Serangan Balik yang Terukur
Ruang kerja di kediaman Wiradiningrat terasa menyesakkan. Di atas meja mahoni, tablet Aris menampilkan grafik pergerakan saham Vanguard Capital yang kini terkunci rapat di bawah kendalinya. Maya berdiri mematung di dekat jendela, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca yang gelap. Di tangannya, ia memegang salinan dokumen operasional yang ia temukan di brankas digital Aris—sebuah profil yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang menantu yang selama tiga tahun hanya dianggap sebagai pelayan keluarga.
"Siapa kau sebenarnya?" suara Maya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena guncangan identitas. "Ini bukan profil seorang pria yang menghabiskan waktu di dapur. Ini profil seorang analis strategis global yang pernah mengendalikan aset negara."
Aris melangkah masuk, meletakkan segelas air hangat di meja. Ia tidak mencoba menyembunyikan tabletnya. "Aku adalah pria yang kau nikahi untuk menutupi rasa malu keluargamu, Maya. Tapi hari ini, aku adalah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan perusahaanmu dari likuidasi paksa Vanguard Capital."
Aris menatap Maya dengan tatapan dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Bram sedang menjual perusahaanmu. Bukti penggelapan pajaknya ada di sini. Jika kau mendukungku di rapat dewan besok, kita akan membalikkan keadaan. Jika tidak, perusahaan ini akan jatuh ke tangan mereka sebelum matahari terbenam."
Maya menatap mata Aris. Tidak ada keraguan di sana, hanya ketenangan seorang komandan yang sedang menilai medan perang. Maya mengangguk pelan. Sebuah kesepakatan diam-diam telah terjalin.
*
Pukul dua pagi. Ruang server kantor pusat PT Dirgantara Jaya berdengung, suara kipas pendingin terdengar seperti napas berat di tengah keheningan. Aris berdiri di balik pilar, memantau layar monitor. Di ujung lorong, Bram melangkah masuk dengan tergesa-gesa, diikuti oleh seorang staf IT yang tampak pucat.
"Cepat, hapus semua log transaksi tender dalam dua jam terakhir!" desak Bram. "Jika bukti aliran dana ke Vanguard Capital itu sampai ke meja dewan besok pagi, kita berdua tamat."
Aris menyipitkan mata. Ia telah membiarkan akses sistem terbuka, sengaja menaruh umpan berupa data palsu yang terlihat seperti bukti sabotase nyata, namun sebenarnya adalah jebakan digital yang akan melacak setiap sidik jari akses Bram. Saat layar monitor menunjukkan proses penghapusan data sedang berlangsung, Aris menekan satu tombol di tabletnya.
Klik.
Pintu ruang server terkunci rapat secara otomatis. Sistem keamanan mengambil alih, mengisolasi Bram di dalam ruang server yang kini menjadi penjara digitalnya sendiri. Akses Bram ke seluruh aset perusahaan terputus total. Aris berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Bram yang mulai menggedor pintu dengan panik.
*
Ruang rapat utama PT Dirgantara Jaya dipenuhi ketegangan. Bau kopi mahal dan parfum desainer beradu dengan udara dingin yang menusuk. Bram, yang baru saja dibebaskan dari ruang server, berdiri di ujung meja dengan senyum kemenangan yang dipaksakan, berusaha menutupi keringat dingin di pelipisnya.
"Keputusan ini mutlak," suara Bram menggema. "Vanguard Capital adalah mitra strategis terbaik. Jika Maya tidak segera menandatangani pengalihan aset ini, perusahaan akan menghadapi likuidasi paksa dalam hitungan jam."
Maya duduk di sisi lain, wajahnya tenang. Aris berdiri di sampingnya, tangannya terlipat di depan dada. Ia tampak seperti bayang-bayang yang tidak berbahaya, namun ketenangannya adalah badai yang sedang menunggu waktu.
"Benarkah itu, Bram?" suara Aris memecah keheningan. Nadanya dingin dan tidak menyisakan ruang untuk keraguan.
Bram tertawa sinis. "Kau tidak punya tempat di sini, Sampah. Keluar sebelum aku memanggil keamanan."
Aris tidak bergeming. Ia melangkah maju, meletakkan tabletnya di atas meja kayu solid. Dengan satu ketukan halus, layar proyektor besar di belakang Bram menyala. Bukan grafik laba yang muncul, melainkan daftar lengkap transaksi ilegal, catatan pajak yang dipalsukan, dan bukti transfer dari Vanguard Capital ke rekening pribadi Bram.
"Ini adalah bukti penggelapan pajak yang kau lakukan selama tiga tahun terakhir, Bram. Dan ini," Aris menunjuk rekaman suara Bram yang mengakui sabotase tender, "adalah alasan mengapa kau tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di kantor ini."
Keheningan menyelimuti ruangan. Dewan direksi terperangah. Bram pucat pasi, mulutnya terbuka namun tak ada kata yang keluar. Aris telah membalikkan keadaan dengan presisi yang mematikan. Bram diusir dari kantor pusat di bawah pengawalan keamanan, namun saat ia melewati Aris, ia berbisik dengan suara rendah yang penuh kebencian, "Kau pikir ini selesai? Kau tidak akan selamat melewati malam ini, Aris."