Bayang-bayang Utang
Suara debur ombak malam itu terdengar tidak biasa—lebih berat, menghantam tiang-tiang penyangga Kedai Sari Laut dengan ritme yang mengancam. Aris memegang senter dengan tangan yang basah oleh keringat dingin, mengarahkan cahayanya ke bawah celah papan lantai yang baru saja dibuka Dika.
"Lihat itu, Aris," suara Dika datar, namun ada getar urgensi yang tak bisa ia sembunyikan. Ia menunjuk ke arah tiang penyangga utama yang kini menggantung di udara, terpisah beberapa sentimeter dari dasar tanah yang tergerus abrasi. "Pasang surut minggu ini terlalu ekstrem. Tanah di bawah sini sudah habis. Kalau air pasang datang lebih tinggi sebelum fajar, seluruh sisi timur kedai akan ambruk ke laut."
Aris merasakan dadanya sesak. Dua puluh sembilan hari tersisa sebelum tenggat pajak, dan sekarang, bangunan yang mulai ia cintai ini justru mengancam untuk menelan dirinya sendiri. Ia teringat kembali pada Pak Hardi yang tadi siang memuji aroma melati tehnya—sebuah pengakuan yang hampir membuatnya merasa memiliki tempat ini. Sekarang, pengakuan itu terasa seperti beban yang menyesakkan.
"Berapa lama kita punya?" tanya Aris, suaranya parau.
"Sampai fajar," jawab Dika pendek. "Aku punya kayu sisa di gudang, tapi kita butuh material tambahan untuk memperkuat dudukan tiangnya sekarang juga. Itu akan menguras sisa tabunganmu untuk material bulan ini."
Aris menatap tumpukan kayu yang lapuk di bawah sana. Ia tidak punya pilihan. Ia mengangguk, membiarkan Dika bekerja, namun ketenangan itu terputus oleh derap langkah sepatu bot yang berat di teras depan. Seorang pria berjas kelabu berdiri di ambang pintu, memegang map kulit yang terlihat mahal namun mengancam.
"Saya datang bukan untuk minum teh, Aris," suara pria itu tajam. "Pihak bank kehilangan kesabaran. Bunga cicilan Anda menunggak tiga bulan. Jika dana pelunasan tidak ada dalam tiga hari, lelang akan dipercepat. Anda akan diusir sebelum bulan berakhir."
Aris merasakan dunianya menyempit. Tiga hari? Itu jauh lebih cepat dari tenggat waktu pajak yang ia tahu. Dengan tangan gemetar, Aris menyeduh sisa teh melati kakeknya—sebuah ritual yang ia pelajari sebagai bentuk diplomasi terakhir. Ia menyodorkan cangkir itu dengan tenang, mencoba menahan emosi.
"Minumlah dulu, Pak," ucap Aris dingin. "Kedai ini adalah jangkar pelabuhan. Jika Anda menyitanya sekarang, Anda hanya akan mendapatkan tumpukan kayu lapuk. Beri saya waktu untuk memperbaiki fondasinya, dan saya akan memastikan cicilan pertama masuk minggu ini."
Penagih itu menatap teh di tangannya, menyesapnya sekali, lalu meletakkan cangkir itu kembali. "Tiga hari, Aris. Jangan buat saya kembali dengan surat pengusiran."
Setelah pria itu pergi, Aris hampir ambruk. Namun, Dika sudah kembali dengan palu godam. Tak lama, Bu Ratna muncul, membawa kayu bekas dan makanan, diikuti warga lainnya. Melihat Aris bekerja keras, Bu Ratna bercerita tentang kakek Aris yang dulu pernah menyelamatkan rumah warga saat badai besar. Aris tersadar; kedai ini bukan lagi beban pribadinya, melainkan tanggung jawab bersama. Solidaritas itu memberi mereka kekuatan untuk terus bekerja hingga jauh malam.
Saat Dika berhasil mengangkat balok lantai utama yang lapuk, ia menemukan sebuah kotak besi yang tertanam di tanah. Di dalamnya terdapat peta kuno yang menunjukkan sesuatu yang janggal. Aris menyorotkan senter ke atas perkamen itu. Tanda silang merah menunjuk ke arah sumur tua yang selama ini tertutup beton di sudut kedai—sumber air yang seharusnya sudah kering sejak lama. Aris menatap Dika, menyadari bahwa perbaikan fisik ini hanyalah langkah awal dari rahasia besar yang lebih dalam. Mereka bukan hanya sedang menyelamatkan bangunan; mereka sedang menghidupkan kembali denyut nadi pelabuhan yang telah lama mati.