Novel

Chapter 11: Puncak Pertaruhan

Aris berhasil menjebak Bram di ruang server dan mengamankan bukti sabotase, kemudian memenangkan tender nasional dengan merilis data ilegal Vanguard di depan publik, sekaligus mengukuhkan aliansi strategis dengan Maya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Puncak Pertaruhan

Lampu indikator di ruang server PT Dirgantara Jaya berpendar biru dingin, membelah kegelapan ruang kedap suara. Aris berdiri di depan konsol utama, jemarinya bergerak di atas keyboard dengan ritme yang presisi. Di luar, koridor kantor yang biasanya hiruk-pikuk kini mati, menyisakan kesunyian yang menekan. Sensor gerak di sudut ruangan berkedip merah. Aris tidak menoleh; ia sudah mendengar derap langkah berat yang mendekat.

Bram muncul dari balik rak server, napasnya memburu, wajahnya pucat namun matanya berkilat penuh kebencian. Ia menggenggam flash drive—perangkat perusak yang dirancang untuk melumpuhkan sistem tender dari dalam.

"Kau pikir kau bisa menahan posisimu selamanya, Aris?" desis Bram. "Tuan Besar Vanguard sudah tidak sabar. Begitu file ini masuk ke server, tender ini akan hancur, dan kau akan kembali menjadi sampah yang tak diinginkan siapa pun."

Aris berbalik perlahan. Ia tidak membela diri, tidak memohon. Dengan satu sentuhan tombol, pintu ruang server yang diperkuat magnetik terkunci rapat, menjebak Bram dalam ruang kedap suara. Aris memegang bukti sabotase fisik itu di tangannya—kartu as yang akan menghancurkan kredibilitas Bram selamanya.

Di ruang kerja utama, Maya menunggunya. Aroma kopi pahit dan kertas tua menyambut Aris. Maya tidak lagi menatapnya dengan keraguan. "Bram mengirim ancaman, Aris. Dia mengklaim memiliki bukti keterlibatanmu dalam peretasan masa lalu," suara Maya bergetar, namun ia tidak mundur. "Jika ini benar, perusahaan akan hancur."

Aris meletakkan tablet kendali di atas meja mahoni. "Bram tidak punya bukti, Maya. Dia hanya punya kepanikan. Dia mencoba memerasmu agar kau menyerahkan kursi direksi kembali padanya." Aris meraih tangan Maya, menatapnya tajam. "Ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan perusahaan. Berdiri di sampingku, atau kita akan kehilangan segalanya malam ini."

Maya menatap mata Aris yang dingin dan penuh tekad. Akhirnya, ia mengangguk mantap, menggenggam tangan suaminya dengan erat. Aliansi itu kini resmi; menantu yang dulu dianggap tak berguna kini memegang kendali penuh.

Keesokan paginya, Ruang Lelang Nasional dipenuhi aroma karpet mewah dan parfum mahal yang menyesakkan. Tuan Besar Vanguard duduk di barisan depan, matanya menatap Aris dengan seringai predator. "Ingat, Aris," bisiknya saat mereka berpapasan di lorong. "Satu langkah salah, dan identitas aslimu akan menjadi berita utama. Kau tidak ingin kembali ke selokan, bukan?"

Aris tidak menoleh. "Palu lelang tidak peduli pada masa lalu, Tuan. Ia hanya peduli pada siapa yang memegang kendali saat ini."

Saat lelang dimulai, Vanguard Capital membuka penawaran dengan angka fantastis, mencoba mendominasi. Aris tetap tenang. Ia menatap layar monitor yang terintegrasi dengan server Vanguard. Saat harga mencapai puncaknya, Aris menekan satu perintah. Data internal yang ia audit—bukti penggelapan pajak dan kolusi ilegal Vanguard—mengalir masuk ke layar utama. Bunyi alarm sistem keamanan gedung berderit, memecah ketenangan lelang. Harga saham Vanguard terjun bebas dalam hitungan detik.

Aris memenangkan tender dengan margin tipis, namun kemenangan itu mutlak. Di lobi gedung, ia menatap cakrawala kota yang luas. Sebuah pesan anonim masuk ke ponselnya: 'Kau menang hari ini, tapi permainan baru saja dimulai.' Aris tahu, Vanguard hanyalah pion. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan ia siap menghadapi badai yang lebih besar.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced