Novel

Chapter 3: Klausul yang Tersembunyi

Nadira menemukan bahwa kontrak pernikahan menyimpan halaman pribadi yang menempatkan namanya di dalam strategi waris Arian. Saat ia menuntut jawaban, Arian menutup celah dengan kompensasi nyata—akses penuh, pengakuan status, dan perlindungan yang mahal—namun kompensasi itu justru menyeret mereka lebih dalam ke tekanan keluarga Mahendra. Ketika Bima nyaris mengakui isi klausul pribadi, kedatangan Ratri dan keluarga Mahendra memaksa Arian memilih: melindungi Nadira di depan keluarganya, atau membiarkan rahasia waris itu terbuka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Klausul yang Tersembunyi

Pagi di penthouse itu tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk bernapas lega.

Nadira baru saja menutup map cokelat yang ia temukan di meja tengah ketika suara langkah Arian berhenti di belakangnya. Kertas di tangannya terasa lebih panas daripada cangkir kopi yang tak pernah ia sentuh. Di halaman yang sempat terbuka, namanya muncul dengan rapi—Nadira Kirana—di bawah garis tipis yang tidak terlihat seperti kebetulan, melainkan seperti perangkap yang ditulis sopan.

Ia menoleh tanpa terburu-buru, menjaga wajahnya tetap tenang meski jantungnya mengetuk keras di balik tulang rusuk. “Kamu meninggalkannya di sini,” katanya.

Arian tidak membantah. Jasnya belum sepenuhnya pas setelah perjalanan dari lobi, dan rahangnya tampak lebih tegang daripada tadi saat ia bicara di depan kamera. “Taruh kembali.”

“Ini bukan brosur hotel.” Nadira mengangkat map itu sedikit. “Namaku ada di sini. Jadi jelaskan.”

Arian melangkah mendekat, cukup dekat hingga Nadira bisa mencium aroma kopi pahit dan udara AC yang menempel di jasnya. Tidak ada kelembutan dalam jarak itu; hanya tekanan. Ia merasakan sendiri bagaimana pria itu mengukur seberapa jauh ia sudah membaca, seberapa banyak yang ia tahu, dan seberapa banyak yang masih bisa ditutup-tutupi.

“Belum waktunya kamu baca halaman itu,” kata Arian.

Nadira tertawa pendek, dingin. “Kapan waktunya? Setelah besok pagi saat penyitaan utang ibuku berjalan mulus karena aku terlalu patuh?”

Ada sesuatu yang bergerak singkat di mata Arian—bukan penyesalan, bukan juga amarah. Lebih seperti keputusan yang tidak enak. Ia mengulurkan tangan.

Nadira memegang map itu lebih erat. “Jangan sentuh kalau kamu tidak mau aku melihat isinya.”

“Kalau aku mau kamu melihat semuanya, aku akan memberi salinan.”

“Jadi memang ada yang disembunyikan.”

Suara itu membuat ruangan yang semula sunyi terasa lebih sempit. Di dapur terbuka, kulkas berdengung pelan. Di luar kaca, Jakarta sudah mulai terang, gedung-gedung mahal berdiri seperti saksi yang tidak berpihak pada siapa pun. Nadira menunggu jawaban, dan karena Arian tetap diam, ia menekan satu halaman lagi ke bawah dengan ujung jarinya.

Baris itu tidak panjang. Justru karena singkat, ia terasa lebih buruk.

Sebuah klausul pribadi.

Dan namanya, bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai bagian inti.

Nadira mengangkat pandangannya perlahan. “Apa artinya ini?”

Arian menutup jarak itu dalam satu langkah dan menarik map dari tangannya. Bukan dengan kasar, tetapi dengan ketegasan yang membuat ujung jarinya nyaris menyentuh kulit Nadira. Cuma sesaat. Cukup untuk terasa.

“Artinya,” ujar Arian datar, “ada halaman yang bukan untuk mata orang yang belum siap.”

“Orang yang belum siap?” Nadira menatapnya tajam. “Atau orang yang kamu tidak mau tahu kalau dia sedang dipakai?”

Kali ini, diam Arian terlalu lama untuk disebut netral.

Ia membawa map itu ke ruang kerjanya tanpa menunggu Nadira mengikuti, seolah ruang di penthouse ini masih miliknya sepenuhnya. Tapi Nadira memang mengikuti. Bukan karena ingin menurut, melainkan karena ia menolak dibiarkan di luar dari sesuatu yang jelas-jelas berkaitan dengan hidupnya.

Ruang kerja Arian berbeda dari ruang tengah. Di sini, semuanya presisi: meja kayu gelap, layar laptop menyala, tumpukan berkas yang disusun tegak seperti barisan pengawal, dan satu cangkir kopi yang sudah dingin sejak mungkin subuh. Udara di ruangan itu lebih dingin daripada ruang sarapan. Seolah bahkan kenyamanan pun harus izin masuk.

Bima Santosa berdiri di sisi meja dengan wajah yang terlalu rapi untuk menyembunyikan kegelisahan. Jasnya tetap sempurna, tapi dasi sedikit longgar di leher, tanda pertama bahwa ia sudah lama berada di bawah tekanan.

“Nadira,” katanya, berhati-hati.

Nadira memandang bergantian antara pengacara itu dan Arian. “Jadi ini rapat rahasia keluarga atau kebiasaan kalian menyimpan sesuatu dari istri yang baru diumumkan ke media?”

Bima membuka mulut, lalu menutupnya lagi ketika Arian menjatuhkan map di atas meja. Bunyi kertasnya terdengar seperti penutup percakapan yang belum dimulai.

“Jelaskan,” kata Arian.

Bima menggeser kacamata ke pangkal hidung, sebuah gerakan kecil yang tidak cukup menenangkan siapa pun. “Dokumen yang tadi dibaca Nona Nadira memang belum lengkap. Ada lampiran yang—"

“Nama saya Nadira,” potongnya.

Bima menunduk singkat, mengakui koreksi itu tanpa debat. “Ada lampiran yang bersifat pribadi. Tidak semua pihak perlu melihatnya sebelum proses administrasi selesai.”

Nadira menatap Arian. “Semua pihak? Jadi aku memang salah satu pihak, tapi bukan orang yang boleh tahu?”

Arian bersandar pada tepi meja. Sikapnya tetap tenang, tapi Nadira menangkap satu hal yang tidak bisa disembunyikan orang sekelas dia: ia sedang menahan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kesal.

“Kalau kamu membaca halaman itu sekarang,” kata Arian, “kamu akan menarik kesimpulan yang salah.”

“Kalau aku tidak membaca, aku harus percaya pada kalian berdua?”

“Tidak,” jawab Arian singkat. “Kamu harus percaya pada bukti. Dan bukti itu belum utuh.”

Bima melihat giliran ke Arian, lalu ke Nadira, seperti orang yang ingin selamat dari dua arah sekaligus. “Saya bisa menjelaskan struktur umumnya. Sebagian klausul terkait waris memang membutuhkan status pernikahan yang diakui publik.”

Nadira memicingkan mata. “Jadi pernikahan ini bukan cuma tameng dari wartawan.”

Arian tidak menjawab dengan cepat, dan itu sudah cukup untuk mengubah udara di ruangan. Di lantai bawah, suara lift privat samar terdengar, lalu hilang. Nadira sadar sesuatu dengan sangat jelas: apa pun yang sedang mereka sembunyikan, ia bukan penonton. Ia bagian dari mekanismenya.

“Siapa yang menulis nama saya di halaman itu?” tanyanya.

Bima menatap Arian lagi, kali ini lebih lama. Ada keputusan yang ditunda di antara mereka. Bima tampak seperti orang yang sedang menghitung berapa banyak yang akan ia kehilangan jika bicara sepenuhnya.

“Aku yang memintanya dicantumkan,” kata Arian akhirnya.

“Kenapa?”

“Karena aku butuh pernikahan ini sah di mata keluarga.”

“Itu jawaban untuk kamera. Bukan untuk aku.”

Mata Arian bergerak sebentar ke wajahnya, lalu turun ke map. Di sana, di atas kertas yang diburu-buru ia sembunyikan, ada cukup banyak alasan yang belum dia izinkan keluar. Nadira menyadari bahwa di antara semua orang di ruangan itu, justru dia yang paling tidak bisa dibohongi. Dan itu membuat amarahnya lebih tajam daripada rasa takutnya.

Sebelum percakapan memanas lebih jauh, Arian berdiri tegak dan mengambil keputusan yang tampak kecil dari luar, tetapi jelas mahal di dalam rumah ini.

Ia mengangkat telepon internal. “Ke sini. Sekarang.”

Tak sampai dua menit, seorang staf keamanan muncul di ambang pintu, menunggu dengan postur formal.

Arian menoleh ke arah Nadira. “Mulai hari ini, kartu akses lantai privat atas namamu aktif penuh.”

Nadira mengernyit. “Apa?”

“Tidak ada lagi izin sementara. Tidak ada lagi pertanyaan ke resepsionis. Kamu bisa masuk ke semua area yang memang jadi ruang tinggalmu.”

Itu terdengar seperti kompensasi. Tapi seperti semua hal dari Arian, hadiah itu juga terasa seperti pengaturan ulang kuasa.

Nadira menyilangkan tangan. “Jadi kamu mengunci sesuatu dariku, lalu memberiku kartu agar aku terlihat diberi kebebasan?”

Arian tidak tersinggung. Itulah yang justru membuatnya lebih sulit dibaca. “Aku memberi kamu akses karena aku tidak suka orang lain menentukan di mana kamu boleh berdiri di rumah ini.”

Kalimat itu meluncur tenang, tetapi Nadira tahu ada harga di belakangnya. Ia juga tahu sesuatu yang lebih menjengkelkan: perlindungan seperti itu tidak gratis. Tidak pernah.

Arian menoleh ke staf keamanan. “Dan mulai sekarang, jika Nyonya Mahendra datang, panggil dengan nama belakangnya.”

Staf itu ragu sepersekian detik, lalu mengangguk cepat. “Baik, Tuan.”

Nadira menatap Arian seolah baru saja diberi kunci sekaligus dicap. Nama belakang Mahendra terdengar seperti status, tapi juga seperti pengumuman bahwa ia sedang dipasang ke dalam struktur keluarga yang jauh lebih besar daripada dirinya.

“Jangan main-main dengan sebutan,” katanya pelan. “Aku belum minta dipanggil begitu.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu memerintahkannya?”

Arian melangkah ke sisi meja, membuka satu laci, dan mengeluarkan kartu akses hitam tipis. Ia meletakkannya di depan Nadira, tepat di atas meja kayu yang dingin. Gerakannya ringkas. Namun di balik ringkas itu, ada keputusan yang tidak murah.

“Karena di lantai ini, orang lebih patuh pada label daripada pada rasa bersalah,” katanya. “Kalau mereka melihatmu sebagai bagian dari rumah ini, mereka akan berpikir dua kali sebelum bicara sembarangan.”

Nadira menatap kartu itu lama. Jauh lebih lama daripada yang diharapkan siapa pun. Ia tidak tersenyum, tidak berterima kasih. Ia justru merasakan sesuatu yang lebih rumit: status yang diangkat sekaligus dikurung. Kompensasi yang datang dalam bentuk akses, tapi juga pengakuan bahwa ia kini dipakai untuk menjaga citra keluarga Mahendra.

“Hadiah seperti ini selalu datang dengan tagihan,” katanya akhirnya.

Arian menjawab tanpa menoleh. “Kalau begitu, simpan tagihannya. Kita akan bicara saat aku bisa memutuskan bagian mana yang layak kamu bayar.”

Itu membuat Nadira ingin marah lagi—dan juga, karena alasan yang lebih menyebalkan, membuatnya sadar bahwa Arian sedang memilih memberi sesuatu yang nyata tanpa memaksa kedekatan palsu. Ia tidak membelai egonya, tidak meminta senyum. Ia hanya membuka pintu yang semula tertutup rapat.

Tetapi pintu itu, seperti biasa, tidak pernah satu arah.

Bima membersihkan tenggorokan. “Pak Arian, ada satu hal lagi. Kalau Nona Nadira sudah mulai tercatat penuh sebagai—”

“Aku tahu,” potong Arian.

Nadira menoleh cepat. “Tercatat sebagai apa?”

Bima bungkam. Arian menatap pengacaranya dengan peringatan yang jauh lebih tajam daripada suaranya. “Cukup.”

Namun istilah itu menggantung di udara. Tercatat penuh. Sebagai apa? Sebagai istri? Sebagai syarat? Sebagai bagian dari aset keluarga yang bisa dipakai untuk membuka sesuatu yang bernilai lebih besar?

Nadira meraih kartu akses itu dan memasukkannya ke dalam saku dengan gerakan yang rapi. Sikapnya tetap terjaga, tapi Arian melihat jelas bahwa ketenangannya kini punya ujung. Ia tidak lengah. Justru semakin waspada.

“Aku mau salinan kontrak yang lengkap,” katanya.

“Tidak hari ini.”

“Kalau begitu aku akan cari sendiri.”

Arian mengangkat kepala. “Kamu tidak akan menemukan semua yang kamu cari sendirian.”

“Kalau begitu salahmu karena memilih rahasia yang terlalu banyak.”

Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, ada sesuatu yang hampir seperti senyuman di sudut mulut Arian. Hampir. Tapi cukup untuk membuat Nadira kesal karena ia menyadari betapa berbahayanya pria itu saat mulai terlihat manusia.

Belum sempat ia membalas, ponsel Bima bergetar di atas meja. Satu getaran. Dua. Tiga. Bima melirik layar dan ekspresinya berubah. Bukan panik, tetapi jenis kehati-hatian yang membuat ruangan langsung terasa lebih sempit.

“Ada apa?” tanya Arian.

Bima menelan napas. “Keluarga Mahendra sudah di bawah.”

Hening jatuh begitu saja.

Nadira menangkap arti kalimat itu lebih cepat daripada yang ingin ia akui. Keluarga Mahendra bukan sekadar nama belakang yang mahal; mereka adalah sistem. Pengawasan, warisan, tata cara. Dan jika mereka datang ke penthouse sekarang, berarti pengakuan Arian di lobi tadi belum selesai menjadi berita. Ia baru mulai menjadi masalah.

“Siapa?” tanya Arian.

“Ratri Mahendra,” jawab Bima. “Dan dua sepupu dari pihak paman. Mereka minta bicara sebelum konferensi pers dimulai.”

Nadira memandang Arian. Baru kali ini ia melihat sesuatu yang benar-benar berubah di wajah pria itu—bukan takut, bukan ragu, tetapi kesadaran penuh bahwa keputusan yang ia buat di lobi kini menuntut bayaran di ruang paling sensitif dalam keluarganya.

Ia bisa saja memerintahkan Nadira tetap di kamar. Bisa saja menjadikannya urusan belakang layar. Tapi Arian justru menutup map, merapikan ujung lengan kemejanya, lalu mengangkat kartu akses tadi dan menaruhnya ke tangan Nadira sendiri.

“Kalau mereka melihatmu,” katanya, “jangan mundur.”

Nadira menatap kartu itu di telapak tangannya. “Kamu baru saja bilang aku bagian dari rumah ini.”

“Dan sekarang mereka akan menguji apakah aku serius.”

Di luar ruang kerja, langkah sepatu terdengar semakin dekat. Satu. Dua. Teratur. Keras di atas marmer foyer yang dingin.

Bima langsung berdiri lebih tegak, seolah tubuhnya bisa menjadi pagar tipis di antara rahasia yang sudah terbuka setengah dan orang-orang yang datang untuk menutupnya kembali.

Pintu ruang kerja belum dibuka, tetapi suara seorang perempuan dari luar sudah cukup untuk menebak siapa yang datang. Dingin, terlatih, dan tidak suka menunggu.

“Arian,” panggil Ratri Mahendra dari balik pintu, nada suaranya rapi seperti pisau. “Kita perlu bicara. Sekarang.”

Nadira mengangkat kepala. Arian tidak menoleh ke pintu terlebih dahulu; ia justru menatap Nadira, lama, seolah sedang memutuskan apakah ia akan menyeretnya masuk ke dalam pertempuran keluarga atau membiarkannya berdiri sendiri di sisi meja itu.

Lalu ia berkata, sangat tenang, “Kalau mereka bertanya tentangmu, biar aku yang jawab.”

Itu bukan kelembutan yang mudah. Itu keputusan yang mahal.

Dan ketika gagang pintu mulai bergerak dari luar, Nadira sadar bahwa kartu akses di sakunya mungkin bukan hadiah paling berbahaya pagi ini.

Karena ada sesuatu di kontrak itu yang masih belum ia baca—dan Arian jelas mati-matian memastikan ia tidak membacanya sampai terlambat.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced