Novel

Chapter 2: Sandiwara di Depan Lensa

Nara dan Arka menghadapi kepungan media di lobi gedung. Arka menggunakan gestur posesif untuk mengamankan reputasi Nara dari tuduhan skandal, sekaligus mengungkapkan bahwa Dimas Santosa sedang memfitnah agensi Nara dengan bukti palsu. Nara menyadari bahwa pernikahan ini adalah jebakan yang lebih dalam dari sekadar masalah warisan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Sandiwara di Depan Lensa

Cangkir porselen itu berdenting pelan, satu-satunya suara yang berani memecah kesunyian di ruang makan penthouse milik Arka Mahendra. Ruangan itu luas, dingin, dan memiliki atmosfer yang lebih mirip ruang sidang daripada tempat menikmati sarapan. Di seberang meja, Arka bahkan tidak melirik Nara. Pria itu sibuk menelaah berkas laporan keuangan yang akan dibawa ke rapat dewan minggu depan, seolah-olah Nara—istri kontraknya yang baru berusia dua puluh empat jam—hanyalah pajangan dekoratif yang kebetulan ada di sana.

"Media akan menunggu di lobi gedung dalam sepuluh menit," suara Arka memecah keheningan tanpa menoleh. "Pastikan kau memakai bros yang kuberikan semalam. Itu simbol keanggotaan keluarga Mahendra yang paling mudah dikenali kamera."

Nara menelan ludah, merasakan sesak yang akrab di dadanya. "Aku bukan sekadar aksesori untuk meredam skandal, Arka. Kita sepakat bahwa agensiku tetap menjadi prioritas otonomiku."

Arka akhirnya mendongak. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh kalkulasi. "Otonomi itu hanya akan ada jika kau masih memiliki agensi untuk dikelola. Dimas Santosa sudah mengirimkan notifikasi hukum kedua pagi ini. Jika kau tidak tampil sempurna sebagai istriku hari ini, reputasimu akan hancur sebelum kau sempat membalas tuntutannya. Apakah itu yang kau inginkan?"

Nara terdiam. Setiap kata Arka adalah pengingat bahwa posisinya saat ini adalah hasil dari keterpaksaan yang elegan. Ia tidak punya ruang untuk membantah. Saat mereka melangkah keluar dari lift menuju lobi gedung, suasana seketika berubah menjadi medan perang. Puluhan lampu kilat kamera meledak, menyilaukan mata dan membuat napas Nara tertahan.

“Nara Pramesti, benar Anda menikah dengan Arka Mahendra untuk menutup utang warisan?” seorang wartawan berteriak, menodongkan mikrofon.

“Apakah ini sandiwara demi menyelamatkan aset?”

“Benarkah Anda masih terikat kasus dengan Dimas Santosa?”

Nara merasakan tenggorokannya mengeras. Narasi itu sudah terbentuk: wanita bermasalah, pewaris dingin, pernikahan tergesa. Ia tahu posisinya rapuh, tetapi mendengar namanya diucapkan seperti barang sitaan membuat dadanya memanas oleh amarah yang tak sempat menjadi suara. Arka tidak terlihat tergesa. Ia berhenti setengah langkah di depan Nara, cukup dekat untuk menutup ruang, cukup tenang untuk terlihat seolah semua ini memang sudah dihitung.

“Tidak ada utang warisan yang Anda bicarakan,” suara Arka datar namun dominan, memotong kebisingan. “Ada sengketa hukum yang sedang kami selesaikan.”

“Kami?” seorang wartawan dari kanal bisnis menyahut tajam.

Tanpa peringatan, tangan Arka terulur, meraih pinggang Nara dengan gestur yang posesif dan terlatih. Ia menarik Nara mendekat, menciptakan jarak yang sangat intim di tengah kepungan wartawan. Nara tersentak, namun Arka mempererat rangkulannya, seolah memberi pesan bisu kepada kerumunan itu: Dia milikku, dan kalian tidak berhak menyentuhnya.

Di dalam mobil sedan hitam yang menjauh dari gedung, Nara menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan akibat akting Arka. "Itu berlebihan," gumamnya, menatap pantulan dirinya di kaca jendela. "Menggandeng pinggangku di depan wartawan? Itu tidak ada di dalam klausul tambahan tentang otonomiku."

Arka tidak menoleh, ia sibuk menyesuaikan manset kemejanya. "Klausul itu untuk melindungimu dari intervensi dewan, Nara. Tapi perlindungan itu tidak ada gunanya jika publik menganggapmu sebagai wanita skandal yang tidak layak berada di lingkaran Mahendra. Dimas Santosa telah menyebarkan bukti palsu—dokumen transaksi fiktif yang menghubungkan agensimu dengan pencucian uang keluarga Mahendra di masa lalu. Jika aku tidak memberimu perlindungan publik sekarang, besok pagi agensimu akan disegel oleh pihak berwenang."

Nara tertegun. Ancaman itu lebih nyata dari yang ia bayangkan. Kembali di penthouse, Arka menunjukkan tablet berisi draf pernyataan pers yang sudah disiapkan sejak malam gala. Nara menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki kebebasan untuk memilih jalannya sendiri; ia telah terjerat dalam permainan yang lebih besar.

Saat Arka melangkah mendekat, bayangan tubuhnya menutupi cahaya lampu di ruang foyer. Ia menarik pinggang Nara kembali dengan posesif, seolah-olah kamera masih terus menyorot mereka. "Jangan gemetar," bisiknya tepat di telinga Nara, suaranya rendah dan mengintimidasi. "Dunia sedang menonton kita jatuh cinta."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced