menembus semak belukar di balik tebing utara. Angin laut berbau amis dan garam menusuk jaket Aris saat ia dan Dika menelusuri medan yang terjal. Langkah mereka berat, tertahan oleh tanah basah yang labil. Aris menggenggam senter di tangan kiri, sementara tangan kanannya menekan gulungan peta tua yang kini mulai lembap oleh embun.
"Kenapa kau peduli?" tanya Aris di sela napasnya yang tersengal. "Kau bisa saja membiarkan tempat itu runtuh dan mencari proyek lain."
Dika berhenti sejenak, mengarahkan obor ke arah tebing curam. "Ayahku meninggal sebelum sempat memperbaiki bengkel kayunya. Dia menyerah karena merasa tidak ada lagi yang bisa diselamatkan. Aku tidak ingin melihat hal yang sama terjadi padamu."
Kata-kata itu menghantam Aris lebih keras daripada embusan angin laut. Di titik koordinat yang ditandai, di balik rimbunnya akar pohon beringin tua yang menempel pada tebing, mereka menemukan sebuah celah batu. Saat Aris mengarahkan senternya, ia melihat rembesan air yang jernih, membasahi lumut yang seharusnya sudah lama mengering. Mata air itu masih hidup.
Kembali ke kedai, Aris menyentuh permukaan meja kayu jati yang kini terasa lebih kokoh di bawah tangannya. Ia menatap peta kuno itu, menyadari bahwa ia tidak lagi melihat kedai ini sebagai tumpukan utang yang harus dijual agar ia bisa kembali ke apartemennya yang steril di kota. Sesuatu dalam dirinya telah bergeser. Kedai ini bukan lagi sekadar aset; ini adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa benar-benar ada.
Ia menatap peta itu sekali lagi. Tanda silang merah itu bukan sekadar lokasi geografis; itu adalah bukti bahwa warisan kakeknya lebih dari sekadar dongeng. Namun, saat ia merapikan peralatan kerjanya, suara langkah kaki berat terdengar dari arah pintu depan. Seseorang datang, dan tenggat waktu tiga hari itu tiba-tiba terasa jauh lebih pendek.