Novel

Chapter 3: Prasasti yang Menghapus Waktu

Aris dan Dinda berhasil mengakses terminal rahasia di balik loker 404. Mereka menemukan bukti bahwa sejarah keluarga Aris adalah fabrikasi The Architect. Aktivasi relik memicu penalti waktu 12 jam, dan mereka kini dicap sebagai teroris digital oleh narasi resmi kota.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Prasasti yang Menghapus Waktu

Layar ponsel Aris berkedip merah. Sisa waktu Feed Permanen kini 142 jam 12 menit. Angka itu bukan sekadar hitung mundur; itu adalah detak jantung narasi keluarganya yang sedang dipenggal.

"Mereka melacak transfer data tadi," bisik Dinda. Tangannya gemetar di bawah meja kafe, jemarinya mencengkeram ponsel yang layarnya sudah mati. "Sistem pembersihan mengunci koordinat distrik ini. Kita harus bergerak sekarang."

Aris tidak menjawab. Ia mengeluarkan relik lempengan logam itu dari balik jaket. Saat kulitnya menyentuh permukaan dingin tersebut, prasasti kuno di atasnya berpendar pucat. Huruf-huruf yang seharusnya mati kini bergerak, menampilkan deretan tanggal yang mustahil: hari kematian ayah, ibu, dan adiknya. Itu bukan catatan sejarah. Itu adalah ramalan yang ditulis bertahun-tahun sebelum peristiwa itu terjadi.

"Dinda, lihat ini," suara Aris serak. Ia mendorong relik itu ke tengah meja.

"Jangan!" Dinda menepis tangan Aris. "Kalau kau aktifkan relik di tempat umum, algoritma The Architect akan menandai kita sebagai ancaman level satu. Mereka tidak akan menangkap kita—mereka akan menghapus kita dari narasi."

Aris menarik napas. Debu arsip yang menempel di jemarinya terasa kontras dengan udara kafe yang berbau kopi murah dan asap rokok. Ia tahu harga yang dibayar Dinda—data pribadi keluarganya kini menjadi jaminan di tangan perempuan itu. Ia mengangkat relik, membiarkan cahayanya memancar lebih kuat. Getaran halus menyebar, mengganggu sinyal WiFi kafe. Layar ponsel pengunjung di sekeliling mereka berkedip, lalu mati total. Suara keluhan mulai terdengar.

"Sekarang!" Aris menarik lengan Dinda. Mereka menyelinap keluar melalui pintu belakang menuju gang sempit. Bau got dan knalpot ojek online menusuk hidung. Di kejauhan, sirene mulai meraung dari arah arsip rumah sakit.

Mereka berlari menyusuri lorong gelap. Kunci loker 404 di saku celana Aris terasa panas. "Kita harus ke basement," kata Aris. "Sebelum zona pembersihan total menutup akses."

Mereka tiba di pintu darurat rumah sakit. Lampu indikator lorong sudah berkedip merah—tanda zona pembersihan data aktif. Aris menempelkan kartu kunci ke panel usang. Bunyi klik mekanis memecah keheningan. Pintu loker 404 berderit terbuka.

Bukan dokumen berdebu yang menyambut mereka, melainkan terminal kuno dengan layar monokrom redup. Serat optik tebal tertanam di dinding beton, menghubungkan langsung ke jantung sistem narasi pusat. Relik di tangan Aris bereaksi; permukaannya memanas, cahaya pucat berubah menjadi kilatan putih tajam.

"Ini bukan arsip," gumam Aris, jarinya menyentuh tepi terminal. "Ini pintu masuk ke skrip tersembunyi. The Architect menyembunyikan protokol kontrol di sini."

Alarm rumah sakit meraung. Dinda menarik lengan Aris. "Tiga menit sebelum penguncian total!"

Aris membalik lempengan logam itu. Cahaya putih menyinari prasasti yang tersembunyi di balik karat tipis—huruf kuno bercampur kode biner yang bergerak seperti hidup. Ia memproyeksikan hologram samar di udara lembab. Teks melayang jelas: Narasi The Architect dibangun di atas mayat keluarga Aris. Tanggal fabrikasi: 15 tahun lalu.

Aris merasa darahnya membeku. Dinda menutup mulutnya. "Ini berarti seluruh sejarah publik tentang hilangnya keluargamu adalah fabrikasi murni. The Architect menciptakan narasi itu dari nol."

Relik semakin panas. Prasasti berubah, menampilkan deretan tanggal yang lebih mengerikan. Tanggal kematian keluarganya tertulis dengan tinta yang belum kering, seolah prasasti ini dibuat sebelum peristiwa itu terjadi. Baris terakhir muncul: Reset narasi hanya dapat dilakukan oleh pewaris darah sebelum Feed Permanen. Setelah itu, tombol reset hilang selamanya.

"Ini... tombol reset," bisik Aris. Suaranya hampir hilang di tengah raungan alarm. "Relik ini bukan bukti lama. Ini senjata untuk membatalkan seluruh Feed."

Dinda menatap layar ponsel Aris dengan ngeri. "Lihat hitung mundurnya!"

Angka yang tadinya 142 jam 12 menit kini berubah menjadi 130 jam tepat. Dua belas jam hilang dalam hitungan menit. Konsekuensi langsung dari akses ilegal ke terminal.

Sirene semakin kencang. Langkah kaki berat terdengar dari ujung lorong—drone pengawas mulai mendekat. Mereka berlari menaiki tangga basement. Saat mereka menerobos pintu darurat ke gang belakang, Aris melihat layar raksasa di persimpangan jalan. Malam ini, layar itu menampilkan siaran berita nasional dengan judul merah tebal: "TERORIS DIGITAL SERANG ARSIP NEGARA."

Wajahnya sendiri terpampang besar—foto KTP lama dengan mata lelah. Teks berjalan di bawahnya: Aris, mantan teknisi data, diduga merusak sistem arsip nasional untuk kepentingan pribadi. The Architect menyatakan ancaman ini dapat mengganggu peluncuran Feed Permanen.

Dinda berhenti mendadak, mencengkeram lengan Aris. "Mereka sudah memutar narasi. Kita bukan lagi pemburu... kita sekarang buronan."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced