Fragmen di Studio Siaran
Sisa waktu pembersihan otomatis di pojok monitor berkedip merah: 11 jam 32 menit.
Aris mendorong pintu studio kontrol yang setengah macet. Ruangan itu dingin, dipenuhi cahaya neon putih yang memantul di panel kaca. Di balik layar promosi keselamatan pasien yang berputar tanpa suara, Rumah Sakit Metropolitan sedang menghapus dirinya sendiri—log demi log, klip demi klip. Aris datang bukan untuk menonton. Dia datang untuk mengambil satu file CCTV yang sudah dihapus sebelum sistem menutupnya permanen.
Dimas menoleh dari konsol. Wajahnya kusam, telapak tangannya gemetar di atas keyboard. “Kamu seharusnya nggak masuk ke sini, Aris. Semua akses di konsol terekam. Semua.”
Aris menutup pintu dengan pinggul, berdiri di sudut yang tersembunyi dari koridor kaca. “Aku nggak minta kamu jadi pahlawan, Dimas. Aku cuma minta satu jalur pemulihan.”
“Kamu paham itu bukan cuma file hilang, kan?” Dimas berbisik tajam. “Begitu aku buka arsip tertutup, audit masuk. Kalau Baskoro lihat jejak akses dari studio, aku yang habis duluan.”
Aris menekan saku jasnya, merasakan flash drive berisi bukti digital yang sudah mengorbankan reputasinya. “Kalau file itu hilang, bukan cuma kamu yang habis. Baskoro sudah tahu aku main belakang. Nama aku sudah ditandai di sistem.”
Dimas terdiam, menimbang risiko itu. Di luar, suara troli lewat cepat, disusul bisikan suster yang ketakutan. Rumah sakit ini hidup dari kepatuhan, dan malam ini, kepatuhan itu sedang dipakai untuk membungkam bangsal 7B.
“Aku pakai akun teknis cadangan,” kata Dimas akhirnya, suaranya parau. “Sekali dipakai, log-nya naik ke level supervisor. Jadi jangan lambat.”
Dimas membuka panel di bawah meja dan memasukkan token lama. Layar utama menampilkan direktori gelap yang seharusnya tidak pernah dibuka staf studio. Aris melihat folder rekaman dengan penamaan yang aneh—bukan nama acara, melainkan kode menit dan lapisan white noise.
“Studio ini dipakai buat nutup suara bangsal,” gumam Aris.
“Kalau ada keributan di atas, operator disuruh naikkan feed, buka clipping, masukin noise,” jawab Dimas. “Orang-orang di ruang tunggu dengar dokter yang tenang. Bukan teriakan. Itu yang mereka mau. Citra.”
Aris menatap layar. “Klip CCTV 7B. Yang dihapus kemarin. Buka.”
Dimas mengetik cepat. Folder itu muncul, tampak kosong. “Metadata-nya ada, tapi blok datanya ditimpa,” kata Dimas. “Seseorang tergesa-gesa.”
“Jalankan pemulihan.”
Proses pemulihan berjalan lambat. Setiap detik adalah risiko. Di log audit, baris-baris kode mulai bergerak, menandakan sistem sedang memindai aktivitas mereka. Saat bilah kemajuan mencapai 92%, sebuah nama muncul di log: Raka.
“Buka frame itu,” perintah Aris.
Layar berkedip. Frame pecah muncul: koridor bangsal 7B, troli, tirai putih. Raka masuk ke frame. Petugas keamanan itu bergerak dengan presisi dingin, membungkuk ke sisi ranjang, menekan sesuatu pada alat penunjang hidup, lalu bergeser agar kamera menangkap punggungnya. Tidak ada kepanikan. Itu eksekusi.
“Itu dia,” bisik Aris.
Bukti ini menggeser segalanya. Aris punya timestamp, log obat, dan kini wajah pelaku lapangan. Namun, saat file selesai dipulihkan, alarm gedung pecah dari arah kantor Dr. Baskoro. Nada pendek, tajam, dan khusus. Status di monitor berubah merah: LOCKDOWN TERTENTU.
“Mereka tahu,” seru Dimas.
Langkah kaki berat terdengar di koridor. Raka. Petugas itu bergerak menuju studio dengan koordinat yang jelas. Pintu baja berdecit saat Raka mulai mendobrak dari luar.
“Lewat jalur servis!” Dimas menunjuk pintu darurat. “Tapi sensor geraknya sensitif. Kalau satu mati, satu lagi bakal hidup.”
Aris menyambar flash drive itu. “Kalau aku ambil jalur servis, file ini harus tetap aman.”
Aris menerobos masuk ke lorong servis yang sempit dan berbau logam tepat saat pintu studio dihantam keras oleh Raka. Ia berlari melewati tikungan, sensor merah menyala di atas kepalanya. Ia mencapai ruang server yang dingin, tempat deretan rak berkedip biru pucat.
Ia mencolokkan flash drive ke terminal servis. File CCTV mulai berpindah. Namun, saat ia membuka log cadangan, layar terminal membuka direktori tersembunyi: Audit_Internal_Final. Di dalamnya, sebuah akun admin bayangan milik Dr. Baskoro terpampang jelas, mengendalikan jadwal pembersihan otomatis rumah sakit.
Aris menekan enter.
Terminal mengunci diri. Semua panel berubah merah. Di sudut layar, identitas Aris menyala dengan label: RISIKO INTERNAL.
Langkah kaki Raka berhenti tepat di depan pintu ruang server.