Novel

Chapter 10: Pilihan Terakhir

Nadira menghadapi Arian dengan bukti keterlibatan Bima Santosa dan keluarga Mahendra. Alih-alih pergi, Nadira menuntut Arian untuk menggunakan bukti tersebut guna menghancurkan musuh-musuh mereka, mengubah dinamika hubungan mereka menjadi aliansi yang berbahaya dan penuh dendam.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pilihan Terakhir

Udara di penthouse lantai lima puluh itu terasa tipis, seolah oksigen pun enggan berpihak pada Nadira. Di atas meja marmer yang dingin, sisa sarapan pagi ini masih utuh—sebuah pemandangan yang kontras dengan kekacauan di dalam kepala Nadira. Ia menutup koper dengan gerakan mekanis. Tidak ada air mata; hanya ada sisa harga diri yang ia kumpulkan dari pecahan-pecahan pengkhianatan.

Nadira menyisipkan kartu akses lantai privat ke dalam saku blazer-nya. Benda itu bukan lagi simbol perlindungan, melainkan pengingat akan jerat yang ia terima dengan sukarela. Ia menarik map krem dari dasar koper—kontrak pernikahan yang dulu ia anggap sebagai tiket keluar dari kehancuran, kini hanyalah bukti bahwa ia hanyalah pion dalam permainan waris keluarga Mahendra.

Saat ia membalik halaman terakhir yang selama ini disegel, matanya menangkap deretan angka dan nama yayasan yang asing. Kompensasi. Sebuah dana penyangga yang disiapkan Arian jika pernikahan ini berakhir sebelum waktunya. Nadira tertawa getir. Jadi, bahkan sebelum ia menandatangani kontrak itu, Arian sudah menghitung harga untuk setiap luka yang akan ia terima.

Ia menarik kopernya menuju pintu utama, namun langkahnya terhenti. Arian berdiri di sana, bersandar pada kusen pintu dengan ketenangan yang memuakkan. Pria itu tidak menghalangi jalan, namun kehadirannya memenuhi seluruh ruang.

“Kamu tidak bisa pergi, Nadira,” suara Arian rendah, presisi, dan tanpa keraguan. “Besok pagi, penyitaan aset keluargamu akan dieksekusi. Jika kamu melangkah keluar dari gedung ini, kamu kehilangan satu-satunya perisai yang bisa menahan mereka.”

Nadira menatap pria yang telah menjadi suaminya selama beberapa bulan terakhir. “Perisai? Atau kandang emas? Kamu tahu tentang Bima Santosa sejak awal, Arian. Kamu tahu keluargamu menghancurkan hidupku, dan kamu membiarkannya terjadi demi klausul waris yang bahkan tidak berani kamu tunjukkan padaku.”

Arian tidak membantah. Ia melangkah mendekat, namun menjaga jarak yang sopan—sebuah batasan yang selama ini mereka negosiasikan dengan penuh ketegangan. “Aku tahu tentang keterlibatan mereka, tapi aku tidak tahu sejauh mana Bima bermain di belakangku sampai kamu memberikan bukti digital itu. Aku tidak memanipulasi kamu, Nadira. Aku sedang mencoba memenangkan perang ini agar kamu tidak perlu lagi menjadi korban.”

Nadira meletakkan kopernya dengan dentuman keras. Ia mengeluarkan laptop dari tasnya, membukanya di meja bar, dan memutar layar ke arah Arian. Folder berisi bukti transfer ilegal, jejak audit internal Mahendra Holding, dan korespondensi Bima Santosa terpampang jelas.

“Jika kamu ingin aku tetap di sini, Arian,” suara Nadira bergetar oleh amarah yang terkendali, “maka berhenti melindungiku seperti aku adalah barang koleksi. Gunakan bukti ini. Hancurkan Bima. Hancurkan siapa pun yang harus dihancurkan, termasuk ibumu, jika itu harga yang harus dibayar untuk keadilan keluargaku.”

Arian menatap layar itu, lalu beralih pada mata Nadira. Ada kilatan pengakuan di sana—sebuah kesadaran bahwa Nadira bukan lagi wanita yang bisa ia kendalikan dengan kartu akses atau janji perlindungan. Nadira telah bertransformasi menjadi ancaman yang jauh lebih berbahaya bagi musuh-musuhnya.

“Aku akan melakukannya,” jawab Arian pelan. “Tapi ketahuilah, begitu aku melakukan ini, tidak ada jalan kembali bagi kita berdua. Kita akan berdiri di tengah badai publik yang akan menghancurkan reputasi Mahendra.”

“Bagus,” sahut Nadira dingin. “Karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan.”

Nadira menutup laptopnya. Ia tidak pergi, namun ia juga tidak kembali ke peran istri yang patuh. Ia berdiri di sana, menatap Arian dengan tantangan yang nyata. Di luar, suara kamera media mulai terdengar samar dari kejauhan, menanti skandal berikutnya. Nadira tahu, permainan ini baru saja berubah menjadi pertarungan hidup dan mati, dan kali ini, ia memegang kendali atas kehancuran itu sendiri.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced