Novel

Chapter 1: Gala yang Menghancurkan

Nadira dipermalukan di gala amal saat utang ibunya dibongkar ke publik. Arian Mahendra muncul sebagai penyelamat yang menawarkan pernikahan kontrak, namun Nadira segera menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan kendali atas hidupnya kepada pria yang memiliki utang ibunya tersebut.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Gala yang Menghancurkan

Suara denting gelas kristal yang beradu di ballroom Hotel Mulia mendadak kalah oleh dengung statis dari pengeras suara. Nadira Kirana, yang berdiri di dekat pilar marmer, merasakan udara di sekitarnya mendingin. Di layar raksasa yang seharusnya menampilkan video profil donor amal, wajahnya muncul—diambil dari sudut yang tidak menguntungkan—lalu berganti cepat ke dokumen digital yang diperbesar: tagihan rumah sakit, notifikasi penyitaan, dan nama ibunya yang tercetak tebal sebagai debitur gagal bayar.

“Rina Kirana,” suara seorang wanita—istri seorang konglomerat properti yang selalu menganggap Nadira sebagai ancaman sosial—menggema ke seluruh ruangan. “Jika Nadira masih ingin menyebut dirinya filantropis malam ini, mungkin ia bisa menjelaskan kenapa utang ibunya menunggak delapan bulan dan kini berpindah tangan ke pihak penagih yang tidak mengenal kata kompromi.”

Ballroom itu membeku. Kamera ponsel terangkat serempak, menangkap ekspresi Nadira yang memucat di bawah lampu kristal yang terlalu jujur. Maya, sahabatnya, mencengkeram lengan Nadira, namun Nadira tidak bergerak. Ia membiarkan punggungnya tetap tegak, meski ia tahu reputasinya baru saja dihancurkan dalam hitungan detik. Di Jakarta, kehancuran tidak datang dengan ledakan, melainkan dengan bisikan yang disiarkan di depan umum.

“Ini tidak pada tempatnya,” bisik Maya, suaranya bergetar menahan marah.

“Justru sangat pada tempatnya,” sahut wanita itu, puas melihat perhatian publik kini sepenuhnya menjadi milik Nadira. “Orang seperti kita harus tahu siapa yang datang ke gala dengan wajah bersih, namun menyembunyikan kebusukan di balik pintu rumah.”

Nadira tidak menangis. Ia tidak memberi mereka kepuasan itu. Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi memotong pandangan orang-orang itu. Arian Mahendra. Pria itu tidak menyentuh lengannya, namun kehadirannya cukup untuk membuat kerumunan itu mundur satu langkah. Jas hitamnya menyerap cahaya, menciptakan batas tegas antara Nadira dan tatapan predator di sekelilingnya.

“Lift privat,” kata Arian singkat. Suaranya rendah, presisi, dan tidak menerima bantahan.

“Saya belum bilang setuju,” bisik Nadira, meski kakinya sudah gemetar.

“Kalau Anda ingin tetap punya pilihan, ikuti saya sekarang.”

Nadira mengikuti Arian melewati lorong servis. Musik gala meredup menjadi denyut jauh di balik pintu logam, diganti aroma lemon pembersih dan udara dingin yang menusuk. Di dalam lift privat yang melesat menuju lantai tertinggi, keheningan terasa fungsional, seperti ruang pengadilan sebelum putusan dijatuhkan.

Sesampainya di penthouse, meja sarapan yang tertata rapi—seolah disiapkan untuk sesuatu yang sangat formal—terlihat kontras dengan kekacauan yang baru saja Nadira tinggalkan. Di ujung meja, sebuah map krem tergeletak di samping cangkir kopi yang tak tersentuh. Bima Santosa, pengacara keluarga Mahendra, berdiri di dekat jendela, membuka map kedua dengan gerakan hati-hati.

“Kalau Anda ingin saya menandatangani sesuatu, beri saya alasan yang lebih baik daripada sekadar melarikan diri dari sorotan kamera,” ujar Nadira, suaranya kini lebih dingin dari udara di ruangan itu.

“Alasan yang lebih baik sudah habis dipakai tadi malam,” Arian menjawab tanpa menoleh. Ia menatap cakrawala Jakarta. “Ibu Anda bukan lagi sekadar debitur rumah sakit. Utangnya telah dibeli oleh keluarga Mahendra. Jika Anda tidak menandatangani kontrak ini, mereka akan mengeksekusi penyitaan besok pagi.”

Nadira menahan napas. Ia menatap map di depannya. Begitu ia membuka halaman pertama, ia menyadari bahwa ini bukan sekadar pernikahan kontrak. Ada klausul waris yang tersembunyi, sebuah detail yang membuat posisinya bukan lagi sebagai istri, melainkan instrumen untuk mengamankan posisi Arian di dalam keluarga.

Ia mengambil pena. Tangannya tidak bergetar saat ia menandatangani namanya di balik jas Arian yang kini tergeletak di sandaran kursi. Begitu tanda tangannya kering, Bima menutup map dengan bunyi klik yang final. Nadira baru menyadari satu hal: ia baru saja menukar rasa malu publik dengan jeratan yang jauh lebih berbahaya. Utang ibunya bukan lagi ancaman luar, melainkan alat tawar yang kini sepenuhnya dikuasai oleh pria yang berdiri di depannya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced