Novel

Chapter 6: Ujian Loyalitas Maya

Aris berhasil memblokir serangan siber dari Vanguard Capital sambil meyakinkan Maya tentang sabotase Bram. Maya secara tidak sengaja menemukan bukti masa lalu Aris yang menunjukkan bahwa suaminya adalah sosok berpengaruh, memicu krisis kepercayaan sekaligus ketertarikan baru. Aris menegaskan posisinya dan bersiap untuk menghancurkan reputasi Bram di depan dewan direksi besok pagi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Ujian Loyalitas Maya

Layar monitor di ruang kerja Aris memancarkan pendar biru redup, menampilkan deretan kode enkripsi yang bergerak agresif. Di luar, rumah keluarga tampak tenang, namun di balik layar, Aris sedang menangkis serangan siber masif dari Vanguard Capital. Mereka mencoba membobol pertahanan akun utama perusahaan—upaya likuidasi aset sistematis untuk melumpuhkan posisi tawar Maya tepat sebelum tender besok pagi.

Aris tidak panik. Jemarinya menari di atas keyboard dengan ritme yang dingin. Ia tidak sekadar menangkis; ia membalikkan aliran data tersebut, melacak jejak enkripsi hingga ke sebuah server cangkang di distrik keuangan—milik kaki tangan Bram. Aris menyuntikkan log aktivitas palsu yang menjebak sistem Vanguard dalam putaran verifikasi tanpa ujung. Ia baru saja mengunci akses mereka ketika pintu ruang kerjanya terbuka pelan. Maya berdiri di sana, wajahnya pucat, memegang sebuah amplop dokumen.

"Data ini tidak akan selesai jika kau terus meragukan angka-angkanya," suara Aris datar, memotong keheningan saat ia keluar menuju ruang makan. Ia meletakkan segelas air di samping berkas tender yang berantakan di depan Maya. "Bram sengaja mengacaukan alur distribusi agar margin keuntungan terlihat tipis. Dia ingin kau menyerah sebelum tender besok pagi."

Maya mendongak, matanya menyipit penuh frustrasi. "Berhenti bicara seolah kau tahu segalanya, Aris. Bram sudah mengelola ini selama bertahun-tahun. Kau hanya pengamat di rumah ini."

Aris tidak bergeming. Ia menarik kursi di seberang Maya, mengambil tumpukan dokumen itu, dan memisahkan lembar laporan keuangan yang telah dimanipulasi. "Lihat kolom ini. Pengeluaran logistik melonjak tiga puluh persen dalam dua minggu. Ini bukan efisiensi, ini sabotase sistematis untuk menekan likuiditas sebelum Vanguard Capital masuk dengan akuisisi paksa." Maya terdiam, membandingkan data itu dengan catatan internalnya. Ketajaman Aris bukan lagi sebuah kebetulan; itu adalah ancaman bagi persepsi lamanya.

Saat Aris pergi ke kamar mandi, Maya mencoba mencari dokumen cadangan di meja kerja suaminya. Tangannya tidak sengaja menyenggol laptop Aris yang terbuka. Sebuah folder berjudul 'ARSIP-V' terpampang di layar. Rasa penasaran yang selama ini ditekan mendesak untuk keluar. Maya mengeklik folder tersebut, dan napasnya tercekat.

Itu bukan foto Aris yang ia kenal—bukan pria yang sering ia suruh menunduk saat dimaki keluarga besar. Layar itu menampilkan Aris dengan seragam taktis yang tajam, berdiri di tengah deretan pria bersenjata di pusat komando militer, dikelilingi tokoh-tokoh berpengaruh dunia bisnis global. Maya memundurkan kursinya, jantungnya berdegup kencang. Pernikahan ini, pria ini, adalah kebohongan besar.

Pintu kamar mandi terbuka. Aris keluar dengan handuk melilit pinggang, matanya langsung tertuju pada Maya yang terpaku menatap layar laptopnya. Aris tidak bergegas menutupnya. Ia berjalan mendekat dengan langkah tenang, dingin, dan tanpa rasa gugup. Ia berdiri tepat di hadapan Maya, memaksanya mendongak.

"Kau sudah melihatnya," suara Aris datar. "Itu bukan masa lalu yang kusembunyikan untuk menipumu. Itu adalah sisa hidup yang kupilih untuk kutinggalkan demi pernikahan ini. Sayangnya, keluargamu dan Bram tidak membiarkanku hidup tenang."

Maya gemetar. "Aris... siapa kau sebenarnya? Bram bilang kau hanya pria yang beruntung bisa menikah denganku."

Aris tertawa kecil, suara rendah yang tidak mengandung humor. Ia menutup laptop itu dengan satu gerakan tegas. "Bram adalah pion yang terlalu percaya diri. Besok, di depan dewan direksi, aku akan membeberkan bukti penggelapan pajaknya tepat saat dia hendak mengumumkan kemenangan tendernya. Dan kau, Maya, harus memutuskan: apakah kau akan tetap berdiri di samping pion yang akan hancur, atau kau akan melihatku menghancurkannya sampai ke akar-akarnya?"

Maya menatap mata suaminya, menemukan sebuah otoritas yang selama ini terkubur dalam-dalam—sebuah ancaman sekaligus perlindungan yang kini terasa sangat nyata.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced