Novel

Chapter 2: Harga Sebuah Akses

Aris menukar kredensial akses pribadinya dengan kunci enkripsi parsial dari Rian, namun menyadari bahwa ia telah dijebak. Begitu ia kembali ke rumah sakit, sekuriti telah menunggunya, dan Dr. Bram mengambil alih kendali melalui interkom.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga Sebuah Akses

Hujan Jakarta malam ini bukan sekadar cuaca; ini adalah tirai abu-abu yang menyembunyikan jejak kaki. Aris meluncur keluar dari pintu darurat lantai tiga, napasnya memburu di tengah udara dingin yang berbau logam dan antiseptik. Di balik punggungnya, alarm sistem keamanan rumah sakit baru saja berhenti meraung, namun ia tahu itu bukan akhir. Itu adalah tanda bahwa sistem telah mengunci aksesnya secara permanen.

Sita. Nama itu terus berputar di otaknya. Adiknya masih hidup di kamar 304, terbaring dalam status 'Non-aktif' di monitor perawat. Secara administratif, Sita sudah dihapus. Secara fisik, dia menunggu ajal di bawah protokol 'PURGE' yang akan tuntas dalam dua belas jam. Aris merogoh saku jaketnya, memastikan drive enkripsi parsial yang ia curi dari terminal masih ada. Benda itu terasa panas, seolah menyimpan api yang siap membakar hidupnya sendiri.

Ia melompat ke atas motornya, membelah genangan air di pelataran parkir yang mulai sepi. Tujuannya hanya satu: kedai kopi di seberang jalan, tempat Rian—mantan teknisi IT yang dipecat karena terlalu banyak tahu—menunggu.

Kedai itu remang-remang, hanya diterangi lampu neon yang berkedip tidak stabil. Rian duduk di sudut, menatap gelas kopi dingin dengan gelisah. Begitu Aris mendekat, Rian tidak basa-basi. Ia langsung menggeser laptopnya.

"Aku butuh kunci dekripsi penuh untuk direktori 304," desak Aris, suaranya parau.

Rian tertawa sinis, matanya memindai sekeliling sebelum menatap Aris dengan tatapan tajam. "Kau pikir aku bunuh diri demi membantumu? Dr. Bram tidak bermain-main dengan penghapusan data. Dia adalah eksekutor, Aris. Sekali dia menekan tombol purge, bukan cuma data yang hilang, tapi saksi-saksinya juga."

"Aku tidak punya waktu untuk ketakutanmu, Rian!"

"Kalau begitu, bayar harganya," Rian memotong. "Berikan kredensial akses pribadimu yang masih tersisa di server rumah sakit. Aku butuh jaminan anonimitas untuk keluar dari kota ini. Begitu aku punya aksesmu, sistem akan mengira kau yang melakukan semua pergerakan ini, bukan aku."

Jantung Aris berdegup kencang. Itu adalah bunuh diri digital. Menyerahkan kredensial berarti melucuti satu-satunya perlindungan yang ia miliki. Namun, ia menatap jam di ponselnya: 11:42:05. Waktu terus menyusut.

Aris menyambar tisu di meja, menuliskan kata sandi enkripsinya dengan tangan gemetar. Rian menyambar tisu itu, mengetikkan deretan kode di laptopnya, lalu mendorong sebuah flashdisk perak ke arah Aris. "Ini kunci parsial. Hanya sepuluh persen dari berkas Sita yang akan terbuka. Sisanya terkunci di balik protokol tingkat tinggi milik Bram. Semoga beruntung, Aris. Kau baru saja menyerahkan lehermu sendiri ke dalam jerat."

Aris tidak menjawab. Ia bergegas keluar, melompat ke dalam taksi yang terjebak macet. Di dalam mobil yang pengap, ia mencolokkan flashdisk ke ponselnya. Layar berkedip, menampilkan barisan data eksperimental yang mengerikan. Namun, kegembiraan itu mati seketika saat notifikasi merah menyala di bagian atas layar: Peringatan: Akses Administratif Terdeteksi di Lokasi Luar. Identitas Pengguna: Aris.

Sial. Rian tidak hanya mengambil aksesnya; dia memancingnya. Aris menyadari bahwa pertukaran itu adalah jebakan yang dirancang untuk memancingnya keluar dari persembunyian. Layar ponselnya membeku, menampilkan logo Departemen Keamanan Data—Dr. Bram.

Aris nekat. Ia meloncat keluar dari taksi sebelum kendaraan itu bergerak, berlari menembus hujan kembali ke lobi utama rumah sakit. Ia harus memastikan Sita aman. Namun, saat ia mencapai pintu kaca otomatis, langkahnya terhenti. Dua pria berseragam sekuriti dengan lencana departemen keamanan internal berdiri kaku di balik kaca. Mereka tidak sedang berjaga; mereka sedang menunggu.

Aris berbalik, mencoba berjalan santai menuju parkir motor, namun langkahnya terhenti oleh suara sepatu bot di atas lantai marmer. Ia terkepung. Saat ia mencoba melompati pagar pembatas, bukti fisik di tangannya hampir terlepas. Tiba-tiba, suara interkom yang dingin dan otoriter bergema di seluruh lobi, menghentikan napas Aris.

"Aris. Berhenti di tempat. Anda telah melanggar protokol keamanan tingkat tinggi. Keamanan, bawa dia ke ruang observasi. Sekarang."

Suara Dr. Bram terdengar tenang, namun di baliknya tersimpan ancaman yang lebih tajam dari pisau bedah. Aris terdiam, terjebak di antara hujan yang dingin dan tangan-tangan sekuriti yang mulai mencengkeram bahunya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced