Novel

Chapter 3: Klausul yang Hilang

Nara menemukan bukti di brankas Arka yang menunjukkan bahwa pernikahan mereka adalah kedok untuk menutupi skandal korupsi internal Mahendra Group. Arka memaksa Nara untuk bekerja sama demi menyelamatkan agensinya, tepat sebelum rapat dewan yang menuntut bukti pernikahan mereka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Klausul yang Hilang

Penthouse Arka Mahendra di lantai lima puluh tidak pernah terasa seperti rumah. Pagi ini, suasananya lebih menyerupai ruang sidang tanpa palu. Nara berdiri di depan meja kerja mahoni yang luas, jemarinya yang dingin baru saja menyentuh panel kayu tersembunyi di balik rak buku. Brankas itu tidak tertutup rapat; sebuah celah tipis membiarkan cahaya menangkap pinggiran folder biru tua yang terselip di dalamnya.

Nara tahu ia seharusnya menjauh. Ia adalah pion dalam sandiwara pernikahan ini, bukan investigator yang dibayar untuk mengorek rahasia perusahaan. Namun, ancaman Dimas Santosa terhadap agensinya—fitnah pencucian uang yang kini menjadi senjata utama untuk menghancurkannya—membuat rasa takutnya kalah oleh kebutuhan akan perlindungan. Ia menarik folder itu. Di dalamnya bukan sekadar dokumen warisan, melainkan serangkaian korespondensi hukum yang melibatkan Dimas Santosa dalam skema korupsi internal yang jauh lebih besar dari sekadar fitnah bisnis. Ini adalah bukti bahwa Arka tidak sedang membangun pertahanan melawan Dimas; Arka memegang tali kendali atas musuh yang selama ini ia klaim sebagai ancaman.

"Kau sudah melampaui batas, Nara."

Suara Arka berat di ambang pintu. Nara tersentak, folder di tangannya nyaris terjatuh. Arka berdiri di sana, kemejanya digulung hingga siku, menatap Nara dengan sorot mata yang tak terbaca. Arka tidak berteriak. Ia justru berjalan mendekat, mengambil folder itu dari tangan Nara dengan gerakan tenang yang justru terasa lebih mengancam.

"Ini bukan sekadar dokumen warisan," Nara memaksakan suaranya tetap stabil meski jantungnya berdegup kencang. "Ini catatan transaksi fiktif anak perusahaan konstruksi. Dimas Santosa bukan musuhmu, Arka. Dia adalah orang yang memegang kunci untuk membongkar ini semua, bukan?"

Arka terdiam sejenak, menatap isi dokumen itu sebelum menutupnya dengan bunyi dentuman pelan yang menggema di ruangan sunyi itu. Ia tidak membela diri dengan kalimat manis. Ia malah menyodorkan sebuah pena ke arah Nara.

"Jika kau ingin agensimu selamat dari gugatan Dimas, kau punya dua pilihan," ujar Arka, suaranya sedingin es. "Bantu aku merapikan dokumen ini sebelum rapat dewan minggu depan, atau biarkan Ratna—ibuku—mengetahui bahwa pernikahan ini adalah kontrak yang bisa dibatalkan kapan saja. Jika kontrak ini batal, agensimu akan disita besok pagi."

Nara menelan ludah. Ini adalah kompensasi yang mengerikan. Keamanan agensinya kini terikat pada kejahatan yang tidak ia mengerti sepenuhnya. "Aku tidak punya pilihan, bukan?"

"Pilihanmu adalah bertahan di sisiku atau hancur di tangan Dimas," jawab Arka datar.

Saat Nara hendak menyalin petunjuk dari dokumen tersebut, ponselnya bergetar di atas meja kerja Arka. Layar menyala: Dimas Santosa. Nara membeku. Arka menatap ponsel itu, lalu menatap Nara dengan tatapan yang menyuruhnya untuk menjawab.

"Apa maumu?" tanya Nara saat mengangkat panggilan itu.

"Aku tahu kamu ada di penthouse, Nara," suara Dimas terdengar licin di seberang telepon. "Pernikahan itu tidak membuatmu aman. Bukti palsu yang kulihat tadi baru permulaan. Arka tidak melindungimu, dia hanya meminjam namamu untuk menutupi jejaknya."

Arka tiba-tiba mengambil ponsel itu dari tangan Nara. "Dimas," suaranya rendah, penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Jika kau berani menyentuh Nara lagi, aku akan memastikan seluruh catatan transaksi yang kau simpan di luar negeri sampai ke tangan pihak berwenang dalam waktu satu jam." Arka mematikan sambungan tanpa menunggu jawaban.

Nara menatap Arka, napasnya memburu. Perlindungan ini terasa nyata, namun harganya adalah keterlibatan total dalam rahasia gelap Mahendra Group. Arka membawa Nara ke sisi lain ruang kerja, ke lemari besi yang lebih besar dan hanya bisa dibuka dengan sidik jari ganda.

"Jika kau ingin selamat, Nara, kau harus tahu apa yang sebenarnya kita hadapi," Arka menempelkan jarinya pada pemindai, lalu memberi isyarat agar Nara melakukan hal yang sama.

Ketika pintu besi itu terbuka, Nara melihat deretan dokumen yang mengungkap bahwa pernikahan mereka hanyalah topeng untuk menutupi kejahatan yang lebih besar di dalam dewan direksi. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar ruang kerja. Dewan direksi telah tiba lebih awal dari jadwal. Arka menatap Nara, matanya menuntut jawaban.

"Mereka menuntut bukti pernikahan kita di depan publik sekarang," bisik Arka. "Apakah kau akan berani berbohong untukku, atau kita akan hancur bersama di sini?"

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced