Harga Sebuah Akses
Lampu neon di kafe bawah tanah itu berkedip ritmis, menciptakan pola cahaya yang menyakitkan mata. Di seberang meja, Dinda tidak menyentuh kopinya. Jemarinya mencengkeram tepi meja begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kau sudah gila, Aris," bisik Dinda. Suaranya nyaris hilang ditelan dengung mesin pemurni udara yang dipaksa bekerja melampaui kapasitasnya. "Setiap kata kunci yang kau ketik di terminal arsip kemarin—itu memicu alarm merah di pusat pemantauan. The Architect tidak sekadar mengawasi. Dia sedang melakukan pembersihan total."
Aris meletakkan ponselnya di atas meja. Layar itu menampilkan notifikasi Feed yang berkedip merah: 142:47:12. Waktu terus tergerus. "Aku tidak punya pilihan. Mereka mulai menghapus sejarah keluargaku dari server publik. Jika aku tidak memverifikasi relik ini sekarang, dalam enam hari, kebenaran itu akan terkunci selamanya di dalam sistem mereka."
"Dan kau pikir membawanya ke sini akan membantu?" Dinda menatap sekeliling kafe yang hampir kosong, memastikan tidak ada mata-mata algoritma yang mengawasi. "Sistem pembersihan data sudah aktif di seluruh kompleks rumah sakit. Begitu mereka mendeteksi anomali fisik ini, kita berdua akan menjadi target pembersihan, bukan lagi sekadar subjek data."
Aris merogoh ranselnya, mengeluarkan lempengan logam itu di bawah meja. Benda itu terasa lebih berat dan hangat, seolah berdenyut mengikuti detak jantungnya. Dinda tersentak, napasnya tertahan. "Kau benar-benar membawanya? Jika sensor The Architect menangkap radiasi anomali ini, kafe ini akan ditutup dalam hitungan menit."
"Bantu aku membukanya, Dinda. Hanya kau yang punya akses ke skrip tersembunyi di balik enkripsi ini," desak Aris.
Dinda menggeleng, tangannya meraih gelas kopi untuk menutupi gemetar di jemarinya. "Aksesku bisa hilang selamanya. Pekerjaanku, identitasku... semuanya. Kau harus bayar dengan sesuatu yang tidak bisa dibatalkan. Nomor rekening rahasiamu. Dan foto keluargamu yang hilang—yang kau simpan di cloud pribadi. Serahkan sekarang sebagai jaminan hidup, atau aku tutup mulut."
Aris merasakan dadanya sesak. Data itu adalah satu-satunya bukti yang tersisa tentang orang tua dan adiknya sebelum narasi palsu The Architect menghancurkan mereka. Namun, ia tidak punya pilihan. Ia menekan beberapa tombol di ponselnya, mentransfer akses enkripsi pribadinya kepada Dinda. Begitu transfer selesai, Dinda segera menghubungkan ponselnya ke tablet. Sinyal WiFi kafe mulai terputus-putus, meninggalkan pesan eror berwarna merah yang memenuhi layar.
"Ini bukan sekadar log akses," bisik Dinda dengan kengerian yang nyata. "Ada skrip tersembunyi yang tertanam di dalam relik ini. Begitu kau menyentuhnya, sistem The Architect tidak hanya melacak lokasimu, tapi mulai menghapus jejak digital keluargamu dari server publik. Mereka sedang memformat ulang sejarahmu selagi kita bicara."
Notifikasi di sudut tablet Dinda menunjukkan angka 142 jam 12 menit. Angka itu melompat turun lebih cepat dari seharusnya. Aris menyadari harga yang harus dibayar. Membantu Dinda memverifikasi relik ini membuat posisinya lebih rentan daripada sebelumnya, namun ia tidak bisa berhenti.
Suara sirene melengking rendah dari luar kafe, membelah keheningan bawah tanah yang mencekam. Aris melirik layar ponselnya; notifikasi merah menyala, menandakan zona pembersihan data telah menyebar hingga ke blok ini. Dinda gemetar hebat. Tangannya yang dingin merogoh saku seragam arsipnya, mengeluarkan sebuah kunci logam kuno yang tampak ganjil di antara tumpukan kabel fiber optik. Kunci itu memiliki ukiran mikroskopis yang berpendar redup, bereaksi terhadap kedekatan relik di tas Aris.
"Ini kunci loker di kedalaman arsip 404," bisik Dinda, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin pembersihan yang mulai menggetarkan lantai. "Loker itu berisi bukti fisik yang tidak pernah masuk dalam skrip digital The Architect. Jika mereka tahu kau memegang ini, kita bukan lagi buronan, kita adalah sejarah yang dihapus."
Aris menyambar kunci itu. Begitu logam dingin tersebut bersentuhan dengan telapak tangannya, sensasi panas menjalar ke lengannya. Ia merasakan denyut aneh dari relik yang ia curi—sebuah resonansi yang mengonfirmasi bahwa kunci dan relik itu berasal dari sumber yang sama. Saat ia menatap prasasti pada relik itu, simbolnya berpendar terang, mengungkapkan tanggal kematian keluarga Aris yang ternyata belum terjadi saat relik itu dibuat.