Novel

Chapter 5: Panggung Sandiwara Medis

Aris berhasil menyusup ke ruang penyimpanan obat di tengah siaran langsung Dr. Baskoro. Ia mengamankan bukti fisik berupa botol obat yang dilabeli palsu. Maya memberikan potongan chart tambahan yang mengungkap daftar korban lebih luas, mempertegas bahwa ini adalah sistem pemusnahan massal yang terorganisir.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Panggung Sandiwara Medis

Lampu neon di langit-langit koridor servis berkedip, memancarkan cahaya dingin yang menyorot terminal dinding: AKSES DITOLAK: RISIKO INTERNAL. Aris menatap layar itu dengan napas tertahan. Sisa waktu pembersihan otomatis: 11 jam 30 menit. Setiap detiknya bukan sekadar angka, melainkan hitungan mundur menuju penghapusan jejak kejahatan yang sistematis.

"Cari di area servis. Dia tidak mungkin bisa keluar gedung tanpa melewati gerbang utama yang sudah dikunci," suara Raka menggema, disusul derap sepatu bot yang mendekat. Aris menyelinap ke celah sempit di balik panel listrik. Jantungnya berdegup kencang, beradu dengan dengung mesin pendingin. Dari celah itu, ia melihat Dr. Baskoro melintas, mengenakan jas putih yang disetrika sempurna. Baskoro berhenti di depan pintu studio siaran langsung, wajahnya memancarkan senyum karismatik yang biasa ia gunakan untuk menenangkan publik.

Aris menyelinap ke ruang kontrol studio saat Baskoro masuk ke set. Di balik kaca, lampu putih menyala, dan Baskoro mulai berbicara ke arah kamera tentang 'keselamatan pasien'. Itu adalah panggung sandiwara. Aris menangkap gerakan Dimas, operator muda yang tampak gemetar di balik panel monitor. Sebuah glitch pada sistem siaran membuat interlock elektronik pintu penyimpanan obat di samping studio bergeser satu detik. Aris tidak membuangnya. Ia menerobos masuk saat celah pintu masih terbuka, bau disinfektan tajam menyerang hidungnya.

Di dalam, rak-rak metal tersusun rapi. Barisan botol bening berlabel putih tampak steril, namun Aris tahu itu adalah kamuflase. Ia meraba saku seragamnya, mengeluarkan ponsel, dan memotret nomor batch yang sudah ia hafal dari log B-77-X. Pada rak tengah, ia menemukan botol dengan label 'Penenang Umum' yang sebenarnya adalah zat terlarang. Ia menyembunyikan botol asli ke dalam kantong alatnya tepat saat suara langkah Raka mendekat ke pintu ruang penyimpanan.

Aris keluar melalui jalur servis sempit menuju titik temu di area arsip. Di sana, Maya sudah menunggu dengan wajah pucat. Tanpa sepatah kata, Maya menyerahkan sebuah amplop cokelat tipis. "Ini potongan chart asli yang mereka coba musnahkan," bisik Maya dengan suara bergetar. "Tapi Aris, lihat ini. Ini bukan cuma pasien 7B. Ada daftar nama lain di bawahnya. Mereka semua diberi obat yang sama, dan semuanya dihapus dalam satu siklus pembersihan."

Aris menarik napas tajam saat matanya menangkap deretan nama tersebut. Skala ini jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Ia menatap jam dinding: sisa waktu pembersihan otomatis turun lagi menjadi 11 jam 29 menit. Di tangannya, bukti fisik itu terasa berat—sebuah bom waktu yang jika meledak akan menghancurkan rumah sakit, namun jika disembunyikan, akan membunuh lebih banyak orang. Aris menyadari bahwa Baskoro tidak hanya menutup jejak satu kematian, tetapi sebuah sistem pemusnahan massal yang terorganisir, dan kini, anak Maya ikut terancam oleh pemecatan dan konsekuensi yang lebih fatal jika kebenaran ini bocor. Seseorang telah menyiapkan jalur pemusnahan total atas bukti-bukti ini sebelum pagi tiba.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced