Tekanan Publik yang Memuncak
Ratri Mahendra meletakkan ponselnya di atas meja marmer penthouse dengan presisi yang dingin. Layar yang menyala menampilkan dua foto lama Nadira: satu di depan rumah kontrakan dengan tas kerja lusuh, satu lagi di acara kampus dengan wajah yang jauh dari citra istri pewaris Mahendra.
"Media menyukai narasi yang mudah, Nadira," ucap Ratri, suaranya lembut namun tajam seperti silet. "Mereka menemukan ini. Sekarang, mereka bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita yang tiba-tiba mengikat namanya pada warisan Mahendra. Apakah dia seorang oportunis, atau sekadar pion yang dibeli?"
Nadira tidak menyentuh ponsel itu. Ia berdiri tegak, membiarkan jarak di antara mereka menjadi benteng. "Foto-foto ini tidak muncul begitu saja. Seseorang membocorkannya ke redaksi, dan saya yakin itu bukan orang asing. Jika Ibu ingin saya memberikan klarifikasi, katakan saja apa yang Ibu inginkan agar saya katakan untuk menutupi jejak ini."
Ratri mengangkat alis, elegan dan tak tersentuh. "Kamu menuduh saya? Hati-hati dengan asumsimu. Kontrak ini tidak boleh terlihat rapuh hanya karena masa lalumu yang tidak bersih. Berikan pernyataan bahwa kamu hanyalah seorang relawan yang kebetulan bertemu Arian. Hapus jejak utang keluargamu dari narasi publik."
Nadira merasakan dorongan untuk melawan, namun ia menahan diri. Ia tidak akan membiarkan Ratri memaksanya menghapus harga dirinya. "Saya tidak akan berbohong tentang siapa saya. Jika keluarga Mahendra malu, itu bukan masalah saya."
Sebelum Ratri sempat membalas, pintu ruang kerja terbuka. Bima Santosa masuk dengan wajah kaku, membawa map tipis yang tampak berat dengan beban legal. Nadira tidak menunggu. Ia meninggalkan Ratri dan bergegas menuju ruang kerja Arian.
Di dalam, suasana dingin seperti es. Arian sedang menatap layar monitor yang menampilkan grafik saham yang mulai goyah akibat rumor tersebut. Nadira masuk tanpa mengetuk. "Ibumu menuntut klarifikasi yang akan menghancurkan reputasi ibuku sendiri. Dia ingin aku mengaku sebagai orang asing yang tidak memiliki beban masa lalu."
Arian menatapnya, matanya tajam, membaca setiap inci keputusasaan dan keberanian di wajah Nadira. Ia tahu jika ia membiarkan Ratri mengambil kendali, Nadira akan hancur—dan ia akan kehilangan satu-satunya sekutu yang ia miliki dalam perang internal keluarga ini. Arian menoleh ke arah Bima. "Batalkan skenario klarifikasi itu. Siapkan pernyataan bahwa Nadira adalah bagian dari keluarga, dan setiap masa lalunya adalah privasi yang tidak bisa diganggu gugat. Jika keluarga menuntut lebih, aku yang akan menanggung risikonya—bahkan jika itu berarti warisan harus lepas."
Bima tertegun, namun ia segera mengangguk.
Beberapa jam kemudian, di lobi hotel, kerumunan wartawan sudah menunggu seperti kawanan pemangsa. Saat Arian dan Nadira melangkah keluar, kilatan lampu kamera ponsel menciptakan suasana yang menyesakkan.
"Pak Arian, apakah pernikahan ini hanya cara untuk menutupi skandal masa lalu istri Anda?" teriak seorang wartawan.
Arian berhenti, menggenggam tangan Nadira dengan cengkeraman yang posesif namun protektif. "Pernikahan kami bukan alat gosip. Jika kalian ingin bertanya tentang masa lalu, tanyakan pada saya. Namun, jangan pernah berani menyentuh martabat istri saya lagi."
Suasana mendadak hening. Arian telah mempertaruhkan posisinya di depan publik. Ratri, yang berdiri di kejauhan, hanya bisa menatap dengan mata yang menyipit penuh kebencian.
Namun, saat mereka kembali ke penthouse, ketenangan itu pecah. Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Nadira. Ia membuka pesan dari akun anonim yang mengirimkan tangkapan layar catatan finansial yang selama ini terkunci di brankas keluarga. Nadira menahan napas. Dokumen itu berisi bukti bahwa keluarga Mahendra memang dalang di balik kebangkrutan keluarganya. Dan di sudut dokumen itu, terdapat satu nama yang familiar: Bima Santosa.
Nadira menatap Arian yang sedang membelakangi jendela. Perlindungan ini mahal harganya, namun kebenaran di tangannya jauh lebih berbahaya daripada skandal apa pun. Bukti waris yang selama ini dicari Arian ternyata bukan hanya tentang uang, melainkan tentang pengkhianatan yang lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan.