Novel

Chapter 7: Dua Hari Menuju Penyitaan

Dengan waktu tersisa dua hari sebelum relik disita, Raka dan Dedi berani menyusup ke ruang penyimpanan museum menggunakan kartu akses palsu. Mereka menemukan dokumen rahasia yang mengungkap pihak ketiga mempercepat pemindahan relik, namun hampir tertangkap satpam. Ketegangan antara Raka dan Dedi memuncak akibat ancaman langsung terhadap keluarga Dedi, mengancam aliansi rapuh mereka. Setelah berhasil lolos, Raka menerima telepon dari Mira yang gemetar, mengungkap ancaman pihak ketiga dan mendesak Raka menyerah demi keselamatan. Tekanan waktu semakin mendesak, mempersempit pilihan dan memperkuat risiko yang dihadapi Raka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Dua Hari Menuju Penyitaan

Dua hari tersisa sebelum relik yang menjadi kunci segala rahasia disita dan dipindahkan ke museum pusat. Waktu yang terus menekan membuat Raka dan Dedi nekat menyusup ke ruang penyimpanan museum malam itu juga. Raka menarik napas dalam-dalam saat gerendel pintu besi berderit pelan ketika ia membuka dengan hati-hati menggunakan kartu akses palsu yang Dedi serahkan dengan tangan gemetar. "Ini satu-satunya cara," bisik Raka, menatap Dedi yang menyesuaikan posisi kamera kecil di leher jaketnya.

Lampu remang-remang ruang penyimpanan menciptakan bayangan panjang di antara rak-rak berisi kotak arsip dan relik bersegel. Raka merogoh kotak relik yang selama ini jadi pusat kontroversi, matanya langsung mencari celah tersembunyi seperti yang pernah mereka duga. Dedi, semakin cemas, sesekali melirik ke pintu masuk, takut satpam yang sudah mereka ketahui patroli beberapa menit lagi. Ketika Raka menemukan dokumen tambahan yang diselipkan rapat di bawah alas kotak relik, jantungnya berdebar bukan hanya karena temuan itu, tapi karena langkah kaki berat terdengar dari lorong dekat pintu masuk.

"Satpam," bisik Dedi sambil menarik Raka ke balik rak besi. Napas mereka tercekat, jantung berdetak di telinga, seolah waktu berhenti selama beberapa detik. Dokumen di tangan Raka berisi catatan rahasia, mengindikasikan ada pihak ketiga yang sengaja mempercepat pemindahan relik—informasi yang bisa mengguncang narasi resmi dan memperpendek waktu yang tersisa. Namun, saat langkah satpam semakin dekat, mereka harus menahan napas dan berdiam dalam kegelapan, menunggu kesempatan untuk melanjutkan.

Dua jam setelah malam jatuh, lorong-lorong museum menyimpan ketegangan yang hampir meledak. Raka dan Dedi merayap di balik bayang-bayang, langkah mereka nyaris tak terdengar, kecuali detak jantung yang berdenyut cepat di dada masing-masing. Kartu akses palsu di tangan Dedi bergetar, bukan karena alatnya, tapi karena beban ancaman yang baru saja ia terima—keluarganya dalam bahaya jika ia terus membantu Raka.

"Kita tidak bisa terus begini, Rak. Aku sudah bilang, ini terlalu berisiko," suara Dedi bergetar, menahan takut yang menggerogoti. Raka menatapnya tajam, wajahnya yang biasanya tenang berubah menjadi garis keras tekad. "Kalau kita mundur sekarang, semua yang sudah kita temukan akan sia-sia. Kamu tahu ini bukan cuma soal kita." Dedi menggeleng, matanya berkaca-kaca. "Tapi keluargaku... mereka terancam. Aku sudah dapat pesan. Jika aku ketahuan, mereka yang akan kena."

Raka sadar ancaman itu nyata. Dia pernah merasakan bagaimana bahayanya ketika kebenaran menjadi harga tertinggi. Tapi waktu terus berdetik, menyusut menjadi dua hari sebelum relik itu hilang dari jangkauan. Mereka memasuki ruang penyimpanan utama, udara dingin dan bau kayu tua menyambut. Di meja kecil, sebuah kotak kayu tua terbuka—dokumen-dokumen tambahan berserakan di dalamnya. Raka merogoh satu lembar, matanya menyipit saat membaca catatan yang baru mereka temukan.

"Ini... ada nama lain. Pihak ketiga yang sengaja mempercepat pemindahan," gumam Raka dengan suara lirih namun penuh arti. Dedi menatapnya dengan campuran ketakutan dan kekhawatiran, menyadari bahwa risiko yang mereka hadapi jauh lebih besar dari yang mereka duga.

Ketegangan di antara mereka memuncak saat suara langkah satpam kembali terdengar, kali ini lebih dekat dan berat. "Kita harus keluar sekarang," bisik Raka, menarik Dedi yang mulai goyah. Mereka berlari menyusuri koridor gelap, napas terengah-engah, hati berdegup kencang. Namun, aliansi yang selama ini terbangun mulai retak, bayang-bayang ketakutan dan pengkhianatan mengintai di setiap sudut.

Setelah berhasil lolos dari kejaran satpam, Raka berdiri di pinggir trotoar yang lengang, lampu jalan remang-redup memantulkan bayangan tubuhnya yang gemetar. Jantungnya berdetak tak beraturan, bukan hanya karena adrenalin dari hampir tertangkap satpam beberapa menit lalu, tapi juga karena suara telepon yang tiba-tiba bergetar di saku jaketnya. Ia mengangkat ponsel dengan tangan gemetar, menatap nama yang muncul di layar: Mira.

"Raka..." suara Mira terdengar serak, bergetar seperti orang yang berusaha menahan ratapan di balik kata-katanya. "Mira, apa kamu baik-baik saja?" Raka langsung bertanya, menatap ke arah sepi di sekitar mereka, waspada.

"Tidak... aku harus jujur. Ada pihak ketiga yang sengaja mempercepat pemindahan relik. Mereka... mereka ingin menutup semua kemungkinan pembuktian. Aku mendapat kabar dari keluarga... mereka mengincar semuanya, termasuk kamu," ucap Mira dengan suara hampir patah.

Raka terdiam, rasa dingin menjalar dari kepala sampai ujung kaki. Dua hari lagi? Itu waktu yang sangat sempit. Dari yang sudah dipercepat tiga setengah hari, kini waktu menyusut semakin menekan, sementara ancaman yang mengintai semakin nyata.

"Aku tahu ini berat, tapi aku harus meminta kamu menyerah, Raka. Aku tidak mau kehilanganmu sebelum semuanya selesai," lanjut Mira, suaranya hampir terdengar seperti permohonan. Raka menggigit bibir bawahnya, memikirkan segala risiko yang sudah ia tanggung: nama yang kini menjadi buronan polisi, aliansi yang retak, dan rahasia yang semakin sulit diungkap.

Telepon berakhir dengan suara Mira yang masih bergema di telinganya, meninggalkan Raka dalam dilema berat dan tekanan waktu yang semakin mendesak. Dua hari tersisa, dan kebenaran yang ia kejar kini berbalut ancaman yang lebih gelap dari sebelumnya.

Di balik bayang-bayang kota yang mulai tenang, rahasia dan pengkhianatan menunggu untuk meledak, memaksa Raka untuk memilih antara menyerah atau melangkah lebih jauh ke jurang kebenaran yang berbahaya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced