Aroma Teh di Ambang Kepulangan
Bau apak kayu jati tua dan sisa melati kering yang membusuk menyambut Aris saat ia mendorong pintu depan Kedai Sari Laut. Cahaya matahari sore yang tajam menerobos celah jendela, menyorot jutaan partikel debu yang menari di udara, seolah protes atas kehadirannya yang tiba-tiba. Aris tidak datang untuk menetap; ia datang untuk memastikan properti ini segera dilelang sebelum utang pajak mendiang kakeknya melilit lehernya lebih dalam.
Ia melemparkan tas punggungnya ke atas meja kayu yang permukaannya lengket oleh lapisan debu bertahun-tahun. Aris menarik napas panjang, namun aroma tanah basah dari pantai di luar sana justru terasa menyesakkan. Baginya, kedai ini hanyalah tumpukan kayu lapuk yang menghalangi kebebasannya kembali ke Jakarta. Ia merogoh saku, mengeluarkan kunci cadangan yang ia temukan di laci meja kerjanya seminggu lalu, lalu melangkah ke arah bar penyeduhan.
"Kukira kau sudah lupa jalan pulang, Aris."
Suara itu serak, datang dari sudut ruang yang remang. Aris terlonjak. Seorang wanita tua dengan kebaya lawas—Bu Ratna—tengah duduk di kursi rotan dengan punggung tegak yang kaku. Di depannya, sebuah cangkir porselen retak tampak seperti benda keramat yang ia jaga dengan nyawa.
"Ini bukan rumah, Bu Ratna. Ini hanya aset yang harus saya urus," jawab Aris dingin, mencoba mengabaikan tatapan tajam wanita itu yang seolah sedang membedah ketidaksiapannya.
"Tutup katamu?" Bu Ratna mendengus, lalu menunjuk ke arah teko tembaga yang kusam. "Kakekmu tidak pernah membiarkan teko itu mendingin saat ada orang yang membutuhkan kehangatan. Kau pewarisnya, atau sekadar orang asing yang kebetulan punya kunci?"
Aris ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia tidak berniat menjalankan kedai ini, apalagi melayani pelanggan yang cerewet. Namun, tatapan Bu Ratna yang menuntut membuatnya merasa terpojok oleh kenangan masa kecilnya sendiri. Aris menghela napas, jemarinya yang gemetar mencoba menyeka noda air tua dengan lap kasar. Ia merasa darahnya berdesir. Sinisme yang ia bawa dari kota besar tiba-tiba terasa tidak relevan di hadapan wanita tua yang menolak membiarkan memori komunitas ini hilang.
Tanpa sadar, Aris mulai bergerak. Ia mengambil air, menyalakan kompor kecil yang sudah berkarat, dan mulai melakukan ritual yang selama ini ia coba kubur dalam ingatannya. Ia menimbang daun teh melati dengan presisi yang mengejutkan dirinya sendiri, membiarkan aroma bunga yang manis namun tajam memenuhi ruangan, menyingkirkan bau apak yang tadi menyesakkan. Saat ia menuangkan teh itu ke cangkir, tangannya stabil. Bu Ratna menyesapnya perlahan, ekspresi wajahnya melunak, mengakui bahwa tangan Aris memiliki 'sentuhan' yang sama dengan mendiang kakeknya.
Setelah Bu Ratna pergi, Aris berdiri terpaku di balik meja bar. Di luar, debur ombak Laut Jawa menghantam tanggul penahan tanah dengan irama yang konsisten, pengingat akan waktu yang terus mengikis fondasi bangunan ini. Tangannya gemetar saat ia menyeka sisa air dari cangkir tersebut. Saat jemarinya menyentuh bagian dasar yang retak, ia merasakan ganjalan aneh. Sebuah potongan kertas kecil, kekuningan dan terasa rapuh seperti kulit bawang, terselip di balik lapisan porselen yang mulai terkelupas.
Dengan napas tertahan, Aris mencungkil kertas itu menggunakan ujung pisau buah. Itu bukan sekadar sisa nota belanja. Di sana, tertulis aksara tangan kakeknya yang tegas namun kini memudar: “Di balik dinding timur, tempat matahari menyentuh kayu jati pertama kali, ada warisan yang bukan untuk dijual, melainkan untuk dirawat.”
Aris menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, memecah kesunyian kedai yang selama ini ia anggap sebagai beban mati. Ia menoleh ke arah dinding kayu di sisi timur, di mana cat putihnya sudah mengelupas seperti sisik ikan yang kering. Dinding itu tidak lagi tampak seperti kayu lapuk biasa; ia menyimpan rahasia yang bisa mengubah segalanya. Namun, tepat saat ia hendak melangkah mendekati dinding tersebut, suara langkah kaki berat terdengar dari arah pintu depan, membawa ancaman nyata yang sudah ia coba hindari.