Jalur Pengiriman yang Bisu
Bau amis ikan busuk dan sisa solar menyengat hidung Adrian begitu ia menginjakkan kaki di koridor pengiriman yang membelah dermaga Chinatown. Udara malam ini terasa berat, seolah setiap hembusan angin membawa beban dari buku besar yang baru saja ia lihat di toko Mei Lin. Di saku jas mahalnya, cek senilai ratusan juta rupiah terasa seperti kertas tak berharga—sebuah lelucon di tengah jaringan hutang yang nyawanya sendiri kini menjadi taruhan. Adrian tidak lagi berjalan sebagai investor yang ingin melikuidasi aset; ia bergerak seperti buronan yang sedang menel
Preview ends here. Subscribe to continue.