Novel

Chapter 10: Perang Tender Kedua

Aris menghadapi Tuan Besar Vanguard di sebuah klub privat, mengungkap bahwa ia telah melakukan audit paksa atas data internal Vanguard. Meskipun identitas masa lalunya terancam terbongkar, Aris tetap memegang kendali atas sistem tender besok pagi. Sementara itu, ancaman fisik dari Bram dan Vanguard tetap membayangi, memaksa Aris untuk bertaruh pada kemenangan mutlak di tender nasional.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Perang Tender Kedua

Lampu gantung kristal di ruang privat The Obsidian Club berpendar dingin, memantul di permukaan meja marmer hitam yang terasa sedingin es. Aris duduk tenang, menyesap kopi pahitnya. Di seberangnya, pria paruh baya dengan setelan jas bespoke yang tampak seperti kulit kedua—Tuan Besar dari Vanguard Capital—menatapnya dengan tatapan predator yang sudah lama tidak ia lihat.

"Kau berani datang sendiri setelah mengacaukan seluruh portofolio investasiku, Aris?" suara pria itu berat, penuh otoritas yang terasah oleh dekade kekuasaan. "Aku bisa saja melenyapkanmu di koridor rumah sakit tadi siang, tapi aku ingin melihat siapa sebenarnya yang berani bermain api dengan sistem tender nasional."

Aris tidak bergeming. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan presisi militer. "Investasimu tidak kacau, Tuan Besar. Investasimu hanya berpindah tangan. Dan kau tahu betul, di dunia ini, aset hanya milik mereka yang cukup kompeten untuk menjaganya."

Pria itu tertawa, suara yang lebih mirip geraman. Ia memberi isyarat, dan dua pengawal bertubuh kekar melangkah maju. "Keberanianmu adalah komoditas murah. Tapi di sini, nyawamu tidak lebih berharga dari dokumen tender yang kau curi itu."

Aris tersenyum tipis. Ia mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di tengah meja. Layar ponsel itu menampilkan barisan kode enkripsi yang bergerak cepat. "Data internal Vanguard yang sedang mengalir ke server publik saat ini adalah bukti nyata bahwa aku tidak mencuri, aku sedang melakukan audit paksa. Jika kau menyentuhku, sistem itu akan terkirim otomatis ke otoritas tender besok pagi. Kau bukan sedang berhadapan dengan menantu parasit, kau berhadapan dengan seseorang yang membangun sistem yang kau gunakan untuk menindas orang lain."

Wajah Tuan Besar itu membeku. Sesaat, topeng otoritasnya retak. "Aku tahu siapa kau sebenarnya, Aris. Kita pernah bertemu di medan yang jauh lebih berdarah dari sekadar ruang tender Jakarta."

Aris merasakan detak jantungnya stabil. Identitasnya telah terbuka, namun ia tidak lagi merasa terpojok. Ia justru merasa bebas.

*

Kembali ke ruang kerja utama PT Dirgantara Jaya, suasana jauh dari kata tenang. Cahaya lampu neon menyoroti tumpukan dokumen tender. Maya berdiri di dekat jendela, wajahnya pucat namun matanya tajam menuntut kejelasan. Aris baru saja melangkah masuk, membawa ketegangan yang ia bawa dari klub.

"Mereka tidak hanya akan menyerang sistem digital kita," ujar Maya, suaranya bergetar. "Bram terlihat di dekat gudang distribusi pagi tadi. Jika mereka melakukan sabotase fisik, sistem pertahanan digital yang kau bangun akan sia-sia."

Aris mendekati meja, meletakkan tablet yang berisi struktur kepemilikan bayangan Vanguard. "Bram hanyalah pion. Dia mencoba mencari harga diri yang sudah lama hilang. Masalah sebenarnya adalah Tuan Besar yang kini tahu siapa aku. Tapi itu justru keunggulan kita. Dia terpaksa bermain sesuai aturan karena dia takut rahasia masa lalunya terekspos bersamaan dengan data tender yang sudah kupersiapkan."

Maya menatap dokumen itu, menyadari bahwa suaminya bukan lagi pria yang ia kenal. Aris adalah arsitek dari kejatuhan musuh-musuh mereka. "Kau sudah mengunci sistemnya?"

"Sudah. Besok pagi, saat tender dimulai, Vanguard akan terjebak dalam sistem mereka sendiri," jawab Aris dingin.

*

Di ruang kontrol server, Aris bekerja dalam kesunyian total. Jemarinya menari di atas tuts mekanis. Di depannya, monitor menampilkan aliran data terenkripsi—serangan brute-force tingkat tinggi dari Vanguard Capital.

"Mencoba masuk melalui pintu belakang?" gumam Aris. Ia tidak memutus koneksi. Justru, ia membuka gerbang lebar-lebar. Monitor berubah menjadi lautan kode yang terurai. Catatan transaksi ilegal, daftar suap pejabat, dan bukti sabotase tender Vanguard kini tersedot keluar, bersiap untuk diunggah secara publik ke server otoritas tender.

Namun, tepat saat proses transfer mencapai sembilan puluh persen, sebuah notifikasi muncul di layar. Itu bukan pesan dari sistem, melainkan pesan pribadi yang dikirim langsung ke terminal Aris: ‘Aku tahu apa yang kau cari, Aris. Tapi apakah kau siap jika istrimu tahu apa yang sebenarnya kau lakukan di masa lalu?’

Aris menatap layar dengan dingin. Pertarungan besok bukan lagi sekadar tender, melainkan pertaruhan identitas yang akan menghancurkan segalanya jika ia tidak menang mutlak.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced