Rahasia Waris Terkuak
Udara di ruang kerja Arian terasa tipis, seolah oksigen telah habis diserap oleh tumpukan dokumen di atas meja walnut itu. Nadira berdiri mematung, jemarinya yang dingin mencengkeram tepi meja. Di hadapannya, map cokelat yang baru saja dibuka Arian bukan sekadar kumpulan kertas; itu adalah surat kematian bagi martabat keluarga Kirana yang selama ini ia coba pertahankan.
"Kalian yang melakukan ini," bisik Nadira. Suaranya datar, namun ada getaran tajam di setiap suku kata. "Keluarga Mahendra tidak hanya dingin. Kalian adalah perampok yang memakai jas mahal."
Arian tidak memalingkan wajah. Ia berdiri tegak, tangannya terlipat di depan dada—posisi yang biasanya menandakan kendali penuh, namun kali ini terlihat seperti benteng yang mulai retak. "Aku tidak akan menyangkalnya, Nadira. Tapi aku tidak melakukannya untuk menghancurkanmu. Aku melakukannya untuk memutus akses mereka."
"Dengan cara membeli utang ibuku?" Nadira tertawa getir. "Itu bukan pertolongan, Arian. Itu adalah pengambilalihan aset. Kau hanya mengganti tangan yang memegang leherku."
Arian melangkah maju, jarak mereka kini hanya sejajar dengan meja. "Aku melunasi utang itu agar mereka tidak punya alasan lagi untuk menyentuhmu. Aku butuh kamu di sini, di bawah perlindunganku, sampai aku bisa membongkar ini semua dari dalam."
Nadira menatap tajam ke arah dokumen itu. Nama perusahaan cangkang yang digunakan untuk melikuidasi aset keluarganya tertulis dengan tinta hitam yang tegas. Di sudut bawah, ada paraf Bima Santosa—pengacara yang selama ini ia anggap sebagai penasihat netral. Pengkhianatan itu terasa seperti logam panas yang dituang ke dadanya.
"Jadi, pernikahan ini..." Nadira menatap Arian, mencari jejak kebohongan di mata pria itu. "Ini hanya strategi untuk mengaktifkan klausul waris yang mereka sembunyikan darimu?"
"Awalnya, ya," jawab Arian jujur. "Tapi saat aku tahu namamu ada di halaman yang dilarang untuk kau baca, aku sadar ini lebih dari sekadar warisan. Mereka sudah merencanakan ini sejak awal. Mereka memilihmu karena mereka pikir kau adalah pion yang lemah."
"Dan kau? Kau membiarkanku percaya bahwa ini hanya kontrak bisnis biasa?"
"Aku membiarkanmu percaya karena itu satu-satunya cara agar kau tetap aman sampai aku menemukan bukti ini," Arian menunjuk map itu. "Kalau aku memberitahumu lebih awal, mereka akan menghancurkanmu sebelum aku sempat bertindak."
Sebelum Nadira sempat membalas, interkom di meja Arian berbunyi. Suara sekretaris terdengar panik. "Pak Arian, Ibu Ratri meminta semua arsip waris dipindahkan ke ruang keluarga sekarang juga. Mereka akan melakukan audit mendadak."
Arian mematikan interkom dengan satu gerakan kasar. Ia menatap Nadira, lalu menyambar kartu akses lantai privat dari laci dan meletakkannya di tangan Nadira. "Ambil ini. Jangan keluar dari lantai ini sampai aku kembali. Aku akan mengurus Ratri."
"Kau pikir kartu ini bisa menebus semuanya?" Nadira menatap kartu akses itu, benda kecil yang kini terasa seperti beban.
"Tidak," sahut Arian pelan. "Tapi ini adalah satu-satunya senjata yang kupunya untuk melindungimu saat ini. Kalau kau pergi sekarang, mereka akan menghancurkanmu tanpa sisa. Tinggallah, dan kita akan menghancurkan mereka bersama."
Nadira terdiam. Ia teringat bukti digital yang ia miliki tentang Bima Santosa. Ia tidak akan menyerahkannya sekarang. Ia akan menunggu sampai Arian benar-benar berada di posisinya, atau sampai ia sendiri yang memegang kendali atas kehancuran keluarga Mahendra.
"Aku akan tinggal," kata Nadira, suaranya kini sedingin es. "Tapi jangan pernah berpikir aku melakukan ini untukmu. Aku melakukan ini untuk keadilan yang sudah lama mereka curi."
Arian mengangguk, sebuah pengakuan bisu atas agensi yang baru saja diambil Nadira. Namun, saat Nadira membalikkan badan untuk pergi, matanya menangkap satu lembar dokumen yang terselip di bagian belakang binder. Dua baris pertama dokumen itu membuat jantungnya berhenti berdetak.
Itu bukan sekadar bukti pengambilalihan aset. Itu adalah bukti bahwa Arian sudah tahu keterlibatan keluarganya sejak hari pertama mereka bertemu di gala amal itu.
Rahasia itu menggantung di udara, lebih berat dari ancaman Ratri, lebih tajam dari pengkhianatan Bima. Nadira menatap punggung Arian yang kini tampak asing. Pernikahan ini bukan lagi sekadar kontrak. Ini adalah medan perang, dan untuk pertama kalinya, Nadira mempertimbangkan untuk menarik diri dari aliansi yang dibangun di atas kebohongan.