Novel

Chapter 1: Sarapan di Atas Kaca Retak

Nara Pramesti terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arka Mahendra di tengah tekanan skandal utang warisan dan ancaman penyitaan aset oleh Dimas Santosa. Arka memberikan perlindungan hukum dengan imbalan citra publik, memaksa Nara masuk ke dalam sandiwara romansa di depan media.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Sarapan di Atas Kaca Retak

Cahaya matahari Jakarta yang tajam menembus jendela floor-to-ceiling penthouse Arka Mahendra, namun tidak ada kehangatan yang sampai ke meja sarapan. Nara Pramesti menatap pantulan dirinya di permukaan meja marmer yang dingin. Rambutnya yang semalam tertata sempurna kini terasa berat, dan gaun sutra yang ia kenakan—sisa dari gala amal yang berakhir sebagai bencana—terasa seperti kostum yang salah ukuran.

Di depannya, Arka Mahendra menyesap kopi hitam dengan ketenangan yang menghina. Ia tidak menatap Nara. Ia menatap layar tablet yang menampilkan grafik saham Mahendra Group yang sedang bergejolak akibat skandal semalam.

“Ponselmu bergetar sejak lima menit lalu,” suara Arka memecah keheningan. Datar, presisi, dan tanpa empati. “Itu pengacara Dimas Santosa. Dia tidak akan berhenti menelepon sampai dia mendapatkan agensimu sebagai jaminan atas utang ayahmu.”

Nara tidak menyentuh ponselnya. Ia tahu apa isinya: ancaman penyitaan, notifikasi hukum, dan kehancuran reputasi yang telah ia bangun selama lima tahun. “Anda menikmati ini, bukan? Melihat saya terpojok di meja sarapan Anda?”

Arka meletakkan cangkir porselennya. Bunyi dentingnya terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis. Ia menggeser sebuah map kulit hitam ke arah Nara. “Saya tidak punya waktu untuk menikmati penderitaan orang lain, Nara. Saya butuh stabilitas untuk rapat dewan minggu depan, dan kau butuh perlindungan agar tidak berakhir di balik jeruji besi karena penipuan investasi yang dilakukan ayahmu.”

Nara membuka map itu. Matanya memindai pasal-pasal yang tertulis dengan bahasa hukum yang dingin. Pernikahan kontrak. Durasi: 12 bulan. Kewajiban: Menjaga citra publik Mahendra. Kompensasi: Pelunasan utang warisan dan perlindungan hukum penuh atas agensi kreatif Nara.

Jemarinya berhenti di klausul tentang kepatuhan. “Ini bukan pernikahan. Ini perbudakan dengan akta notaris.”

“Ini adalah transaksi,” koreksi Arka. Ia mencondongkan tubuh, menatap Nara dengan mata yang tidak memberikan celah untuk negosiasi. “Kau punya waktu sepuluh menit sebelum Dimas Santosa tiba di lobi untuk mempermalukanmu di depan media. Tanda tangani, atau saksikan keluargamu hancur besok pagi di halaman depan koran.”

Nara merasakan napasnya tertahan. Ia bukan lagi wanita yang memiliki pilihan. Ia adalah aset yang sedang diselamatkan oleh predator yang lebih efisien. Ia meraih pena, tangannya stabil meski hatinya berontak. Ia menandatangani kontrak itu dengan satu syarat yang ia tuliskan sendiri di margin: Otonomi penuh atas keputusan kreatif agensi.

Arka melirik catatan itu, lalu mengangguk singkat. “Sepakat.”

Baru saja tinta itu mengering, suara bising dari lobi penthouse terdengar. Wartawan. Mereka sudah menunggu di bawah, mencium aroma skandal yang lebih besar dari sekadar utang warisan. Arka berdiri, menarik Nara hingga berdiri di sisinya. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Nara dengan posesif yang membuat napas Nara tertahan.

“Jangan gemetar,” bisik Arka tepat di telinga Nara saat mereka melangkah menuju lift. “Dunia sedang menonton kita jatuh cinta.”

Lampu kilat kamera menyilaukan mata mereka begitu pintu lobi terbuka, namun Arka tidak melepaskan dekapannya. Nara tahu, permainan baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced