Detak Jam yang Mematikan
Lampu neon di ruang observasi berkedip ritmis, menyisakan dengungan listrik yang menusuk gendang telinga. Aris duduk di kursi besi yang dibaut ke lantai, pergelangan tangannya terikat kabel plastik tajam. Di depannya, layar monitor menampilkan hitung mundur yang kejam: 11 jam, 45 menit menuju penghapusan permanen data Sita.
"Waktumu semakin tipis, Aris," suara Dr. Bram memecah kesunyian melalui interkom. Suara itu tenang, nyaris hangat, namun mematikan. "Kau bukan lagi penyelidik. Kau adalah residu yang perlu dibersihkan."
Sebuah rekaman CCTV lobi rumah sakit muncul di layar. Aris menahan napas. Rian, teknisi IT yang baru saja memberikan kunci enkripsi parsial, sedang menerima amplop tebal dari staf administrasi senior. Pengkhianatan itu nyata. Rian tidak pernah berniat membantunya; ia hanya memancing Aris masuk ke dalam jebakan sistem.
Aris tidak punya waktu untuk meratapi kepercayaan yang salah. Saat petugas keamanan masuk untuk melakukan pemeriksaan rutin, Aris sengaja menjatuhkan baki logam ke lantai. Denting nyaring memecah fokus si penjaga. Dalam sepersekian detik, Aris menerjang, memutar lengan si penjaga, dan merampas kartu akses dari pinggangnya sebelum menghantamkan dahi ke wajah pria itu.
BEEP. BEEP. BEEP.
Alarm merah darah meraung di seluruh koridor bawah tanah. Protokol lockdown aktif. Aris berlari menembus labirin koridor, napasnya memburu di tengah bau disinfektan dan udara lembap khas ruang bawah tanah. Ia berhasil mencapai ruang arsip fisik, namun saat senter ponselnya menyapu rak-rak besi berlabel 'Tahun 2024', jantungnya mencelos. Kosong. Ledger fisik yang ia incar telah dipindahkan.
"Sial," desisnya. Ia menggeledah meja administrasi dengan panik hingga jemarinya menyentuh sebuah bingkai foto tua yang retak di balik tumpukan formulir. Itu foto masa kecilnya bersama Sita di taman rumah sakit lama. Aris membalik bingkai itu, tangannya gemetar hebat. Di balik kertas foto, tertulis deretan angka koordinat yang merujuk pada ruang limbah medis di sektor C—sebuah area yang tidak tercatat dalam peta digital mana pun.
Klik. Suara interkom di dalam ruang arsip kembali menyala, diikuti desis statis yang tajam.
"Aris, aku tahu kau di sana," suara Dr. Bram terdengar di sudut ruangan, dingin dan penuh otoritas. "Dalam sepuluh menit, gas pemadam otomatis akan dilepaskan untuk mensterilkan ruangan ini. Kau punya pilihan: menyerahkan diri, atau membiarkan identitas Sita terhapus permanen dari memori server. Kau pikir kau bisa menang, Aris? Data itu hanyalah sampah yang akan segera musnah bersamamu."
Aris menatap koordinat di tangannya, lalu ke arah pintu baja yang tertutup rapat. Ia kini bukan sekadar buronan; ia adalah target yang terkepung oleh waktu dan gas yang mulai mendesis dari ventilasi. Ia harus meledakkan panel listrik untuk memutus kunci elektromagnetik sebelum paru-parunya menyerah pada racun, namun di luar sana, seluruh pasukan keamanan rumah sakit telah menunggunya.