Novel

Chapter 8: Pengkhianatan dari Dalam

Di ruang persembunyian arsip rumah sakit, Dedi mengaku pernah diminta keluarga Mira menutup dokumen serupa enam tahun lalu, mematahkan kepercayaan Raka. Mereka kemudian menyusup ke ruang ritual museum dan menemukan bukti bahwa ritual 'pemberian makan menjadi permanen' adalah upaya penghapusan bukti fisik shrine record. Mira menerima ultimatum keras dari atasan yang mengancam karier dan keluarganya, lalu menelepon Raka meminta menyerah. Dalam perjalanan pulang, Raka diikuti penguntit misterius. Deadline resmi kini tinggal 24 jam, aliansi rapuh, dan pengkhianatan internal mempersempit semua pilihan Raka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pengkhianatan dari Dalam

Detik-detik terasa seperti pisau yang menggores kulit. Dua hari tersisa sebelum relik disita, dan Raka sudah merasakan napas pihak ketiga di tengkuknya. Ia dan Dedi baru saja lolos dari ruang penyimpanan museum, jantung masih berdegup kencang, kartu akses palsu yang sudah hangus tersimpan di saku jaket basah keringat. Dokumen rahasia yang mereka curi membuktikan ada tangan tak terlihat yang mempercepat pemindahan—bukan hanya museum, tapi kekuatan di belakangnya.

Mereka tidak kembali ke arsip rumah sakit lewat jalan depan. Dedi membawa Raka masuk lewat pintu servis belakang yang jarang dipakai, menuruni tangga sempit menuju ruang persembunyian lama di lantai bawah tanah. Ruangan itu pengap, hanya diterangi lampu neon berkedip dan jam digital merah yang menunjukkan pukul 02.14 dini hari. Bau kertas lama dan karat bercampur.

Dedi duduk di kursi kayu reyot, tangannya gemetar memegang secarik kertas lusuh. Wajahnya pucat seperti mayat. "Aku harus bilang sekarang, Raka. Kalau ditunda lagi, aku takut besok pagi sudah terlambat." Suaranya rendah, hampir hilang di antara detak jam. "Enam tahun lalu… aku diminta menutup-nutupi dokumen yang sama. Oleh keluarga Mira. Mereka datang malam-malam, bawa amplop tebal dan ancaman halus. Katanya demi menjaga nama baik museum. Tapi aku tahu itu bohong. Berkas itu berisi bukti yang bisa mengubur skandal lama selamanya."

Raka berdiri tegak, tangan mengepal di sisi tubuh. Kata-kata Dedi menusuk seperti jarum suntik. "Keluarga Mira? Kau yakin?"

Dedi mengangguk pelan, mata tak berani bertemu. "Aku mengenali stempel dan tanda tangan ibunya. Mereka bilang kalau aku buka mulut, keluargaku yang akan kena. Istriku waktu itu sedang hamil anak kedua. Aku… aku takut. Jadi aku segel kabinet itu dan pura-pura tak pernah melihat. Tapi setelah kamu datang, setelah rekaman VHS bocor dan nama ayahmu muncul lagi… rasa bersalah ini seperti racun."

Kemarahan naik ke tenggorokan Raka. Ia ingat foto di kompartemen rahasia: ayahnya bersama Mira remaja, tulisan tangan "Mira tahu. Jangan percaya museum." Semua kini masuk akal, tapi rasanya seperti pengkhianatan yang sudah lama direncanakan. "Jadi selama ini Mira bukan hanya tahu. Keluarganya yang memerintahkan penutupan. Dan kau… kau bagian dari itu."

Dedi menunduk. "Aku hampir mundur kemarin, Raka. Telepon ancaman datang lagi ke rumah. Mereka bilang anakku sekarang sudah besar, mudah ditemukan di sekolah. Tapi aku pilih ikut kamu karena aku tak mau mati membawa dosa ini. Petunjuk baru ada di ruang ritual museum—lemari ukir motif wayang yang jarang dibuka. Di sana ada berkas yang lebih lengkap. Kalau kita bisa masuk malam ini juga, mungkin kita masih sempat."

Raka menatap jam digital. Angka merah itu seperti mata setan yang tak berkedip. Dua hari tinggal sedikit. Setiap kata Dedi mengurangi kepercayaan, tapi juga membuka pintu baru yang lebih gelap. Ia tak punya pilihan. "Kita pergi sekarang. Tapi kalau kau bohong lagi, Dedi, aku sendiri yang akan serahkan kau ke polisi yang sedang buru-buru mencariku."

Mereka bergerak cepat. Jakarta malam itu basah gerimis, lampu jalan berkelap-kelip di trotoar sempit. Dengan kartu akses cadangan yang Dedi siapkan, mereka menyusup lewat pintu servis museum. Ruang ritual berada di sayap belakang, udara dingin berbau lilin basi dan kayu tua. Lemari ukir motif wayang berdiri mengintai di sudut.

Dedi bekerja dengan tangan gemetar, memaksa kunci rapuh menggunakan alat kecil dari saku. Langkah satpam terdengar di koridor luar—pelan tapi pasti. Raka menahan napas, telinga menempel di pintu. "Cepat!"

Kunci berderak. Pintu lemari terbuka. Di dalamnya ada map kuning menguning bertuliskan nama keluarga Mira dan stempel resmi. Raka merobek segelnya. Isinya: catatan ritual lengkap, bukan sekadar simbol. "Pemberian makan menjadi permanen" ternyata kode untuk upaya penghapusan bukti fisik—membakar atau merusak shrine record asli agar narasi palsu yang dibuat keluarga Mira tak terganggu selamanya. Ada juga surat perintah percepatan dari pihak ketiga, dengan inisial yang sama dengan yang ditemukan di ruang penyimpanan sebelumnya.

"Ini bukan pemindahan biasa," bisik Raka, suaranya serak. "Ini penghancuran. Dan Mira tahu dari awal."

Suara langkah semakin dekat. Dedi menutup lemari dengan kasar. Mereka lari menyusuri lorong gelap, jantung hampir meledak. Satpam berteriak di belakang, senter menyapu dinding. Mereka keluar lewat jendela darurat, mendarat di gang belakang museum yang penuh tumpukan kardus basah. Napas mereka tersengal, dokumen curian tergenggam erat di tangan Raka.

Aliansi mereka semakin retak. Dedi berhenti sejenak, wajahnya berkeringat dingin. "Aku sudah bilang semuanya, Raka. Tapi kalau keluargaku kena… aku tak bisa lanjut."

Raka tak menjawab. Pengkhianatan dari dalam terasa lebih pahit daripada ancaman di luar.

Di kantor kurator lantai tiga museum yang sama, Mira duduk sendirian di bawah lampu meja. Telepon di tangannya masih panas. Suara atasan tadi masih bergema: "Besok pagi harus selesai, Mira. Kalau ada hambatan lagi, bukan hanya jabatanmu yang hilang. Keluarga kita juga akan terseret." Ia memandang foto ibunya di meja, lalu menekan nomor Raka dengan jari gemetar. "Raka… tolong berhenti. Pihak ketiga ini tak main-main. Mereka bisa hancurkan kita berdua. Serah saja. Demi keselamatan." Suaranya pecah sebelum telepon ditutup. Mira menunduk, air mata jatuh ke meja kayu. Deadline resmi kini tinggal 24 jam. Dan ia terjebak di antara dua api.

Malam semakin larut. Raka berjalan sendirian di trotoar Jakarta yang basah, menuju rumah kontrakan kecilnya. Gerimis semakin deras. Ia merasakan bayangan di belakang—pria berjaket gelap, langkahnya sinkron dengan langkah Raka. Setiap kali Raka mempercepat, bayangan itu ikut. Setiap kali berbelok ke gang sempit penuh sampah dan kardus, suara napas terengah masih ada.

Raka masuk ke gang lebih dalam, berlari kecil, lalu berhenti mendadak di balik tumpukan kardus. Penguntit melewati tanpa sadar. Tapi Raka tahu: ini bukan kebetulan. Polisi sudah mencarinya, massa di grup siaran mulai ribut, dan sekarang ada yang mengawasi gerak-geriknya secara langsung.

Ia tiba di rumah, mengunci pintu rapat-rapat, jendela ditutup tirai tebal. Hard disk kecil berisi salinan rekaman masih di saku jaketnya. Dokumen ritual baru di tangannya. Raka duduk di lantai, membuka ponsel. Jam menunjukkan pukul 04.47. Deadline resmi tinggal 24 jam.

Pengakuan Dedi tadi malam masih bergema: keluarga Mira yang memerintahkan penutupan dokumen yang sama enam tahun lalu. Aliansi yang rapuh, kepercayaan yang hancur, dan waktu yang hampir habis. Raka mengepalkan tangan sampai buku jari memutih. Ia tak bisa mundur lagi. Tapi besok, saat kompartemen terakhir terbuka di depan publik, massa akan mulai berkumpul di luar museum—dan rahasia penghapusan bukti akan terungkap dengan cara yang tak bisa dikendalikan siapa pun.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced