Pilihan di Antara Debur Ombak
Debu kapur dari dinding timur yang dibongkar masih menggantung di udara, berpadu dengan aroma kayu tua yang lembap dan sisa-sisa melati kering. Aris menggenggam peta kuno itu, jemarinya menelusuri garis-garis samar yang menghubungkan Kedai Sari Laut dengan dermaga. Namun, ketenangan itu pecah saat pintu utama berderit kasar.
Baskoro melangkah masuk. Sepatunya yang mengilap tampak seperti serangan terhadap lantai kayu kedai yang rapuh. Ia meletakkan sebuah map kulit di atas meja kakek yang penuh noda teh.
"Aris, aku senang kau masih di sini," suara Baskoro berat, penuh percaya diri pria yang terbiasa membeli apa pun. "Aku sudah menyiapkan dokumennya. Harga untuk tanah ini naik sepuluh persen. Cukup untuk melunasi utang pajak dan memberimu modal baru di kota. Kau bisa pergi besok, meninggalkan bau melati dan kayu manis ini selamanya."
Di sudut ruangan, Dika yang memegang palu membeku. Tatapannya beralih dari map itu ke arah Aris. Ada kecemasan yang tertahan; sebuah ketakutan bahwa Aris akan menyerah pada angka-angka di atas kertas itu. Aris menatap map tersebut. Nominal di dalamnya bisa membebaskannya dari jeratan utang pajak yang mencekik selama tiga puluh hari ke depan. Ia bisa kembali ke kehidupan kota yang tidak menuntut apa pun selain kepatuhan.
"Tidak," sahut Aris. Suaranya stabil, lebih dingin dari yang ia bayangkan. Ia mendorong map itu kembali ke arah Baskoro. "Kedai ini tidak untuk dijual. Tidak sekarang, tidak nanti."
Wajah Baskoro mengeras. "Kau sedang bermain dengan waktu yang tidak kau miliki. Tiga puluh hari lagi, tempat ini akan disita bank. Jangan menyesal saat kau berakhir di jalanan dengan tangan kosong."
Setelah Baskoro pergi, Aris berjalan keluar menuju dermaga. Pasir basah terselip di sela sandal jepitnya, dingin dan kasar, menarik kakinya agar tetap berpijak pada realitas yang baru saja ia pilih. Di depannya, Dermaga Sari Laut membentang seperti tulang punggung tua yang rapuh. Suara debur ombak menghantam tiang-tiang kayu, menciptakan ritme konstan yang tidak peduli pada utang ratusan juta yang kini menghimpit pundaknya. Ia telah membuang brosur penawaran itu ke tempat sampah, namun rasa takut akan kegagalan tetap membayangi setiap embusan napasnya.
Kembali ke kedai, ia disambut oleh Bu Ratna yang berdiri berkacak pinggang di tengah ruangan.
"Kedai ini sudah seperti kapal karam, Aris," ujar Bu Ratna tanpa basa-basi. Ia menunjuk tumpukan kayu di lantai. "Kakekmu tidak pernah membiarkan cangkir berdebu, apalagi membiarkan tungku dingin di jam seperti ini. Kau pikir dengan menjaga dinding tetap berdiri, pelanggan akan datang sendiri?"
Aris menahan gejolak amarahnya. "Saya hanya berusaha memastikan atap ini tidak runtuh, Bu."
Bu Ratna menghela napas, jemarinya yang keriput menyentuh deretan peralatan teh yang berantakan. "Kedai ini hidup melalui ritual, bukan renovasi bisu. Coba ini." Ia menyodorkan sekotak daun teh yang tersimpan di balik cangkir porselen kusam. Aris ragu, namun ia mulai menyeduh teh tersebut sesuai instruksi samar yang ia temukan di catatan kakeknya. Saat air panas menyentuh daun teh, aroma tanah basah dan melati yang manis menguar, memenuhi ruangan yang dingin itu dengan kehangatan yang asing namun akrab.
Bu Ratna memejamkan mata, menghirup aromanya dalam-dalam. "Ini⦠aroma yang sama dengan yang diseduh kakekmu saat pelabuhan masih ramai dulu." Ia menatap Aris, tatapannya kini melunak. "Kau memiliki warisan di tanganmu, Aris. Jangan sia-siakan hanya karena kau takut pada angka di surat tagihan."
Saat Bu Ratna pergi, pintu kedai kembali berderit. Seorang pria paruh baya dengan topi pet lusuh melangkah masuk, langkahnya berat seolah membawa beban sejarah. Ia berhenti di ambang pintu, hidungnya mengendus udara dengan tajam. "Aku mencium aroma ini dari dermaga. Apakah kedai ini kembali dibuka?"
Aris berdiri mematung. Ia sendirian memikul beban utang besar, namun pelanggan pertama ini adalah bukti nyata bahwa kedai ini masih memiliki nilai bagi mereka yang mengenang masa lalu.