Harga Sebuah Perlindungan
Malam sudah lewat tengah ketika Arian masuk ke penthouse dengan langkah yang terlalu terukur untuk seseorang yang baru saja lolos dari pertemuan rahasia yang penuh duri. Pintu tertutup pelan di belakangnya, namun Nadira sudah berdiri di sana, melihat bercak darah kering di manset kemeja putih yang kini tampak kusut. Ada goresan tipis di pelipis kanan Arian—kecil, namun cukup untuk mengubah udara di ruang tamu menjadi lebih tajam.
Nadira tidak bertanya apakah ia baik-baik saja. Ia mengambil kotak P3K dari laci dapur, membuka kapas antiseptik, dan kembali tanpa sepatah kata pun.
“Duduk,” perintah Nadira singkat.
Arian menatapnya, menimbang harga dari kepatuhan itu. Lalu, ia menarik kursi meja makan. Nadira berdiri di depannya, membasahi kapas dengan antiseptik. Jari-jarinya stabil, meski di dalam kepalanya, ia masih memutar ulang ancaman Ratri Mahendra di gala tadi sore.
“Siapa yang melukaimu?” tanya Nadira saat menekan kapas ke pelipis Arian.
“Tidak penting,” jawab Arian, rahangnya mengeras.
“Itu jawaban orang yang menyembunyikan musuh di rumah sendiri.” Nadira tidak melepaskan tatapannya. “Besok pagi mereka akan datang untuk penyitaan aset Ibu. Jika kau terluka karena urusan itu, katakan sekarang.”
Arian mendongak, matanya yang dingin menyimpan kelelahan yang tidak pernah ia tunjukkan di depan kamera. “Besok pagi, aset itu aman. Saya sudah mengunci aksesnya.” Ia berdiri, lalu memberi isyarat agar Nadira mengikutinya ke ruang kerja privat. Di sana, di balik panel dinding yang tersembunyi, Arian menekan serangkaian angka. Brankas itu terbuka, memamerkan isi yang selama ini menjadi simbol kuasa keluarga Mahendra.
“Lihat sendiri,” ujar Arian, mempersilakan Nadira mendekat.
Nadira masuk ke dalam ruang keamanan itu. Di sana, ia tidak menemukan tumpukan uang atau perhiasan, melainkan tumpukan dokumen tua dan arsip yang berdebu. Nadira menarik satu map yang terbuka—isinya adalah catatan pencarian Arian terhadap bukti waris yang hilang, lengkap dengan catatan tangan tentang pengkhianatan internal keluarga. Nadira menyadari satu hal: Arian tidak sedang melindungi warisan itu untuk dirinya sendiri, ia sedang mencari jalan keluar dari jerat yang justru dipasang oleh keluarganya sendiri.
Ketukan pintu memecah konsentrasi mereka. Bima Santosa masuk dengan wajah yang terlalu hati-hati untuk seseorang yang membawa kabar baik.
“Saya bawa pengesahan perlindungan hukum untuk aset Ibu Nadira,” ujar Bima, menyerahkan dokumen stempel pengadilan. “Semua jalur penyitaan kita kunci sementara. Notaris sudah siap, dan pengadilan niaga bisa kita tahan sampai ada klarifikasi waris.”
Nadira menerima map itu, tetapi tangannya tidak gemetar. Ia tahu bahwa perlindungan ini bukanlah hadiah. “Apa harganya, Bima?” tanya Nadira tajam.
Bima melirik Arian sebelum menjawab, “Keterlibatan penuh dalam klausul privasi yang mungkin tidak akan Anda sukai.”
Setelah Bima pergi, Nadira kembali ke balkon penthouse. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Maya masuk, disertai lampiran dokumen digital. Nadira membuka file itu dengan tangan dingin. Di sana, terpampang jelas bahwa kejatuhan finansial keluarganya lima tahun lalu dirancang oleh Mahendra Holding sebagai pemegang saham bayangan.
Nadira menatap akses brankas yang masih ia genggam. Perlindungan Arian bukan sekadar kompensasi emosional atau taktik pernikahan kontrak. Arian mungkin berdiri di atas reruntuhan hidup keluarganya, dan kini, Nadira memegang kunci untuk meruntuhkan segalanya dari dalam.