Harga Sebuah Kehormatan
Kantor Maya di kawasan pelabuhan bukan tempat bagi mereka yang kalah. Bau amis laut menyengat, bercampur dengan debu dari tumpukan berkas tender yang tak kunjung menang. Pintu kayu tua itu berderit kasar, didorong paksa oleh tiga pria berjas hitam yang tampak terlalu rapi untuk ukuran gudang logistik ini.
"Waktunya habis, Nona Maya," ujar pria di depan, suaranya berat dan tanpa basa-basi. Ia melempar surat perintah penyitaan ke atas meja kayu yang retak. "Tuan Bram tidak suka menunggu. Aset ini, gudang, dan hak konsesi pesisir—semuanya disita atas dasar gagal bayar."
Maya terdiam, wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar saat menyentuh tepi meja. "Ini tidak masuk akal. Pembayaran jatuh tempo masih dua minggu lagi. Kalian tidak punya hak—"
"Hak kami adalah surat ini," potong preman itu, menunjuk stempel merah yang tertera di dokumen. "Dan kekuatan untuk mengeksekusinya sekarang juga."
Sebelum Maya bisa menjawab, sebuah tangan terulur dari balik bayang-bayang ruangan, menahan surat itu sebelum sempat disita kembali. Arjuna berdiri di sana, tenang seperti air yang dalam. Ia tidak menatap para preman itu, melainkan mengamati pantulan wajahnya di dinding kaca jendela yang kotor—sebuah refleksi yang kini jauh lebih tajam daripada saat ia dibuang lima tahun lalu.
"Surat ini palsu," ucap Arjuna datar. Suaranya rendah, namun memotong kebisingan pelabuhan dengan presisi yang membuat ketiga pria itu tertegun. Arjuna mengeluarkan salinan dokumen kepemilikan sah yang ia dapatkan dari arsip internal kota. "Kalian membawa dokumen dari kantor notaris yang sudah dicabut izinnya bulan lalu. Jika kalian melangkah satu senti lagi, saya akan memastikan ini menjadi kasus penyerobotan properti bersenjata. Pilihan di tangan kalian: pergi sekarang, atau berurusan dengan pihak berwajib yang sudah saya hubungi."
Ketiga preman itu saling pandang. Kepercayaan diri mereka runtuh melihat ketenangan Arjuna yang tidak biasa. Mereka mundur perlahan, namun si pemimpin sempat mengeluarkan ponsel, menatap Arjuna dengan mata menyipit. "Bram tidak akan suka ini. Ini baru permulaan, Sampah."
Begitu mereka pergi, suasana di kantor itu tetap mencekam. Ponsel Maya berdering keras. Nama di layar: Bram. Maya mengangkatnya dengan tangan gemetar, speaker dihidupkan tanpa sadar.
"Maya, kau pikir bisa main-main dengan aku?" suara Bram menggelegar dari ujung sana. "Bank sudah kututup semua akses kredit. Satu jam lagi, pengacaraku datang dengan perintah penyitaan resmi. Serahkan aset itu, atau besok pagi kau bangun tanpa apa-apa. Termasuk reputasi."
Arjuna mengambil ponsel dari tangan Maya yang kaku. "Bram, kau terlalu berisik untuk seseorang yang rekening rahasianya di Cayman justru mendanai proyek fiktif ini," ucap Arjuna dingin.
Suara di seberang telepon mendadak hening. Bram terkesiap, lalu tertawa sumbang yang terdengar dipaksakan. "Kau... siapa kau sebenarnya?"
"Seseorang yang memegang kunci kehancuranmu," jawab Arjuna sebelum memutus sambungan.
Arjuna kemudian membuka map bersegel di hadapan Maya. Isinya bukan sekadar bukti valuasi palsu, tapi catatan transfer yang mengaitkan Bram dengan wakil gubernur wilayah pesisir. Maya menatap dokumen itu dengan ngeri. "Ini bukan hanya Bram. Ini jaringan. Kalau kita ajukan ini besok sebelum palu lelang, kita bukan lagi lawan kecil. Kita jadi ancaman bagi seluruh hierarki di atasnya. Keluargaku... ibuku sakit. Kalau mereka balas, penyitaan ini hanya awal."
Arjuna menatap Maya, matanya tidak menunjukkan keraguan. "Mereka sudah menghancurkanmu. Apakah kau ingin tetap menjadi korban, atau menjadi algojo bagi mereka?"
Maya terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. Malam itu, di bawah kerlip lampu neon pelabuhan, mereka menyusun langkah. Arjuna memetakan alur dana gelap Bram di layar laptop, mengubah data mentah menjadi senjata mematikan. Maya menatap Arjuna—pria yang dulu ia anggap sampah, kini tampak seperti satu-satunya orang yang memegang kunci keselamatan perusahaannya.
"Kita akan menang besok," bisik Arjuna. Maya hanya bisa mengangguk, menyadari bahwa ia telah menandatangani kontrak aliansi yang akan mengubah nasib kota ini selamanya.