Penthouse dan Meja Sarapan Dingin
Pagi itu merambat ke Jakarta dengan sisa perih yang masih melekat di kulit Nadira, seolah malam gala kemarin belum sepenuhnya selesai membakar martabatnya. Di penthouse Mahendra, cahaya matahari masuk tanpa kehangatan—menyapu marmer, kaca tinggi, dan meja sarapan panjang yang terlalu rapi untuk disebut rumah. Meja itu mengingatkan Nadira pada ruang sidang: terlalu bersih, terlalu luas, dan menyimpan niat orang lain.
Arian sudah duduk di ujungnya. Tegak. Tanpa bekas rapuh dari pesta amal yang semalam menelanjangi hidup Nadira di depan publik. Di depannya ada map kulit hitam, secangkir kopi yang belum disentuh, dan selembar kunci digital yang disusun sejajar dengan tepi meja seperti barang bukti.
Nadira menarik kursi di seberang tanpa menunggu dipersilakan. Ia mengenakan blus krem dari lemari tamu—pakaian yang disediakan staf, terlalu pas untuk disebut miliknya. Bahkan kain di tubuhnya terasa seperti pinjaman.
“Selamat pagi,” kata Arian. Suaranya datar, bersih, tidak memberi tempat bagi harapan.
Nadira menatap kopi di depannya. “Kalau ini rapat, bilang saja rapat. Saya belum siap pura-pura jadi istri yang manis di meja sarapan.”
Arian membuka map dan mendorongnya ke tengah meja. “Jam sembilan tiga puluh konferensi pers. Sebelum itu, kamu perlu tahu jadwal hari ini.”
Nadira membuka map itu. Jadwalnya sudah tertulis rapi: mobil pukul delapan empat puluh lima, fitting pakaian pukul sepuluh, sesi humas, konferensi pers, lalu makan siang tertutup dengan pengacara keluarga. Tidak ada ruang kosong.
Ia melihat kartu akses hitam di atas linen putih. Kartu itu tipis, dingin, dan tampak lebih mahal daripada dompet yang pernah ia punya. “Kamu menuliskan hidup orang seperti jadwal pesawat?”
“Agar kamu tidak tersesat,” jawab Arian.
“Atau agar aku tidak sempat keluar dari pengawasanmu?”
Arian mengangkat pandangan. Matanya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang telah membeli utang ibunya. “Kalau kamu keluar sendiri, media akan menangkapmu sebelum mobil pertama melewati gerbang. Kita tidak punya waktu untuk kesalahan.”
“Kita?” Nadira menekan kata itu. “Jangan buru-buru memasukkan aku ke dalam masalah yang kamu ciptakan.”
“Aku tidak menciptakan masalah itu.”
“Tidak?” Nadira menyilangkan tangan. “Keluargamu yang membeli utang ibuku. Keluargamu yang menunggu kontrak ini sah. Keluargamu yang memaksa aku duduk di meja ini seperti aset yang sedang dinegosiasikan.”
Arian menutup map pelan. “Dan keluargamu yang besok pagi bisa kehilangan rumah sakit tempat ibumu dirawat jika penyitaan jalan.”
Kalimat itu tidak keras, namun tepat pada titik yang paling rapuh. Nadira merasa jari-jarinya mengencang di bawah meja. Ia benci karena Arian mengatakannya seolah itu hukum alam, bukan pilihan.
“Kalau begitu aku punya syarat,” kata Nadira. “Pertama, aku tidak akan diperlakukan seperti boneka. Kedua, ibuku tidak disentuh soal ini. Ketiga, aku tetap punya suara. Di depan orang, aku akan bicara sendiri.”
Arian menyandarkan punggung. “Kamu mau suara, tapi juga minta ruang. Itu saling bertabrakan.”
“Tidak bagi orang yang benar-benar berniat menghormati batas.”
Hening panjang menyelimuti ruangan. Arian akhirnya meraih kartu akses, lalu menaruhnya kembali di hadapan Nadira. “Kamu boleh bicara sendiri. Kamu juga boleh menolak satu bagian dari jadwal. Satu.”
“Murah sekali kemurahan hatimu.”
“Bukan murah,” suaranya lebih rendah. “Hanya terbatas.”
Nadira mengambil kartu akses itu. Dingin menyebar ke kulitnya, pengingat bahwa hidupnya kini dibuka dan ditutup oleh tangan orang lain. Ia bangkit lebih dulu, meninggalkan kopi yang tak tersentuh.
Di lobi privat, Nadira baru menurunkan kaki ke lantai marmer ketika ponselnya bergetar. Pesan dari Maya: Kalau kamu keluar dari penthouse, kabari aku. Orang-orang sudah mulai cari nama kamu.
Begitu lift terbuka ke lobi utama, Nadira tahu sesuatu sudah bocor. Dua wartawan berdiri terlalu dekat, kamera siap, mikrofon terangkat. Nadira memperlambat langkah, mengunci wajahnya agar tidak terlihat panik.
“Nadira Kirana?” salah satu wartawan memanggil. “Benarkah Anda menikah demi menyelamatkan utang ibunda?”
Nadira memegang tali tasnya erat. “Kalau Anda datang untuk membeli drama, saya bukan penjualnya.”
“Apakah pernikahan ini bagian dari strategi waris Arian Mahendra?”
Arian bergerak ke depan, memotong jarak di antara Nadira dan kamera. Ia tidak menyentuhnya, tapi perlindungannya jelas, mahal, dan terlihat oleh semua orang. “Cukup. Jaga jarak.”
“Jadi benar ada pernikahan mendadak?” wartawan itu mendesak.
Arian menatap lurus ke lensa. “Benar. Dia adalah istri saya.”
Nadira menoleh, jantungnya memukul keras. Kalimat itu mengunci mereka ke dalam cerita yang tidak bisa dibatalkan. Di tengah kilatan kamera, Arian baru saja menjadikan kontrak itu fakta publik.
Di saat itulah, Bima muncul dari sisi lobi dengan map tipis. Ia mendekat, wajahnya terlalu hati-hati. Arian menoleh sekilas. “Apa?”
Bima menggeser map itu agar Arian melihat isi halaman pertama. “Kita perlu bicara. Ada klausul pribadi dalam perjanjian. Dan nama Nadira tercantum di bagian yang seharusnya tidak ia baca.”