Harga Sebuah Nama
Aroma pasar basah pagi itu bukan sekadar amis ikan; itu adalah bau peringatan. Di sela-sela derap langkah kaki yang terburu-buru, Adrian merasakan tatapan menusuk dari balik kios-kios kayu yang lapuk. Ia meraba saku jaketnya, memastikan lipatan manifes pengiriman 88-X masih di sana—sepotong kertas yang kini menjadi surat kematian bagi kebebasannya. Namanya tercetak jelas di sana sebagai penjamin. Di mata hukum, ia adalah pemilik. Di mata Chinatown, ia adalah pengkhianat yang baru saja pulang untuk menagih sisa-sisa kehancuran.
Pak Li, pedagang sayur yang biasanya menyapa ayahnya dengan hormat, kini hanya menunduk dalam. Saat Adrian mend
Preview ends here. Subscribe to continue.