Novel

Chapter 9: Malam Terakhir Sebelum Ritual

Malam menjelang ritual terakhir, Raka, Mira, dan Dedi membuka kompartemen rahasia relik di ruang penyimpanan museum menggunakan kunci dari arsip rumah sakit. Naskah tersembunyi membuktikan bahwa 'pemberian makan menjadi permanen' adalah kode penghapusan bukti fisik shrine record untuk menjaga narasi palsu. Alarm berbunyi, kru siaran langsung mendadak masuk dan memulai siaran live. Massa mulai berkumpul di luar sambil menuntut kebenaran, sementara tekanan keluarga dan ancaman polisi semakin menyesakkan. Semua petunjuk sebelumnya menyatu, tapi pengungkapan ini justru memperketat waktu yang tersisa 24 jam dan mempertaruhkan nyawa mereka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Malam Terakhir Sebelum Ritual

Raka mendorong pintu besi ruang penyimpanan museum yang dingin dan lembab, jantungnya berdegup lebih kencang daripada detak jam yang tersisa 24 jam sebelum ritual pemberian makan menjadi permanen. Bau debu lama dan logam karat menyambutnya. Di belakangnya, langkah Mira dan Dedi terdengar cepat, napas mereka pendek karena lari menyusup dari pintu samping yang Dedi buka dengan kartu akses palsu.

"Kita tidak boleh lama," bisik Dedi, suaranya bergetar. Matanya melirik lorong gelap di belakang. "Keluargaku sudah diancam. Kalau ketahuan di sini, mereka yang kena duluan."

Mira menutup pintu pelan, wajahnya pucat di bawah lampu neon yang berkedip. "Aku baru saja ditelepon atasan. Kalau pemindahan gagal malam ini, bukan cuma jabatanku yang hilang. Keluargaku akan diseret ke skandal lama. Mereka tahu aku bertemu kalian." Tangannya gemetar saat menyentuh lengan Raka. "Raka, mungkin lebih baik kita berhenti."

Raka menatapnya tajam, ingatan panggilan Mira yang meminta menyerah tadi sore masih membakar dada. "Berhenti berarti ayahku mati sia-sia. Dan kau tahu itu." Ia mengeluarkan kunci kecil berkarat dari saku jaket—kunci yang Dedi ambil dari lemari nomor 17 arsip rumah sakit. "Ini kompartemen terakhir. Kalau kita buka sekarang, semua petunjuk sebelumnya akan terhubung."

Mereka bergerak cepat ke lemari kayu tua di sudut ruangan. Debu tebal menutupi permukaannya. Raka memasukkan kunci, memutarnya pelan. Klik kecil terdengar, diikuti desis mekanisme tersembunyi. Panel kayu bergeser, membuka ruang sempit berisi gulungan naskah lusuh dan amplop kuning.

Tepat saat Raka menarik naskah itu keluar, sirene alarm museum meraung memekakkan telinga. Lampu merah berkedip di seluruh ruangan. "Sial," desis Dedi, wajahnya memucat.

"Alarm internal! Kompartemen ini pasti terhubung sensor," kata Mira cepat, suaranya naik karena panik. Tapi Raka sudah membuka gulungan naskah di bawah cahaya senter ponselnya. Tinta hitam pudar, tulisan tangan ayahnya yang jelas:

"Pemberian makan menjadi permanen bukan ritual. Ini kode untuk membakar semua bukti fisik shrine record. Mereka ingin narasi palsu tetap hidup selamanya. Mira tahu semuanya. Jangan percaya museum."

Di bawahnya terdapat daftar nama keluarga berpengaruh—termasuk pihak ibu Mira—beserta tanggal pembungkaman dan transfer dana. Semua petunjuk dari rekaman VHS, berkas medis kabinet 23, hingga foto ayah Raka dengan Mira remaja, kini menyatu menjadi satu cerita mengerikan: ritual besok bukan untuk menghormati warisan, melainkan untuk menghapus jejak skandal lama secara permanen.

Mira mundur selangkah, tangannya menutup mulut. "Tidak... ini tidak mungkin. Ayahku..."

"Ini yang ayahku coba sembunyikan sebelum mereka bunuh dia," kata Raka dingin, meski dadanya sesak. Setiap kata yang dibacanya mengubah risiko: bukan lagi pencarian kebenaran, tapi konfrontasi langsung dengan kekuasaan yang selama ini mengawasi mereka. "Sekarang kau mengerti kenapa dia tulis 'Mira tahu'?"

Dedi mengambil foto lama dari amplop. "Ini membuktikan semuanya. Relik muncul kembali di arsip rumah sakit karena seseorang sengaja mengembalikannya untuk dimusnahkan besok."

Sebelum Mira sempat menjawab, pintu ruang ritual di ujung lorong terbanting terbuka. Sekelompok kru siaran langsung—lima orang dengan kamera profesional dan lampu terang—menerobos masuk. Kamera langsung menyala, sorot merah siaran langsung berkedip di layar.

"Apa-apaan ini?!" teriak Mira, melangkah maju. Tapi kameramen paling depan sudah mengarahkan lensa ke naskah di tangan Raka.

"Kami dapat tip anonim. Katanya ada pengungkapan besar di museum malam ini," kata produser kru itu sambil tersenyum tipis, suaranya tenang di tengah sirene yang masih meraung. "Siaran langsung sudah berjalan. Ribuan orang menonton."

Raka merasakan darahnya membeku. Ponselnya bergetar hebat—notifikasi banjir masuk. Nama trending-nya naik lagi, kali ini disertai hashtag #MuseumMalamIni. Di luar gedung, suara kerumunan mulai terdengar samar, seperti gelombang yang mendekat.

"Matikan kamera!" bentak Mira, tapi Dedi menyentuh bahu Raka.

"Ini kesempatan terakhir kita," bisik Dedi. "Kalau tidak sekarang, besok semuanya hilang selamanya."

Raka melangkah ke depan kamera, naskah terbuka di tangannya. Cahaya lampu kamera menyilaukan matanya. "Malam ini, sebelum ritual pemberian makan menjadi permanen besok pagi, kami punya bukti. Ritual ini bukan penghormatan. Ini penghapusan. Shrine record asli membuktikan skandal yang selama sepuluh tahun disembunyikan. Ayah saya dibunuh karena ini. Dan besok, semua jejak akan musnah jika kita diam."

Suara kerumunan di luar semakin keras. Terompet dan teriakan samar terdengar: "Buka pintu! Tunjukkan bukti!" Massa mulai berkumpul di halaman museum, jumlahnya bertambah cepat karena siaran langsung yang menyebar seperti api di grup keluarga dan media sosial.

Mira berdiri di samping Raka, wajahnya berkeringat dingin. Ia tahu ancaman atasan bukan main-main—keluarganya bisa hancur dalam hitungan jam. Dedi mundur sedikit ke bayang-bayang, tangannya memegang ponsel yang terus merekam, tapi matanya penuh ketakutan akan keluarganya sendiri.

Sirene alarm masih meraung. Lampu merah berkedip tanpa henti. Di layar kamera, komentar langsung membanjiri: "Ini beneran?", "Polisi harus datang sekarang!", "Raka pembohong atau pahlawan?"

Raka menatap lensa kamera, napasnya pendek. Kebenaran sudah terbuka, tapi harganya kini bukan hanya reputasi atau kebebasan—tapi nyawa mereka bertiga. Di luar, suara massa semakin dekat, seperti gelombang yang siap menghantam dinding museum.

Dan di ujung lorong, bayangan seragam polisi mulai terlihat samar di balik pintu kaca utama.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced