Novel

Chapter 11: Satu Jam Terakhir

Dengan waktu tersisa hanya satu jam sebelum ritual pemindahan relik dimulai, Raka berjuang keras mengunggah bukti digital ke platform independen sambil Dedi berani mengorbankan dirinya untuk menahan satpam dan polisi yang berusaha menghentikan siaran. Di tengah kerusuhan massa yang semakin menjadi di luar museum, Mira menghadapi tekanan berat dari keluarganya melalui telepon, namun tetap memilih mendukung pengungkapan kebenaran secara terbuka. Pemindahan relik resmi dimulai, mempersempit kesempatan mereka. Saat unggahan bukti selesai, Raka menyadari bahwa kebenaran ini tidak hanya akan mengungkap skandal besar, tetapi juga bisa menghancurkan dirinya sendiri, sementara Dedi menghadapi konsekuensi pengorbanannya. Ketegangan mencapai puncak dengan ancaman fisik dan emosional yang menjerat ketiganya, menandai babak terakhir sebelum keputusan akhir harus dibuat.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Satu Jam Terakhir

Jam dinding berdentang tanpa ampun—hanya tersisa satu jam sebelum ritual pemindahan relik dimulai. Di ruang pamer museum, ketegangan meluap seperti bara yang hampir meledak. Raka menatap tajam layar monitor di depan meja siaran, jarinya bergerak cepat menekan tombol unggah pada hard disk berisi rekaman VHS asli dan naskah shrine record yang selama ini disembunyikan. "Cepat, Dedi! Satpam sudah di lorong!" desaknya, suara tegang tapi penuh tekad. Tangannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena sadar betapa mahal harga yang harus dibayar jika bukti ini gagal tersebar.

Dedi berdiri kokoh di pintu ruang penyimpanan, tubuhnya menahan dua satpam yang berusaha menerobos masuk. Dengan tenaga yang tersisa, dia mendorong mundur langkah mereka. "Aku tahan sebentar. Kau harus pastikan siaran tetap hidup!" teriaknya, napas memburu. Di sudut ruangan, para kru siaran panik saat salah satu teknisi mencoba memutus transmisi, namun Dedi terus menghalangi, mengorbankan dirinya agar Raka punya waktu berharga. Di luar, suara massa yang mengamuk semakin keras, batu dan benda mulai dilempar ke jendela, menambah kegaduhan. Polisi mulai menyerbu masuk dengan langkah pasti menuju ruang pamer.

Sementara itu, di sudut lain museum, Mira menahan getaran telepon yang terus berdering. Namanya terpampang di layar, dari keluarga yang mengirim ultimatum keras: "Hentikan siaran itu sekarang juga. Jika tidak, karier dan keselamatanmu hancur. Relik harus diserahkan tanpa gangguan." Mira menggigit bibir bawah, napasnya tersendat. Ancaman itu nyata, bukan gertakan kosong. Video bocor yang diputar Raka sudah membakar kemarahan keluarga dan pejabat museum. Namun, hatinya tetap tegar. "Aku tidak bisa," jawabnya pelan, suara bergetar tapi penuh keberanian. "Apa yang Raka tunjukkan itu benar. Naskah itu asli, bukan pemalsuan. Kita tidak boleh membiarkan sejarah diputarbalikkan lagi."

Suara dari luar makin menggema, polisi memasuki gedung, ancaman semakin nyata. Mira tahu, memilih berdiri di samping kebenaran berarti berhadapan dengan keluarganya sendiri.

Di ruang penyimpanan, Raka dan Dedi merasakan tekanan waktu yang kian menipis. Raka menyembunyikan hard disk kecil di saku jaketnya, sedangkan Mira menghela napas panjang, suaranya hampir patah saat berkata, "Aku sudah mengakui semuanya di kamera. Tapi keluargaku... mereka tidak akan diam saja." Teriakan massa makin keras, polisi membentuk barisan penghalang, mencoba menahan amukan yang tak terkendali.

Dalam kekacauan itu, Dedi mengambil keputusan berani. Ia maju ke koridor, menutup pintu ruang siaran dengan tubuhnya, napas memburu. "Raka, kau harus cepat! Unggah itu sekarang!" teriaknya sambil menahan dua satpam yang mencoba menerobos. Jantungnya berdetak kencang, bukan hanya karena lelah tapi juga sadar betapa mahal harga yang harus dibayar. Raka, duduk terpaku di depan komputer, tangan gemetar saat menekan tombol unggah terakhir. Setiap detik seperti jarum tajam menusuk dada. Bayangan masa lalu menghantui—ayahnya yang dibungkam, keluarga yang terpecah, dan pengkhianatan yang selama ini ia lawan.

Dedi bertahan sekuat tenaga, menghalangi polisi dan satpam yang berusaha masuk. "Aku akan tahan mereka, Raka. Kau harus selesaikan ini!" katanya dengan suara serak, matanya penuh tekad. Namun, tak lama kemudian, tubuhnya terhuyung saat satpam berhasil menahan dan menyeretnya pergi.

Raka menelan ludah, menggigit bibir, matanya terpaku pada layar yang menunjukkan persen unggahan telah mencapai seratus persen. Bukti digital tersebar luas, narasi publik mulai berguncang. Tapi di balik kemenangan itu, Raka menyadari satu hal yang membekap dadanya: kebenaran yang ia ungkapkan ini bisa menghancurkan dirinya sendiri. Posisi sebagai buronan, ancaman keluarga Mira, dan pengkhianatan yang terkuak membuatnya semakin terisolasi.

Di luar gedung, massa yang mengamuk semakin liar, polisi berusaha menahan, tapi ketegangan memuncak tanpa kendali. Dedi mengorbankan dirinya demi memberi ruang bagi kebenaran agar tak terkubur, sementara Raka berdiri di tengah kekacauan, tahu bahwa setiap langkah berikutnya akan menentukan nasibnya—antara bertahan hidup atau hancur oleh kebenaran yang ia bawa.

Sementara itu, waktu terus berjalan tanpa henti. Ritual pemindahan relik yang akan menutup semua celah kebenaran tinggal satu jam lagi. Dan Raka, dengan beban masa lalu yang kini dihadapi secara langsung, harus memilih: mempertaruhkan segalanya demi kebenaran atau menyerah demi keselamatan yang mulai menjauh darinya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced