Novel

Chapter 12: Awal yang Baru

Nadira dan Arian memulai hidup baru di luar kendali keluarga Mahendra setelah skandal penggelapan dana menghancurkan reputasi Ratri dan Bima. Arian menolak tawaran negosiasi Bima, menegaskan bahwa mereka kini bebas dari kontrak dan klausul waris. Keduanya memilih untuk membangun masa depan sebagai mitra yang setara.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Awal yang Baru

Cahaya matahari pagi menembus celah gorden apartemen baru, jatuh tepat di atas permukaan meja kayu yang hangat—jauh dari marmer dingin penthouse Mahendra yang selalu terasa seperti ruang sidang. Nadira menyesap kopinya, merasakan keheningan yang bukan lagi ancaman, melainkan sebuah kemewahan.

Di seberang meja, Arian tidak lagi mengenakan setelan jas yang kaku. Ia tampak lebih manusiawi dalam balutan kemeja linen, sedang menatap layar tablet yang menampilkan grafik kejatuhan saham Mahendra Holding. Skandal penggelapan dana itu kini menjadi konsumsi publik, menghancurkan reputasi yang selama ini dijaga Ratri dengan tangan besi.

"Bima mengirim pesan lagi," ujar Arian, suaranya datar. "Dia menawarkan kesepakatan pribadi. Jika aku menarik laporan polisi atas namanya, dia akan menyerahkan dokumen asli klausul waris yang selama ini disembunyikan dari kita."

Nadira meletakkan cangkirnya. "Dia pikir dia masih memegang kendali?"

"Dia pikir dia masih bisa bernegosiasi," jawab Arian. Ia mematikan layar tabletnya, menatap Nadira dengan intensitas yang tidak lagi dibatasi oleh klausul kontrak. "Tapi aku sudah menyerahkan bukti digital yang kamu berikan ke otoritas hukum. Bima tidak punya posisi tawar lagi. Dia hanya sedang mencoba menyelamatkan sisa martabatnya yang sudah hancur."

Nadira berdiri, berjalan menuju jendela yang menghadap cakrawala Jakarta. Ia teringat malam di gala amal itu—malam di mana ia merasa dunianya runtuh. Kini, ia menyadari bahwa kehancuran itu adalah satu-satunya jalan untuk memutus rantai kendali keluarga Mahendra. Ia telah mendapatkan keadilan finansial, namun yang lebih penting, ia telah mendapatkan kembali suaranya.

Arian menyusulnya, berdiri tepat di belakangnya tanpa menyentuh, memberikan ruang yang selama ini tidak pernah ada di antara mereka. "Aku tidak menawarkan kontrak kali ini, Nadira. Tidak ada lagi klausul pribadi, tidak ada lagi perlindungan yang dibungkus sebagai jebakan. Hanya pilihan."

Nadira berbalik, menatap pria yang telah mempertaruhkan segalanya—bahkan reputasi keluarganya sendiri—demi membalaskan dendam yang seharusnya menjadi beban Nadira seorang. "Kamu kehilangan segalanya untuk ini, Arian."

"Aku kehilangan apa yang tidak pernah aku miliki," sahut Arian pelan. "Aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada warisan Mahendra."

Nadira tersenyum, sebuah senyum yang tulus dan tanpa beban. Ia tidak lagi menjadi pion di papan catur Ratri. Ia adalah mitra, seseorang yang berdiri setara di samping pria yang kini memilihnya bukan karena klausul, melainkan karena keinginan.

Di apartemen yang sederhana namun hangat ini, mereka tidak lagi terikat oleh skandal atau warisan. Mereka berdiri sebagai dua orang yang telah melewati badai, siap untuk memulai sesuatu yang nyata. Pernikahan kontrak mereka telah berakhir, namun bagi Nadira, ini hanyalah awal dari kehidupan yang benar-benar milik mereka sendiri.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced