Novel

Chapter 9: Bayang-bayang di Atas Tahta

Aris mengonsolidasikan kekuasaannya di PT Dirgantara Jaya dengan memaksa keluarga besar menyerahkan kendali aset sebagai syarat perlindungan dari Vanguard Capital. Setelah melumpuhkan eksekutor fisik Vanguard, Aris memasang jebakan digital pada sistem tender, memposisikan dirinya sebagai satu-satunya pelindung perusahaan sekaligus penguasa baru di balik layar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bayang-bayang di Atas Tahta

Ruang rapat PT Dirgantara Jaya terasa seperti ruang tunggu eksekusi. Aroma kopi dingin bercampur dengan keringat dingin para direktur. Bram telah diusir, namun kepergiannya meninggalkan lubang finansial yang menganga. Vanguard Capital tidak lagi bermain halus; mereka mulai melikuidasi aset pribadi para pemegang saham sebagai kompensasi atas tender yang gagal.

"Ini gila," desis Pak Surya, paman Maya, sambil membanting berkas ancaman hukum ke meja mahoni. "Vanguard memberi kita waktu empat puluh delapan jam. Jika kita tidak menutup defisit ini, rumah dan properti pribadi kita akan disita."

Maya duduk di ujung meja, wajahnya pucat pasi. Ia menatap Aris yang berdiri di sudut ruangan. Aris tidak lagi tampak seperti menantu parasit yang biasa mereka hina. Ia adalah satu-satunya orang di ruangan itu yang memegang kunci enkripsi sistem keamanan perusahaan—kunci yang kini menjadi satu-satunya pelindung aset mereka dari peretasan Vanguard.

"Aris," suara Maya memecah kesunyian, sarat dengan nada memohon. "Kau tahu Vanguard tidak akan berhenti. Mereka punya eksekutor di luar sana. Apa yang harus kita lakukan?"

Aris melangkah maju, meletakkan tablet di atas meja. Layar itu menampilkan pergerakan aset yang telah disita Vanguard dari direktur lain yang berkhianat. "Kalian tidak butuh keberuntungan. Kalian butuh seseorang yang tahu cara memotong leher musuh sebelum mereka sempat menarik pelatuk. Serahkan kendali penuh atas pertahanan aset kepada saya, atau saksikan kekayaan kalian lenyap sebelum matahari terbit besok."

*

Lampu neon di parkiran basement berkedip. Aris melangkah dengan tenang, namun telinganya menangkap frekuensi yang tidak wajar—gesekan sol sepatu di beton. Ia berhenti tepat di depan sedan hitamnya. Tanpa menoleh, Aris berbicara datar, "Kalian terlalu berisik untuk ukuran eksekutor bayaran."

Dua sosok pria berjas gelap muncul dari kegelapan. Salah satu dari mereka, pria dengan bekas luka di pelipis, mengeluarkan belati lipat. "Aris, kau sudah mengacaukan kesepakatan yang lebih besar dari nyawamu. Serahkan enkripsi akses tender itu, atau kami akan memotong tanganmu di sini."

Aris tidak bergeming. Saat pria itu menerjang, Aris bergerak secepat kilat. Ia masuk ke ruang kosong pertahanan lawannya, memutar pergelangan tangan sang eksekutor dengan satu sentakan presisi, lalu menghantamkan tengkuk pria itu ke kap mobil. Dalam hitungan detik, ia mencengkeram kerah baju pria yang tersungkur itu. "Katakan pada atasanmu, Vanguard hanyalah pion. Siapa yang memerintahkan kalian?"

"Tuan besar... dari balik layar lelang... dia tahu siapa kau sebenarnya," rintih pria itu sebelum pingsan.

*

Aris kembali ke ruang server rahasia. Cahaya biru monitor memantul tajam di wajahnya. "Ini bukan sekadar pertahanan, Maya," ucapnya sambil memasukkan perintah terakhir. "Ini jebakan. Siapa pun yang mencoba menyentuh file tender besok, sistem ini akan melacak balik koordinat mereka dan mengirimkan bukti penggelapan pajak langsung ke meja otoritas pasar modal."

Maya menatap layar dengan napas tertahan. Ia melihat Aris bukan lagi sebagai menantu yang tidak berguna, melainkan sebagai mesin perang yang selama ini ia sia-siakan. "Bram sudah diusir, tapi mereka masih punya akses ke dewan direksi. Jika mereka tahu kau melakukan ini, mereka akan membunuhmu."

"Biarkan mereka mencoba," jawab Aris dingin. "Sistem ini kini terkunci. Tidak ada yang bisa mengaksesnya kecuali saya, sampai detik tender dimulai."

*

Pagi hari tiba. Ruang tunggu VIP PT Dirgantara Jaya dipenuhi oleh keluarga besar yang dulu menghina Aris. Mereka kini berdiri dengan bahu merosot, menatap tumpukan dokumen likuidasi yang baru saja dikirim oleh Vanguard Capital.

"Aris, tolong... kami tidak punya pilihan lain," suara Pak Surya terdengar parau. Ia tidak lagi menatap Aris dengan tatapan merendahkan. Matanya hanya menyisakan kepanikan seorang pria yang baru menyadari bahwa fondasi bisnisnya telah retak hingga ke akar.

Aris menyesap kopi hitamnya, membiarkan ketegangan itu menekan dada mereka. "Kalian tidak punya pilihan, atau kalian baru sadar bahwa pilihan kalian selama ini adalah kesalahan fatal?"

Maya berdiri di samping Aris, tangannya gemetar namun matanya menatap tajam ke arah keluarganya. "Kami akan melakukan apa saja," potong Tante Ratna, suaranya pecah. "Sebutkan syaratmu, Aris. Kami akan menyerahkan kendali penuh perusahaan kepada kalian."

Aris berdiri, memandang mereka satu per satu dengan tatapan yang membuat mereka menunduk. Hierarki telah terbalik. Kini, ia bukan lagi menantu yang menumpang hidup, melainkan tuan yang memegang nasib mereka di telapak tangannya, tepat sebelum ia melangkah menuju konfrontasi terakhir dengan musuh yang mengenal identitas aslinya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced