Enam Hari Menuju Kegelapan
Lampu sensor di lorong bawah tanah Rumah Sakit Sentral berkedip merah—tanda algoritma Feed sedang melakukan pemindaian rutin. Aris menempelkan punggung ke dinding beton yang lembap, menahan napas. Di ponselnya, bar progres sistem pengawasan merayap naik: 88%. Jika mencapai seratus, pintu otomatis akan terkunci dan memerangkap siapa pun di dalamnya sebagai 'anomali'.
Ia tidak punya waktu untuk ragu. Aris merangkak melewati jangkauan kamera, menuju lemari arsip bernomor 404. Menurut catatan Dinda, di sanalah sisa-sisa sejarah keluarganya disimpan—sebuah relik yang dianggap sampah digital oleh otoritas, namun bagi Aris, itu adalah satu-satunya bukti fisik yang tidak bisa dimanipulasi oleh Feed.
Jarinya yang gemetar menyentuh tuas besi. Dengan sekali sentak, pintu lemari terbuka. Di dalamnya, tidak ada dokumen tebal. Hanya sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran kuno yang terasa dingin saat disentuh. Begitu Aris mengangkat kotak itu, udara di sekitarnya berubah menjadi statis. Frekuensi rendah berdengung di telinganya, diikuti getaran keras dari saku celananya. Layar ponselnya yang tadinya menampilkan peta denah gedung kini berubah menjadi antarmuka merah darah.
Feed Permanen: 143 jam tersisa.
Lampu neon di langit-langit berkedip ritmis, menciptakan bayangan tajam yang menari di atas tumpukan berkas tua. Aris mencengkeram relik di tangannya—sebuah lempengan logam dengan ukiran yang terasa tajam. Begitu ia menyentuh permukaan lempengan itu, notifikasi di ponselnya membekukan napasnya: Tenggat waktu Anda telah diperbarui: 143 jam tersisa.
Suara langkah kaki sepatu hak rendah beradu dengan lantai marmer terdengar mendekat. Dinda. Aris segera menyembunyikan lempengan logam itu ke balik tumpukan dokumen medis tahun 90-an sebelum Dinda muncul dari balik rak besi tinggi.
"Kau seharusnya tidak berada di sektor ini, Aris," suara Dinda rendah, penuh kecemasan. Tangannya gemetar saat memegang tablet akses, matanya memindai ruangan dengan cepat. "Sensor keamanan mencatat anomali sinyal di koordinat ini. Jika mereka melacak koneksi ini ke akunmu, kita berdua tamat."
Aris menatap Dinda, mencari jejak pengkhianatan, namun yang ia temukan hanyalah ketakutan murni. "Aku menemukan sesuatu, Dinda. Ini fisik. Sesuatu yang seharusnya sudah dihapus dari sejarah rumah sakit ini." Aris menarik lempengan itu kembali. Wajah Dinda berubah pucat pasi saat melihat ukiran di permukaan logam tersebut.
Sirine frekuensi tinggi melengking, membelah keheningan ruang arsip. Lampu indikator di langit-langit berkedip merah, menandakan protokol penguncian gedung telah diaktifkan oleh algoritma pengawasan The Architect. Aris merasakan panas yang aneh merambat ke pahanya dari saku jaketnya.
"Mereka tahu," bisik Dinda. Jemarinya gemetar hebat saat mencoba memutus koneksi terminal utama. "Sistem mendeteksi anomali fisik. Begitu akses keluar tertutup, kita tidak akan bisa keluar tanpa meninggalkan jejak digital yang bisa mereka lacak selamanya."
Aris menatap pintu keluar darurat di ujung lorong yang mulai tertutup tirai baja otomatis. "Berapa lama lagi?"
"Tiga puluh detik," jawab Dinda, suaranya pecah. "Setelah itu, seluruh lantai ini akan dianggap sebagai zona pembersihan data. Identitas kita akan dihapus dari sistem rumah sakit, lalu dari catatan sipil, dan akhirnya... dari ingatan publik."
Aris tidak punya waktu untuk berdebat. Ia menarik lengan Dinda, memaksa wanita itu menjauh dari konsol yang mulai mengeluarkan asap tipis. Ponsel Aris bergetar hebat—notifikasi merah menyala di layar: Tenggat waktu Anda telah diperbarui: 143 jam tersisa.
Hitung mundur itu bukan lagi sekadar angka; itu adalah vonis mati yang semakin mempersempit ruang gerak mereka. Dinda menatap mata Aris, lalu dengan tangan gemetar, ia menyerahkan sebuah kunci loker arsip yang tersembunyi di balik panel meja.
"Jika mereka tahu kau memegang ini, kita bukan lagi buronan," bisik Dinda dengan suara parau. "Kita adalah sejarah yang dihapus."