Kursi Paling Ujung di Ruang Rapat
Cahaya matahari sore menembus dinding kaca ruang rapat di lantai 42, menyinari debu yang beterbangan di atas meja mahoni panjang. Aris duduk di kursi paling ujung, posisi yang secara sengaja menempatkannya jauh dari pusat kekuasaan. Di hadapannya, Hendra—paman mertuanya—mengetukkan pulpen perak ke atas tumpukan dokumen tender proyek revitalisasi pesisir dengan ritme yang menghina.
"Keluarga sudah menaruh kepercayaan besar pada proyek ini," suara Hendra berat, memenuhi ruangan yang dingin itu. "Namun, kita kehilangan dokumen kalkulasi biaya utama pagi ini. Keamanan sistem kita tidak mungkin ditembus oleh orang luar. Jadi, mari kita bicara tentang orang dalam yang tidak kompeten."
Tatapan Hendra tertuju tajam pada Aris. Maya, istrinya, duduk di sisi kanan Hendra. Wajahnya pucat, jemarinya terkunci erat di bawah meja. Ia tidak menatap Aris, seolah-olah pengakuan akan keberadaan suaminya di ruangan itu adalah sebuah aib yang harus disembunyikan dari direksi lain.
"Aris, kau yang terakhir memegang akses ke server pusat semalam," lanjut Hendra dengan senyum tipis yang tidak menyentuh matanya. "Sebagai menantu yang hanya duduk manis di perusahaan ini, mungkin kau merasa perlu melakukan sesuatu yang 'berarti' untuk menarik perhatian?"
Gelak tawa tertahan terdengar dari sudut ruangan. Direksi lain saling berbisik, menatap Aris dengan tatapan merendahkan yang sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun, Aris tidak menunduk. Suaranya tenang, datar, dan tidak menunjukkan sedikit pun kegugupan yang diharapkan Hendra.
"Aku tidak mengambilnya, Paman," jawab Aris. "Dan jika Paman mencari dokumen fisik yang berisi spesifikasi material yang disepakati bulan lalu, aku khawatir Paman akan kesulitan menemukannya di brankas kantor. Karena dokumen itu sudah tidak ada di sana sejak dua hari yang lalu."
Hendra tertawa pendek, suara yang terdengar seperti gesekan amplas. "Berani-beraninya kau memutarbalikkan fakta? Kau pikir dengan menuduh sistem kita, kau bisa menutupi kecerobohanmu?"
"Ini bukan tuduhan, ini data," sahut Aris. Ia memaparkan detail teknis tentang proyek tersebut—data yang seharusnya hanya diketahui oleh tim inti. Ruangan itu mendadak hening. Hendra terdiam sejenak, terkejut oleh kedalaman data yang dimiliki Aris, namun segera menutupinya dengan tawa meremehkan untuk memulihkan wibawanya di depan direksi.
"Cukup!" teriak Hendra. "Hilangnya draf akhir tender pesisir bukan masalah sepele, Aris. Investasi keluarga kita mencapai ratusan miliar. Jika kau tidak bisa menjelaskan ke mana dokumen fisik itu pergi, kurasa kursi itu memang sudah terlalu nyaman bagimu. Aku akan memanggil polisi untuk menggeledah barang pribadimu."
Maya akhirnya mendongak, matanya berkaca-kaca, terjepit di antara tuntutan profesional ayahnya dan kehadiran suaminya. "Aris, katakan saja jika kau memang melakukan kesalahan. Mungkin kita bisa mencari jalan keluar sebelum polisi datang," bisiknya lirih.
Aris menatap istrinya, lalu beralih ke Hendra yang sudah berdiri, siap untuk mengusirnya. Aris menyadari bahwa Hendra sendiri yang sebenarnya telah memalsukan dokumen tender untuk menutupi korupsi internal. Jika ia mengungkapnya sekarang, ia akan memenangkan pertempuran ini, namun ia akan kehilangan elemen kejutan untuk perang yang lebih besar di masa depan.
Namun, penghinaan ini sudah melampaui batas. Aris bangkit dari kursi ujungnya. Dengan gerakan yang sangat terkendali, ia berjalan mendekati meja utama. Ruang rapat itu terasa semakin sempit. Dua belas pasang mata direksi tertuju padanya, menunggu Aris diusir dengan memalukan.
"Serahkan kunci aksesmu sekarang juga," lanjut Hendra, suaranya tajam seperti silet. "Kau sudah mempermalukan keluarga ini cukup lama. Keluar dari ruangan ini, dan jangan pernah kembali ke kantor pusat."
Aris tidak beranjak. Ia tidak terlihat gemetar atau memohon. Sebaliknya, ia perlahan menyandarkan punggungnya ke meja, lalu mengeluarkan sebuah map dokumen dari balik jasnya. Ia meletakkan dokumen tender itu di atas meja, tepat saat Hendra tertawa meremehkannya, menciptakan keheningan yang mencekam di seluruh ruangan.