Dihina di Ruang Kaca
Pintu kaca lantai empat puluh lima itu tertutup dengan desis hidrolik yang halus, memutus kebisingan kota di bawah. Arjuna berdiri di sana, di tengah ruang rapat yang didominasi dinding kaca transparan dan meja mahoni sepanjang sepuluh meter. Di sekelilingnya, para investor dan petinggi perusahaan duduk dengan punggung tegak, menatapnya bukan sebagai tamu, melainkan sebagai noda pada karpet mahal mereka.
Bram, pria yang duduk di kursi utama dengan jam tangan seharga rumah mewah, melempar map tender ke meja. Bunyinya nyaring, memecah keheningan yang disengaja.
"Arjuna," suara Bram datar, penuh dengan penghinaan yang terukur. "Aku dengar kau baru keluar dari lubang tempat kau bersembunyi. Apa kau salah lantai? Lantai bawah untuk tenaga kasar, bukan untuk mereka yang ingin bermain di tender pesisir ini."
Gelak tawa tertahan pecah di sudut ruangan. Seorang direktur muda memutar pulpennya, menatap Arjuna dengan tatapan merendahkan yang biasa ditujukan pada sampah. Arjuna tidak bergeming. Ia hanya berdiri, mengenakan kemeja yang bersih namun sudah kehilangan warna aslinya, membawa satu map tebal yang disegel lilin merah.
"Aku di sini untuk penawaran," jawab Arjuna tenang. Suaranya rendah, namun cukup tajam untuk membuat tawa di ruangan itu meredup.
Bram bersandar, melipat tangan di dada. "Penawaran? Dengan apa? Kau tidak punya modal, tidak punya reputasi, dan yang paling penting, kau tidak punya tempat di sini. Kau adalah kegagalan yang sudah kami hapus dari daftar kota ini bertahun-tahun lalu."
Di ujung meja, Maya, pemilik perusahaan properti yang sedang di ambang kebangkrutan, memejamkan mata. Ia memegang bolpoin begitu erat hingga buku jarinya memutih. Ia tahu, jika tender ini jatuh ke tangan Bram, perusahaannya akan disita bank esok pagi. Ia memandang Arjuna dengan tatapan skeptis yang bercampur putus asa.
"Arjuna, pergilah," bisik Maya, suaranya bergetar. "Kau hanya akan memperburuk situasi. Bram sudah mengunci semua akses."
Arjuna tidak menoleh pada Maya. Fokusnya terkunci pada Bram. "Bram, kau membangun proyek ini di atas fondasi yang rapuh. Valuasi arus pasir di sisi timur dermaga itu salah. Kau memanipulasi angka asuransi untuk menutupi biaya reklamasi yang membengkak empat kali lipat."
Ruangan itu mendadak sunyi. Bram yang tadinya bersandar santai, kini menegakkan tubuh. Senyum meremehkannya memudar.
"Kau mengarang angka?" tanya Bram, meski matanya mulai menunjukkan kewaspadaan.
"Aku tidak mengarang," jawab Arjuna. Ia melangkah maju, meletakkan map bersegel itu di atas meja lelang, tepat di depan palu kayu yang akan menentukan nasib proyek tersebut. "Aku hanya tahu apa yang kau sembunyikan di balik dokumen yang kau sebut 'rahasia perusahaan'."
Bram menatap map itu. Tangannya yang tadi santai kini mencengkeram tepi meja. Keringat tipis muncul di pelipisnya. Ia tahu, jika isi map itu dibuka, monopoli yang ia bangun selama bertahun-tahun akan hancur dalam hitungan menit.
"Satpam!" seru Bram, namun suaranya tidak lagi memiliki otoritas yang sama. "Usir dia!"
"Tunggu," potong Maya. Ia berdiri, menatap map di depan Arjuna dengan mata yang mulai terbuka lebar. Ia menyadari sesuatu yang krusial: Arjuna bukan datang untuk memohon, ia datang untuk mengambil alih.
Arjuna menatap Bram tepat di mata, dingin dan tanpa ampun. "Lelang belum ditutup, Bram. Dan sekarang, kau punya pilihan: biarkan aku masuk, atau biarkan dokumen ini sampai ke tangan auditor negara besok pagi."
Bram terdiam. Wajahnya memucat. Di ruangan yang penuh dengan kaca dan penghinaan itu, untuk pertama kalinya, Arjuna memegang kendali penuh atas papan permainan.