Novel

Chapter 3: Palu Lelang Pertama

Arjuna berhasil memenangkan tender pembangunan pesisir dengan membongkar manipulasi valuasi dan bukti transfer gelap Bram di depan komite lelang. Kemenangan ini secara resmi mengubah posisi tawar Maya dan Arjuna, namun sekaligus menarik perhatian pihak yang lebih berkuasa di balik layar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Palu Lelang Pertama

Ruang lelang di lantai 42 gedung pusat kota itu beraroma kayu ek tua dan ambisi yang membusuk. Di bawah lampu kristal yang berpendar dingin, Bram duduk dengan punggung tegak, jemarinya mengetuk meja marmer dengan ritme yang menghina. Di sampingnya, para pengacara dan kontraktor besar berbisik-bisik, melirik Arjuna dan Maya dengan tatapan yang menyiratkan bahwa kehadiran mereka hanyalah sebuah lelucon yang tidak lucu.

"Maya, aku tidak menyangka kau akan membawa pecundang ini ke sini," suara Bram memecah keheningan, sengaja dikeraskan agar memenuhi ruangan. "Apakah kau benar-benar sudah kehabisan modal sampai harus mengemis pada mantan narapidana? Lihatlah, setelan jasnya bahkan tampak seperti barang sewaan dari pasar loak."

Maya memucat. Tangannya yang memegang map tender gemetar di bawah meja. Tekanan sosial di ruangan itu terasa seperti cekikan fisik; setiap pasang mata di sana menghakimi status mereka sebagai pihak yang sudah kalah sebelum lelang dimulai. Arjuna tidak bergeming. Ia tidak membalas dengan kemarahan. Ia justru meletakkan map bersegel di atas meja dengan dentuman pelan yang terasa seperti perintah untuk diam. Ia menatap Bram tepat di manik matanya, tenang dan tajam.

"Bram," suara Arjuna rendah, namun memiliki gravitasi yang membuat beberapa investor di barisan depan refleks berhenti berbisik. "Tawaranmu untuk proyek pesisir ini tidak lebih dari tumpukan angka fiktif yang dibungkus dengan keserakahan. Kau bahkan tidak repot-repot menyembunyikan jejak notaris yang sudah dicabut izinnya itu."

Bram tertawa pendek, meski matanya tidak ikut tersenyum. "Tujuh puluh miliar!" seru juru lelang. Bram melirik Arjuna dengan tatapan yang menyiratkan kemenangan mutlak. "Tidak ada yang lebih tinggi? Proyek ini akan segera ditutup dalam hitungan detik."

Saat juru lelang mengangkat palu kayu untuk ketiga kalinya, Arjuna berdiri. Gerakannya lambat, namun memiliki bobot yang membuat seisi ruangan menoleh. Ia berjalan menuju meja komite dan meletakkan map cokelat bersegel di atas permukaan meja kayu jati tersebut. "Tunggu," suaranya memotong udara dengan ketajaman yang tak terbantahkan. "Sebelum palu itu jatuh, ada satu dokumen valuasi yang perlu kalian tinjau ulang. Data yang Bram ajukan hari ini bukan sekadar kesalahan administrasi, melainkan skema pencucian aset yang melibatkan wakil gubernur."

Ketua komite yang awalnya acuh tak acuh segera membuka map tersebut. Wajahnya berubah pucat saat melihat bukti transfer yang terlampir. Bram terlonjak, tangannya mencengkeram meja hingga buku jarinya memutih. "Apa maksud Anda? Dokumen saya lengkap!"

"Prosedur poin empat belas, Bram. Ada ketidaksesuaian administrasi yang fatal," balas Arjuna dingin. Tanpa menunggu protes lanjutan, Arjuna meletakkan map biru milik Maya di atas meja. Angka yang tertera di sana membuat seisi ruangan terperangah; tepat di bawah limit anggaran, presisi hingga ke digit terakhir.

Bram mencoba membuka mulut untuk melakukan intervensi, namun Arjuna sudah memotongnya dengan bisikan tajam yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Rekening luar negeri di Kepulauan Cayman, Bram. Masih ingin bicara tentang prosedur?"

Darah Bram seolah tersedot habis. Arjuna menatapnya tepat di mata, intensitas tatapannya adalah janji akan kehancuran yang permanen. Di depan mereka, ketua komite tidak membuang waktu; palu lelang diangkat tinggi-tinggi. "Dengan ini, penawaran dari PT Cakrawala Utama dinyatakan sah dan menjadi pemenang tender!"

Lobi gedung lelang itu masih berbau parfum mahal dan keringat dingin. Di luar, cakrawala pesisir tampak kelabu. Arjuna berdiri tegak, tangannya terselip di saku jas, sementara Maya masih terpaku, napasnya memburu. Di layar monitor besar, nama perusahaan Maya kini terpampang sebagai pemenang sah.

"Kita baru saja membuat Bram kehilangan muka, Arjuna," bisik Maya. "Dia tidak akan membiarkan ini berlalu. Kemenangan ini... ini seperti memicu bom waktu."

Arjuna tidak menjawab. Matanya tertuju pada pintu keluar tempat Bram baru saja melintas dengan wajah pucat pasi. Itu adalah jenis kehancuran yang Arjuna sukai: tenang, sistemik, dan permanen. Tiba-tiba, ponsel Arjuna di saku jas bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul, terenkripsi dengan protokol yang hanya bisa diakses oleh mereka yang berada di lingkaran kekuasaan tertinggi. Pesan itu singkat namun tajam: "Bram hanyalah anjing pelacak yang bodoh. Berhati-hatilah, Arjuna. Papan catur ini jauh lebih luas dari yang kau bayangkan."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced