Novel

Chapter 3: Palun Lelang yang Mengguncang

Aris membongkar skandal tender Hendra di depan investor utama, Pak Wijaya, dengan menyajikan dokumen audit asli yang menjebak Hendra. Pak Wijaya membatalkan dukungan finansialnya, menghancurkan posisi Hendra. Aris menolak tawaran posisi dari investor untuk tetap fokus pada perebutan kendali internal keluarga, namun ia menerima ancaman anonim yang mengindikasikan keterlibatan sindikat yang lebih luas.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Palun Lelang yang Mengguncang

Ruang rapat di lantai dua puluh itu mendadak sunyi. Kaca besar yang menghadap pesisir memantulkan bayangan Hendra yang berdiri kaku di ujung meja, sementara Pak Wijaya, sang investor utama, membalik halaman dokumen dengan ritme yang menyiksa.

"Anda menjelaskan selisih tiga puluh persen ini sebagai volatilitas lapangan," suara Pak Wijaya memecah keheningan, dingin dan tanpa emosi. "Namun, audit yang saya terima pagi ini menunjukkan jalur pembayaran ke konsultan yang tidak tercantum dalam struktur proyek. Jelaskan, Hendra."

Hendra tertawa pendek, sebuah upaya kikuk untuk menutupi keringat yang mulai membasahi pelipisnya. "Itu penyesuaian operasional, Pak. Proyek pesisir selalu punya biaya tak terduga—"

"Jangan jual saya alasan umum untuk angka khusus," potong Pak Wijaya. Ia meletakkan map biru itu dengan bunyi dentuman pelan yang terasa seperti vonis. "Saya ingin nama bank, rekening, dan dasar pengadaan. Sekarang."

Hendra terdiam. Mulutnya terbuka, namun tidak ada kata yang keluar. Di sekeliling meja, anggota keluarga besar mulai saling melirik, mencari celah untuk menyelamatkan diri. Maya, yang duduk di samping Hendra, tampak menahan napas, jemarinya terkunci erat di atas meja. Ia tidak membela pamannya; ia sedang mengukur kedalaman jurang yang baru saja terbuka.

Aris, yang sejak tadi berdiri di bayang-bayang tirai, melangkah maju. Gerakannya tenang, tanpa keraguan. Ia meletakkan map abu-abu tipis di depan Pak Wijaya.

"Itu versi asli, Pak," ujar Aris datar. "Bukan yang dipoles untuk laporan internal."

Pak Wijaya membuka map tersebut. Di dalamnya, salinan tender lengkap dengan catatan audit bertanda merah terpampang nyata. Hendra memucat. Ia menyadari dokumen yang ia pegang selama ini—yang ia banggakan sebagai senjata—hanyalah jebakan yang disiapkan Aris untuk memancingnya memaparkan kebohongan di depan investor.

"Ada tiga lapis manipulasi," lanjut Aris, suaranya memenuhi ruangan tanpa perlu berteriak. "Volume pengerukan dilebihkan, vendor subkontrak dimasukkan lewat lampiran ilegal, dan selisih dana dialihkan ke rekening cangkang milik orang dekat keluarga. Metadata file yang dikirim ke Anda pun tidak cocok dengan server pusat."

Hendra hampir terjungkal dari kursinya. "Bohong! Kamu—"

"Duduk," perintah Pak Wijaya. Satu kata itu menghentikan Hendra seketika. Keamanan di pintu melangkah maju, membuat Hendra sadar bahwa ia bukan lagi pemimpin rapat, melainkan tersangka yang sedang dikepung.

Pak Wijaya menatap Aris, lalu beralih ke Hendra. "Mulai saat ini, semua dukungan investasi saya untuk proyek yang dikelola Hendra dibekukan. Saya menarik tim due diligence saya. Anda tidak lagi memiliki akses ke dana ini."

Keluarga besar gempar. Hendra menatap Aris dengan campuran amarah dan ketakutan yang murni. Ia baru menyadari bahwa menantu yang selama ini ia injak adalah orang yang memegang kunci kehancurannya.

"Aris," Pak Wijaya memanggil. "Saya butuh orang yang memahami angka dan disiplin ini untuk mengambil alih penanggung jawab proyek. Anda yang paling siap."

Semua mata tertuju pada Aris. Tawaran itu adalah pengakuan publik atas pergeseran kekuasaan. Namun, Aris menggeleng pelan.

"Terima kasih, Pak. Tapi saya tidak mengambil alih dari luar. Saya tetap di keluarga ini. Yang harus berubah adalah siapa yang memegang kendali di dalam rumah sendiri."

Pak Wijaya mengangguk, menghargai ketegasan itu. Pertemuan berakhir dengan Hendra yang terduduk lemas, ditinggalkan oleh para kerabat yang kini sibuk menjauhkan diri. Aris melangkah keluar, namun tepat di ambang pintu, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan anonim muncul di layar: foto punggungnya saat meninggalkan ruang rapat, disertai kalimat singkat:

> Berhenti di tender pesisir. Yang kau bongkar baru permukaan. Sindikatnya belum selesai.

Aris menghapus notifikasi itu. Kemenangan pertama telah diraih, namun ia tahu, ini hanyalah pintu masuk menuju perang yang jauh lebih besar.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced