Novel

Chapter 2: Retakan di Balik Dinding Kayu

Aris mempekerjakan Dika untuk memperbaiki kerusakan struktural kedai. Saat membongkar dinding timur, mereka menemukan peta kuno yang membuktikan kedai adalah jangkar sejarah pelabuhan. Namun, momen penemuan itu terputus oleh kedatangan Baskoro, penagih utang yang memberikan tenggat waktu 30 hari sebelum kedai disita, memaksa Aris untuk membuang rencana penjualannya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Retakan di Balik Dinding Kayu

Cahaya matahari pagi yang pucat menyusup melalui kisi-kisi jendela Kedai Sari Laut, menyoroti debu yang menari di udara dan retakan panjang yang membelah dinding timur. Aris berdiri terpaku, memegang catatan kakeknya dengan jemari yang gemetar. Dinding itu bukan sekadar kayu jati tua yang dimakan usia; bagian bawahnya melengkung, menahan beban atap yang perlahan merosot akibat abrasi garam laut.

"Ini bukan sekadar rayap, Mas Aris," suara berat Dika memecah keheningan. Pria itu baru saja tiba, membawa kotak perkakas logam yang beradu dengan lantai kayu. Dika menekan ibu jarinya pada permukaan dinding yang lembap. Kayu itu mengeluarkan bunyi derit yang menyakitkan, seperti napas yang tertahan.

Aris menatap Dika dengan rahang mengeras. "Bisa diperbaiki cepat? Saya perlu tempat ini layak jual bulan depan. Saya tidak punya waktu untuk renovasi total."

Dika menatapnya dengan tatapan datar namun tajam. "Ini penyangga utama. Kalau saya sekadar menambal permukaannya, seluruh sisi timur ini bisa roboh saat angin laut kencang datang. Ini bukan soal jual atau tidak, ini soal bangunan ini masih berdiri atau tidak."

Aris menghela napas, rasa frustrasi membuncah. Ia mendekati dinding itu, mengikuti petunjuk dalam catatan kakeknya—sebuah sketsa kasar tentang 'urat nadi kedai'. Ia mengetuk kayu yang tampak lebih gelap. Suaranya tidak nyaring seperti kayu padat, melainkan hampa. Dika, yang awalnya ragu, akhirnya mengayunkan linggis dengan hati-hati. Debu beterbangan. Saat papan lapuk itu terlepas, bukan rayap yang mereka temukan, melainkan sebuah kompartemen tersembunyi.

Di dalamnya terselip sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran bunga melati yang mulai memudar. Aris menarik kotak itu keluar. Begitu tutupnya dibuka, aroma kertas tua dan sisa-sisa wangi kayu manis menyeruak, membawa memori masa kecil yang Aris coba kubur rapat-rapat. Di dalamnya terdapat peta pelabuhan kuno yang digambar tangan, lengkap dengan catatan margin tentang jalur pasang surut air laut yang krusial bagi fondasi kedai.

"Kakek tidak sekadar membangun kedai," gumam Aris, matanya menangkap detail tanda silang di lokasi kedai pada peta tersebut. "Dia membangunnya sebagai jangkar."

Baru saja Aris hendak bertanya lebih lanjut pada Dika, denting bel pintu depan berbunyi nyaring. Seorang pria berpakaian kemeja biru gelap yang disetrika kaku melangkah masuk. Ia tidak membawa tas, hanya sebuah map kulit hitam. Sepatu pantofelnya mengetuk lantai kayu dengan ritme yang sengaja dibuat mengintimidasi.

"Kedai Sari Laut. Masih beroperasi, rupanya," suara pria itu dingin, memindai interior kedai dengan tatapan menghakimi. "Saya Baskoro, utusan dari firma hukum yang menangani aset lahan pesisir."

Aris segera menutupi peta kuno itu dengan kain lap kotor, jantungnya berdegup kencang. "Kedai ini sedang dalam masa transisi. Saya tidak melayani tamu untuk urusan bisnis hari ini."

Baskoro tersenyum tipis, namun matanya tetap tajam. Ia melangkah mendekati meja bar, lalu meletakkan map kulitnya di atas permukaan kayu yang kasar. "Transisi atau tidak, utang pajak yang menumpuk di atas properti ini tidak mengenal kata kompromi, Pak Aris. Kakek Anda meninggalkan warisan, tapi juga meninggalkan beban yang cukup untuk membuat seluruh blok ini dilelang."

Pria itu membuka map, mengeluarkan lembaran surat resmi, dan meletakkannya di depan Aris. "Tiga puluh hari. Itu tenggat waktu terakhir sebelum sita eksekusi dilakukan. Jika dalam sebulan Anda tidak bisa melunasi pajak tertunggak, kedai ini akan rata dengan tanah untuk proyek pembangunan baru."

Setelah Baskoro pergi, Aris duduk sendirian di kedai yang kini terasa jauh lebih sempit. Ia menatap surat peringatan itu, lalu beralih pada brosur penjualan properti yang ia bawa dari kota. Tanpa ragu, Aris meremas brosur itu dan melemparkannya ke tempat sampah. Ia menatap dinding timur yang kini terbuka, menyadari bahwa ia tidak lagi hanya memperbaiki bangunan—ia sedang berpacu melawan waktu untuk menyelamatkan satu-satunya tempat yang bisa ia sebut rumah.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced