Sandiwara di Depan Kamera
Pagi di penthouse Mahendra terasa seperti ruang sidang yang baru dibersihkan—terlalu rapi, terlalu dingin, dan menyisakan tekanan di udara. Nadira berdiri di ruang rias, punggungnya tegak, sementara penata rias menyembunyikan lelah di balik bedak. Ponselnya bergetar; notifikasi dari bank mengenai penyitaan aset ibunya besok pagi muncul lagi. Ia tidak membukanya. Ia sudah tahu angka-angka itu adalah jerat yang tak bisa ia lepaskan.
“Duduk sedikit miring,” ujar penata busana. Gaun satin itu mahal, sopan, dan sama sekali tidak hangat. Nadira menatap pantulannya: seorang perempuan yang baru saja dipindahkan dari penghinaan publik ke panggung yang lebih besar, tanpa hak untuk menolak.
Pintu terbuka tanpa ketukan. Bima Santosa masuk dengan map tipis. Ia berhenti saat melihat Nadira sudah siap.
“Bima,” sapa Nadira datar. “Kalau kau datang untuk memintaku tenang, itu terlambat.”
Bima menutup pintu. Matanya tertuju pada map, lalu ke wajah Nadira. “Aku hanya perlu memastikan kau tahu urutannya. Konferensi pers, foto resmi, lalu keluarga Mahendra akan meminta penjelasan lagi.”
“Dan kau akan berpura-pura tidak pernah hampir bicara terlalu banyak?”
Satu otot di rahang Bima bergerak. “Ada klausul pribadi. Itu yang sudah kubilang. Dan ada sesuatu lagi di halaman tersembunyi itu. Aku belum—”
Pintu kedua terbuka. Arian masuk, setelan gelapnya memberikan kesan presisi dan dingin. Ia tidak melirik Bima, tatapannya terkunci pada Nadira. Ia mendekat, merapikan kalung di leher Nadira dengan gerakan singkat yang nyaris tanpa emosi. Namun, di depan kamera nanti, gestur itu akan dibaca sebagai kepemilikan.
“Kau tidak perlu berdiri di belakangku sepanjang waktu,” gumam Nadira.
“Aku tahu,” suara Arian rendah. “Tapi mereka akan melihatmu dulu. Aku tidak memberi mereka ruang untuk mengunyahmu.”
Di ballroom, lampu kamera menghantam wajah Nadira seperti interogasi. Arian menaruh tangan di punggungnya, bukan untuk memeluk, melainkan untuk mengarahkan. Saat fotografer mendorong terlalu dekat, Arian maju setengah langkah, bahunya menjadi perisai yang efektif.
“Pak Arian, apakah pernikahan ini dirancang untuk meredam skandal?” tanya seorang wartawan.
Arian menjawab tanpa tergesa. “Kalau ini strategi, saya tidak akan mengumumkannya di lobi gedung. Saya memilih jujur sejak awal.”
Dari sisi karpet, Maya muncul, ekspresinya tajam. “Jangan jatuh ke pesonanya,” bisiknya saat berpapasan. “Pria seperti itu rapi di depan kamera, tapi belum tentu aman saat lampu padam.”
“Aku tidak sedang jatuh,” jawab Nadira pelan. “Aku sedang bertahan.”
Belum sempat ia bernapas, suara Ratri Mahendra memotong kerumunan. “Menarik sekali melihat pernikahan secepat ini jadi tontonan.”
Ratri berdiri di tepi kerumunan, senyumnya tipis seperti bilah pisau. “Bagaimana rasanya, menjadi tameng sementara bagi keluarga sebesar ini?”
Nadira menahan napas, tetapi Arian bergerak. Ia berdiri lebih dekat ke Nadira, memutus pandangan Ratri. “Kalau Anda ingin bertanya tentang istriku, gunakan nama yang benar.”
Ruangan seketika diam. Kamera yang lapar kini menunggu jawaban. Ratri mengangkat alis. “Aku hanya menyebut apa yang tampak.”
“Yang tampak malam ini adalah Nadira ada di samping saya karena saya yang menginginkannya di sana. Dan kalau keluarga ini punya keberatan, sampaikan pada saya, bukan padanya.”
Nadira melihat wajah Ratri mengeras. Ratri tidak sedang marah, melainkan menghitung—menghitung kapan Arian mulai berubah, kapan perlindungannya menjadi terlalu nyata untuk disebut sandiwara.
Di ruang resepsi privat lantai atas, suasana berubah menjadi medan negosiasi. Ratri menatap mereka berdua. “Kau memang selalu pandai memilih waktu untuk membuat keluarga terlihat bodoh.”
“Dan Anda selalu pandai memilih kata yang bisa dibantah besok pagi,” jawab Arian.
Ketika keluarga mulai menjauh, Bima menyelinap ke sisi Nadira. Ia menyelipkan kartu akses tipis ke telapak tangan Nadira bersama selembar nota kecil. “Pakai itu kalau perlu turun ke lantai privat,” bisiknya. “Dan—Nadira, kalau kau benar-benar ingin tahu kenapa namamu ada di halaman itu, jangan cari di depan mereka.”
Nadira membuka nota itu: nomor brankas pribadi Arian dan kode pencarian arsip waris lama. Darahnya terasa dingin. Arian sedang mencari bukti waris yang hilang, dan seseorang di rumah ini tahu lebih banyak daripada yang mereka akui.
Ia mengangkat wajah. Arian masih berdiri di depan keluarga, posturnya tenang. Nadira merapatkan kartu akses di telapak tangannya sampai tepinya menusuk kulit. Di depan keluarga Mahendra, Arian membela Nadira dengan tenang yang justru lebih tajam daripada teriakan.