Novel

Chapter 4: Log Akses yang Berdarah

Aris terjebak di ruang server setelah memicu alarm lockdown. Ia menemukan bukti bahwa Dr. Baskoro menggunakan akun admin bayangan untuk memanipulasi data kematian pasien 7B. Saat Raka dan Baskoro mengepungnya, Aris berhasil menyalin log akses ke flash drive, namun sistem menandainya sebagai 'Risiko Internal' dan mempersempit waktu pembersihan data.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Log Akses yang Berdarah

Deru kipas pendingin di ruang server terdengar seperti napas buatan yang dipaksa masuk ke paru-paru mesin. Aris menempel di sisi rak logam, punggungnya terasa dingin oleh embusan AC, sementara layar terminal di depannya memancarkan angka merah yang tak memberi ampun: 11:31:00. Sisa waktu pembersihan otomatis.

Ia tidak punya kemewahan untuk panik. Ia butuh rantai akses yang menyentuh kematian pasien 7B sebelum sistem menutup semua pintu dan sebelum Raka menemukan celah ini. Aris mengetik cepat. Daftar log muncul, namun semuanya terlalu rapi. Bukan error sistem, melainkan pola yang dipaksa terlihat seperti kebetulan: akses muncul pada menit yang sama dari terminal berbeda, lalu menghilang di bawah label gangguan sinkronisasi.

Di pojok layar, notifikasi kecil menyala. Aris membandingkan log akses ruang server dengan jejak pemutusan CCTV dari bangsal 7B. Kode-kode itu akhirnya saling mengunci: ada satu akun yang muncul berkali-kali sebagai penanda prioritas penghapusan. B-77-X.

Itu bukan akun teknisi. Itu jalur admin. Aris menahan napas saat satu nama menyembul di antara deretan checksum: Dr. Baskoro.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Dimas masuk: Raka sudah ke studio. Dia tidak menemukanmu. Maya dikepung di koridor perawat.

Aris mengutuk pelan. Waktu tidak hanya berkurang; waktu sedang dipakai melawannya. Ia menyapu layar, mencari asal-usul B-77-X. Ia memaksa terminal membaca ulang file mentah yang tadi diabaikan sistem. Saat baris-barisnya terbuka, ia melihat jejak perubahan yang terlalu rapi untuk disebut pembocoran data biasa. Ada penanda prioritas pada klip CCTV, lalu perintah pemindahan status arsip, dan catatan pemusnahan sebelum audit internal. Semua langkah itu memakai akses level dokter.

Di luar, lampu indikator di pintu server berubah kuning. Seseorang mencoba masuk. Bukan ketukan Raka yang kasar, melainkan dorongan berat, sabar, dan penuh otoritas.

Aris menutup layar utama, menyimpan salinan log ke flash drive, lalu memindahkannya ke saku dalam seragamnya. Ia membuka terminal cadangan dan menarik peta akses tersembunyi. Ia menemukan titik-titik waktu yang berulang, semuanya mengarah ke malam kematian pasien 7B. Akun B-77-X digunakan untuk memprioritaskan penghapusan data pasien 7B tepat setelah Raka memasuki area perawatan. Bukan Raka yang memutuskan sendiri. Dia hanya eksekutor.

Pintu server dihantam. Dentumnya membuat rak logam bergetar. Aris mengangkat telepon dari Maya.

“Aris,” bisik Maya, suaranya gemetar. “Raka di depan ruang perawat. Dia tanya siapa yang minta akses cadangan ruang farmasi. Dia bilang dia cuma mau ambil sesuatu yang ‘sudah seharusnya dimusnahkan’.”

“Jangan kasih dia apa pun,” perintah Aris. “Jangan sebut namaku.”

“Hutangku sudah kau hapus, tapi namaku sekarang di radar mereka,” balas Maya. “Kalau mereka tahu aku bicara, aku habis.”

Aris memutus sambungan saat mendengar suara langkah berat berhenti tepat di luar pintu. Ia tidak bisa membawa semua file, tapi ia bisa membuat kekacauan. Ia menarik kabel cadangan dari terminal, memicu alarm sistem, dan mengirim salinan sementara log B-77-X ke jaringan publik internal. Itu akan memancing analis keamanan ke arah yang salah.

Bunyi siaran percobaan meledak dari speaker koridor, memekakkan telinga. Di balik pintu, suara sepatu bergegas. Aris memanfaatkan kekacauan itu untuk menarik kunci manual pintu servis. Ia menyelipkan tubuh ke lorong sempit di belakang panel, bahunya tergores besi tajam. Di ujung lorong, cahaya neon dingin memanjang seperti pisau.

Dari belakang, pintu server terbuka. Suara Raka terdengar, “Dia ke mana?”

Lalu suara yang lebih tenang, lebih dingin, menjawab, “Cari dia. Tutup semua jalur keluar.”

Aris membeku. Itu bukan suara Raka. Itu suara Baskoro.

Di layar terminal yang masih ia genggam, satu baris terakhir terbuka: akun admin bayangan Baskoro aktif kembali. Begitu Aris mencoba membuka lognya, sistem langsung mengunci akses dan menandai ID-nya sebagai Risiko Internal. Ia terjebak, namun di layar, ia melihat satu fakta baru: obat yang digunakan pada pasien 7B ternyata bukan stok biasa, melainkan zat terlarang yang diberi label ulang—dan seseorang sudah menyiapkan jalur pemusnahannya sebelum pagi.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced