Novel

Chapter 8: Di Ambang Kejatuhan Bram

Aris berhasil mengusir Bram dari perusahaan melalui bukti penggelapan pajak yang tak terbantahkan. Setelah menghadapi upaya pembunuhan oleh eksekutor Vanguard Capital, Aris mengungkapkan identitas aslinya kepada Maya sebagai pelindung strategis. Bab ini berakhir dengan Aris yang telah menyiapkan jebakan digital untuk Vanguard, sementara ancaman fisik dari musuh utama semakin nyata.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Di Ambang Kejatuhan Bram

Ruang rapat PT Dirgantara Jaya tidak lagi berbau kopi mahal; aromanya kini tajam oleh keringat dingin dan kepanikan yang tertahan. Aris berdiri di depan meja mahoni, menatap Bram yang duduk di ujung meja dengan jemari gemetar. Di hadapan para direktur, Aris meletakkan tablet yang menampilkan alur transaksi ilegal—sebuah jembatan finansial yang menghubungkan rekening pribadi Bram dengan Vanguard Capital.

"Waktumu habis, Bram," suara Aris memecah kesunyian. Dingin, datar, tanpa nada kemenangan yang berlebihan. Ia tidak butuh bualan. Ia hanya butuh fakta.

Maya, yang duduk di kursi utama, menatap layar itu dengan mata membelalak. Data tersebut bukan sekadar tuduhan; itu adalah daftar pengkhianatan yang sistematis. "Jelaskan ini, Bram," tuntut Maya. Suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang baru saja menemukan sasarannya.

Bram bangkit dengan kasar, kursinya terpelanting ke belakang. "Ini fitnah! Aris hanya parasit yang mencoba mencuri posisiku dengan data palsu!" teriaknya. Ia mencoba meraih tablet itu, namun Aris bergerak lebih cepat. Dengan satu cengkeraman presisi pada pergelangan tangan Bram, Aris menahannya. Tidak ada perkelahian, hanya dominasi fisik yang mutlak.

"Data ini terenkripsi langsung dari server pusat yang kau curangi," bisik Aris tepat di depan wajah Bram. "Dewan tidak butuh penjelasanmu. Mereka butuh pengusiranmu."

Dalam hitungan menit, petugas keamanan menyeret Bram keluar. Saat melewati Aris, Bram berhenti sejenak, wajahnya yang pucat berubah menjadi seringai penuh dendam. "Kau pikir ini akhir, Aris? Kau tidak akan selamat melewati malam ini."

Aris tidak membalas. Ia tahu ancaman itu nyata. Saat ia melangkah keluar menuju parkiran bawah tanah, instingnya menangkap pergerakan di balik pilar beton. Dua pria berbadan tegap muncul, memegang pipa besi. Mereka bukan preman bayaran biasa; mereka adalah eksekutor profesional.

Tanpa peringatan, serangan dimulai. Aris merunduk tipis, memutar tubuh, dan menghantamkan siku ke ulu hati penyerang pertama. Dalam tiga gerakan efisien, kedua pria itu terkapar. Aris menekan leher salah satu penyerang ke kap mobil. "Siapa yang mengirim kalian? Vanguard?"

"Mereka... mereka tidak akan membiarkanmu mengacaukan tender besok," pria itu tercekik.

Aris melepaskannya dengan jijik. Ia menyadari Bram hanyalah pion yang dibuang. Vanguard Capital adalah musuh yang jauh lebih berbahaya yang kini mengincar nyawanya secara langsung.

Kembali ke ruang kerjanya, Maya menunggu. Ia tidak lagi menatap Aris sebagai menantu yang tidak berguna. "Siapa kau sebenarnya, Aris? Kemampuanmu, data itu... ini bukan kemampuan orang biasa."

Aris menyodorkan folder fisik berisi konspirasi Vanguard. "Bram hanyalah pion. Vanguard ingin menghancurkan sisa aset keluarga ini. Jika kau ingin bertahan, kau harus memilih: tetap menganggapku parasit, atau menjadikanku pelindungmu."

Maya terdiam, menatap tumpukan bukti yang mengancam eksistensi perusahaannya. Ia menyadari satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia percayai adalah pria yang selama ini ia remehkan.

Malam itu, di apartemennya, Aris menatap layar monitor. Ia telah memodifikasi akses keamanan perusahaan menjadi bom waktu digital yang akan mengunci aset Vanguard saat tender besok pagi. Ponselnya bergetar. Pesan singkat muncul: 'Kau baru saja membuka pintu neraka, Aris.'

Aris mematikan layar dengan dingin. Ia tahu, saat matahari terbit besok, keluarga mertuanya akan datang berlutut, memohon perlindungan saat mereka menyadari bahwa hanya ia yang berdiri di antara mereka dan kehancuran total.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced