Siaran Langsung yang Tak Terduga
Lampu sorot kamera menyala mendadak di ruang pamer museum, menusuk remang yang biasanya tertutup rapat setelah jam tutup. Suara kerumunan di luar semakin keras, massa yang berkumpul di halaman menuntut kebenaran dengan teriakan yang saling tumpang tindih. Alarm dari ruang penyimpanan masih samar terdengar di latar belakang—sisa dari malam tadi ketika kompartemen rahasia relik akhirnya terbuka.
Raka melangkah keluar dari pintu samping, napasnya pendek, jaketnya masih berdebu dari ruang penyimpanan. Di tangan kirinya tergenggam naskah asli shrine record yang baru mereka temukan, kertasnya sudah menguning tapi tulisan tangan ayahnya masih tajam. Waktu tinggal dua puluh empat jam sebelum ritual pemindahan relik selesai dan 'pemberian makan menjadi permanen' menghapus segalanya untuk selamanya.
Pembawa acara siaran langsung yang sedang berdiri di depan replika relik terkejut ketika Raka merebut mikrofon dari tangannya dengan satu gerakan cepat. "Ini bukan acara biasa," kata Raka keras, suaranya memotong kebisingan. Kamera langsung berputar, lensa merah menyala. "Saya Raka. Dan ini bukti yang selama ini disembunyikan."
Ia mengangkat naskah itu ke depan kamera, jarinya menunjuk baris-baris tulisan yang menghubungkan keluarga Mira dengan pemalsuan sejarah shrine record. "Ayah saya dibunuh karena ini. Bukan kecelakaan. Dan Mira tahu. Ayah saya menulisnya jelas di kompartemen rahasia: 'Mira tahu. Jangan percaya museum.'"
Massa di luar langsung ribut. Ponsel-ponsel di tangan penonton siaran mulai berdering, komentar live membanjiri layar. Mira berdiri membeku beberapa langkah di belakang Raka, wajahnya memucat. Sebagai kurator, ia seharusnya menghentikan ini, tapi kakinya seolah terpaku.
"Raka, cukup," bisik Mira cepat, suaranya hampir hilang di antara suara kamera. Tapi Raka tidak menoleh. Ia mengeluarkan hard disk kecil dari saku jaketnya—salinan rekaman VHS dari arsip rumah sakit kabinet 17. "Lihat ini. Rekaman asli yang membuktikan berkas medis ayah saya dimanipulasi. Keluarga Mira yang mengendalikan semuanya selama bertahun-tahun."
Kru siaran panik. Seorang pria berjaket hitam dari ruang kontrol berlari mendekat, tangannya menyentuh kabel. "Matikan sekarang!" teriaknya. Lampu sorot mulai padam satu per satu. Gambar di layar siaran menjadi buram, suara Raka terputus-putus.
Tapi Dedi, yang muncul dari belakang panggung dengan wajah berkeringat, berhasil menyambungkan kabel cadangan. Siaran stabil lagi untuk beberapa detik. "Teruskan," kata Dedi pelan ke arah Raka, meski matanya penuh ketakutan—ancaman terhadap keluarganya masih menggantung.
Raka menatap Mira langsung ke kamera. "Katakan yang sebenarnya, Mira. Atau biarkan publik yang memutuskan."
Mira menelan ludah. Tangannya gemetar saat ia melangkah maju, berdiri di samping Raka. Suaranya bergetar tapi jelas terdengar di seluruh negeri yang sedang menonton. "Apa yang dikatakan Raka... ada benarnya. Naskah ini... bukan palsu. Saya... saya melihatnya malam tadi." Kata-kata itu keluar seperti pengakuan yang dipaksa, wajahnya menunjukkan pertarungan batin antara keluarga dan kebenaran yang kini terbuka lebar.
Kerumunan di luar semakin liar. Teriakan "Bongkar! Bongkar!" bergema sampai ke dalam gedung.
Di ruang kontrol, kru siaran berusaha mati-matian. "Putus total!" perintah seorang produser. Layar siaran berkedip, tapi Dedi masih bertahan di konsol, jarinya menekan tombol demi tombol untuk menjaga sinyal. "Ini sudah terlalu jauh," gumam Dedi, suaranya hampir pecah. Pengungkapan ini justru membuat posisinya sebagai saksi semakin berbahaya.
Raka melanjutkan dengan cepat, suaranya semakin tegas. "'Pemberian makan menjadi permanen' bukan ritual biasa. Ini kode untuk menghancurkan bukti fisik shrine record agar narasi palsu tetap hidup. Dan sekarang, tinggal dua puluh empat jam sebelum semuanya hilang selamanya."
Tiba-tiba, suara sepatu bot berat bergema dari koridor utama. Polisi memasuki gedung museum dengan langkah tegas, enam orang berpakaian seragam lengkap, tangan mereka siap di pinggang. Perwira paling depan mengangkat tangan. "Hentikan siaran ini! Raka, kamu ditahan untuk dimintai keterangan!"
Kamera masih menyala, merekam semuanya. Raka merebut mikrofon lebih erat, menolak melepaskannya meski seorang petugas keamanan museum mencoba merebutnya. "Lihat sendiri! Ini bukan lagi urusan museum. Ini skandal yang melibatkan keluarga berpengaruh yang mengendalikan narasi selama bertahun-tahun!"
Mira mundur selangkah, air mata mulai menggenang di matanya. Dukungannya tadi sudah cukup untuk membuat narasi publik goyah, tapi sekarang polisi sudah di dalam gedung. Waktu hampir habis.
Dedi menatap Raka dari kejauhan, wajahnya penuh penyesalan. Ia tahu, pengorbanannya mungkin harus lebih jauh malam ini.
Di luar, massa semakin mengamuk, dorongan tubuh mereka mulai mendesak pagar museum. Siaran langsung masih berjalan, meski sinyalnya semakin lemah. Raka berdiri di tengah kekacauan itu, mikrofon masih di tangannya, sementara sirene polisi semakin dekat dan detak jam di dinding terus berdetak tanpa ampun—dua puluh tiga jam tersisa sebelum semuanya ditutup selamanya.