Ritual yang Menghidupkan
Bau kayu lapuk dan debu yang mengendap di Kedai Sari Laut perlahan tersingkir oleh aroma kayu manis yang tajam dan hangat. Aris memegang cangkir keramik yang retak di bagian pinggir—satu-satunya peninggalan kakeknya yang tersisa di meja bar—dan mengamati uap yang menari di udara. Di atas meja, surat peringatan pajak daerah dengan stempel merah mencolok menjadi pengingat yang dingin: dua puluh sembilan hari tersisa sebelum kedai ini disita.
Aris tidak lagi memikirkan brosur penjualan properti yang sudah ia buang ke tempat sampah dua hari lalu. Sekarang, pikirannya hanya terfokus pada takaran bubuk kayu manis dan suhu air yang tepat. Catatan kakeknya, yang ditulis dengan tinta hitam yang mulai memudar, berbunyi: Teh ini bukan untuk menghilangkan dahaga, tapi untuk memanggil pulang mereka yang tersesat di pelabuhan.
Lonceng kuno di atas pintu berdentang pelan, disusul derit engsel yang sudah lama tidak diminyaki. Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah berat, bahunya merosot seolah memikul beban yang tak terlihat. Ia berhenti tepat di depan meja bar, hidungnya kembang-kempis, menangkap aroma yang memenuhi ruangan.
"Kayu manis dari hutan utara, disangrai dengan api kayu bakau," suara pria itu serak, nyaris seperti bisikan. "Sudah sepuluh tahun saya tidak mencium aroma ini. Sejak kakekmu menutup pintunya untuk terakhir kali."
Aris merasa tenggorokannya tercekat. Ia menyodorkan cangkir berisi teh hangat itu. "Nama saya Aris, Pak. Saya sedang mencoba menghidupkan kembali catatan kakek saya. Mungkin tidak akan persis sama, tapi..."
Pria itu, yang memperkenalkan diri sebagai Pak Hardi, duduk di bangku kayu yang berderit. Setelah menyesap tehnya, ia terdiam lama, membiarkan rasa hangat itu menyebar. "Ini memiliki jiwa yang sama, Aris," katanya pelan. "Kakekmu dulu selalu berkata bahwa kedai ini adalah jangkar. Jika jangkarnya lepas, pelabuhan akan kehilangan arah." Pak Hardi meletakkan cangkir itu, menatap dinding timur yang baru saja dibongkar Aris. "Ada alasan mengapa dia menyembunyikan peta di sana. Dia tidak hanya menjaga resep teh, dia menjaga rahasia pelabuhan ini. Carilah apa yang tertinggal di balik kayu-kayu tua itu, sebelum orang lain yang menemukannya."
Saat Pak Hardi beranjak pergi, meninggalkan Aris dengan rasa penasaran yang mendalam, Dika masuk dengan wajah yang lebih tegang dari biasanya. Ia tidak membuang waktu. Dika meletakkan linggis besinya dengan dentuman keras di atas lantai kayu. Tanpa sepatah kata pun, ia berjalan menuju dinding timur, tempat di mana mereka sebelumnya menemukan peta kuno itu.
Dika mengetuk permukaan kayu yang mulai membusuk itu. Suaranya gema kosong. "Ini lebih buruk dari yang kita kira, Aris," ujar Dika, suaranya rendah. Ia menunjuk ke arah retakan yang menjalar dari lantai hingga ke langit-langit, menyerupai jaring laba-laba yang rapuh. "Kayu-kayu penopang di balik dinding ini sudah dimakan rayap bertahun-tahun. Jika kita tidak memperkuat fondasi ini segera, kedai ini bisa runtuh kapan saja. Mungkin malam ini, mungkin besok pagi."
Aris merasakan dadanya sesak. "Berapa lama kita punya waktu?"
"Jika tidak diperkuat malam ini, kedai ini tidak akan bertahan sampai fajar," jawab Dika dingin, menatap Aris dengan mata yang menuntut keputusan. Aris menatap dinding timur yang rapuh, lalu menatap tumpukan surat pajak di meja. Ia tahu, jika ia membiarkan bangunan ini roboh, ia tidak hanya kehilangan kedai—ia kehilangan satu-satunya tempat di mana ia merasa memiliki tujuan. "Kita mulai sekarang," ucap Aris tegas. Namun, saat mereka bersiap bekerja semalam suntuk, sebuah ketukan keras kembali terdengar di pintu depan, kali ini lebih berat dan penuh ancaman.