Permainan Angka yang Curang
Ruang rapat direksi itu membeku. Aris meletakkan map biru tua di atas meja mahoni, suaranya nyaris tak terdengar, namun dampaknya seperti dentuman palu hakim. Hendra, yang mengenakan setelan jas seharga gaji tahunan staf magang, menatap map itu dengan tatapan jijik, seolah-olah itu adalah kotoran di sepatunya.
"Kau pikir dokumen sampah ini bisa menutupi ketidakmampuanmu, Aris?" Hendra tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam. Ia membiarkan map itu tergeletak di sana sebagai simbol hinaan bagi status Aris sebagai menantu yang tidak dianggap. "Direksi sedang menunggu bukti otentik, bukan tumpukan kertas hasil cetakan printer rumah yang kau manipulasi."
Maya, yang duduk di samping Hendra, memalingkan wajah. Ada guratan lelah di matanya—sebuah percampuran antara malu dan frustrasi yang sudah ia simpan bertahun-tahun. Aris tetap diam. Ia tidak butuh pembelaan diri. Hendra butuh kemenangan ini untuk menutup lubang besar dalam neraca keuangan perusahaan akibat korupsi internalnya. Ia butuh kambing hitam, dan Aris adalah target yang paling mudah.
"Tuan-tuan, perhatikan ini," Hendra berdiri, mengambil map yang tadi diletakkan Aris dengan gerakan angkuh, lalu menyerahkannya kepada Ketua Dewan Direksi. "Ini adalah bukti tender yang asli. Aris mencoba mencuri dokumen ini untuk memeras saya, namun saya berhasil mengamankannya tepat waktu."
Saat Ketua Dewan mulai membalik halaman-halaman tersebut, Aris tidak menunggu. Ia menggeser tablet digital ke tengah meja. "Halaman empat puluh dua, Paman," suara Aris memecah kesunyian dengan nada datar yang menusuk. "Nilai material semen yang kau ajukan melampaui harga pasar sebesar empat puluh persen. Dan di lampiran itu, kau mencantumkan vendor fiktif yang baru terdaftar dua minggu lalu di alamat yang sama dengan perusahaan cangkang milikmu."
Wajah Hendra memucat seketika. Kepercayaan diri yang tadi terpancar lenyap, digantikan oleh keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya. Ketua Dewan Direksi menghentikan langkahnya, matanya membelalak saat membandingkan angka di dokumen fisik dengan data real-time di tablet Aris. Retakan pada hegemoni Hendra mulai terlihat jelas di mata para direktur lainnya.
Pasca rapat, suasana koridor kantor terasa mencekam. Hendra menarik lengan Aris ke sudut yang tersembunyi dari kamera CCTV. "Kau pikir kau siapa, Aris?" desisnya, sarat dengan ancaman. "Jika kau berani membuka mulut satu kali lagi, aku akan memastikan Maya kehilangan posisinya sebagai direktur besok pagi. Dan kau akan diusir dari rumah tanpa membawa apa pun."
Aris tidak bergeming. Ia merapikan jasnya dengan tenang. "Saya hanya memastikan kebenaran, Paman. Dan setiap ancaman yang kau berikan hari ini, akan saya balas dengan kerugian yang jauh lebih besar bagi kantongmu."
Aris meninggalkan Hendra yang gemetar menahan amarah dan ketakutan. Tak lama kemudian, di lobi kantor, Aris mengirimkan lampiran audit internal kepada Pak Wijaya, investor utama proyek pesisir. Pak Wijaya melangkah masuk dengan wajah merah padam, langsung mendobrak ruang rapat utama. "Hendra! Apa maksud dari angka-angka sampah ini?" teriaknya sambil melempar tablet ke meja.
Hendra tertegun. Saat ia menunduk melihat salinan tender di tangannya, matanya membelalak. Ia baru menyadari bahwa dokumen yang ia pegang bukanlah dokumen asli, melainkan salinan yang telah dimodifikasi Aris dengan data jebakan yang sempurna. Kebohongannya kini bukan sekadar rahasia, melainkan bukti otentik yang akan menghancurkannya.