Novel

Chapter 11: Konfrontasi Matriark

Arian dan Nadira melakukan konfrontasi terbuka terhadap Ratri Mahendra dan Bima Santosa di ruang rapat Mahendra Holding. Dengan menggunakan bukti digital penggelapan dana, Arian memutus hubungan bisnis dengan ibunya dan mengungkap skandal tersebut di hadapan publik, secara resmi mengakhiri kendali keluarga Mahendra atas hidup mereka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Konfrontasi Matriark

Ruang rapat eksekutif di lantai 50 Mahendra Holding tidak lagi terasa seperti pusat kekuasaan, melainkan ruang interogasi yang menyesakkan. Pukul 09.00 pagi, tepat saat tenggat penyitaan aset keluarga Kirana seharusnya dieksekusi, Arian melangkah masuk. Ia tidak membawa map, hanya sebuah tablet yang memancarkan cahaya biru dingin ke wajahnya.

Ratri Mahendra duduk di kepala meja, jemarinya yang terawat sempurna bertaut di atas dokumen audit. Di sampingnya, Bima Santosa tampak pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Audit ini tidak perlu dilanjutkan, Arian," suara Ratri tenang, namun ada nada ancaman yang tajam. "Kita bisa menyelesaikan masalah internal ini tanpa melibatkan pihak luar."

Arian tidak duduk. Ia meletakkan tabletnya di tengah meja. "Masalahnya, Ibu, ini bukan lagi masalah internal. Ini adalah kejahatan korporasi yang melibatkan aset yang seharusnya menjadi milik keluarga Kirana."

Nadira berdiri di belakang Arian, tangannya menggenggam erat kartu akses lantai privat—simbol status yang kini ia gunakan sebagai perisai. Ia tidak lagi gemetar. Ia menatap Bima, yang kini menunduk dalam-dalam.

"Bima," suara Nadira memecah keheningan, dingin dan presisi. "Jelaskan pada auditor mengapa dana dari rekening Kirana dialihkan ke entitas cangkang yang dikelola oleh Mahendra Holding. Saya memiliki log transfer digital yang lengkap. Tidak ada lagi ruang untuk berbohong."

Bima terkesiap. Ia menatap Ratri, mencari perlindungan, namun sang matriark hanya menatap lurus ke depan, wajahnya membeku.

"Itu... itu hanya penyesuaian aset rutin untuk menutupi kerugian investasi," jawab Bima terbata-bata.

Arian tertawa sinis. "Penyesuaian aset? Kamu menyebut penggelapan dana sebagai penyesuaian?" Arian menekan tombol di tabletnya, memproyeksikan bukti transaksi ke layar besar di dinding. Angka-angka itu terpampang jelas, tak terbantahkan. "Ibu, permainan ini berakhir hari ini."

Ratri berdiri, gaun sutranya tampak kontras dengan kekacauan yang baru saja ia ciptakan. "Kamu menghancurkan reputasi keluarga demi perempuan ini, Arian? Kamu pikir kamu bisa bertahan tanpa nama Mahendra?"

"Saya tidak butuh nama itu jika harganya adalah integritas saya," jawab Arian tegas. Ia menoleh pada Nadira, memberikan isyarat untuk melangkah keluar.

Di lobi gedung, kerumunan wartawan sudah menunggu. Arian tidak menghindar. Ia berdiri di depan mikrofon, menarik Nadira ke sampingnya—sebuah gestur protektif yang disaksikan oleh ratusan kamera.

"Mulai hari ini," suara Arian menggema di lobi, "saya memutus seluruh hubungan bisnis dengan Ratri Mahendra. Mahendra Holding akan menjalani audit menyeluruh atas tuduhan penggelapan dana. Saya tidak akan membiarkan nama keluarga ini menutupi kejahatan yang telah merampas hak orang lain."

Kamera berkedip liar. Ratri muncul di belakang mereka, wajahnya pucat pasi, namun ia tidak bisa lagi memutar balik keadaan. Arian menggenggam tangan Nadira dengan erat, sebuah genggaman yang bukan lagi tentang kontrak, melainkan tentang pilihan. Mereka berjalan keluar, meninggalkan gedung yang selama ini menjadi penjara bagi mereka berdua, menuju kebebasan yang mahal harganya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced