Novel

Chapter 2: Harga Sebuah Informasi

Aris berhasil mendapatkan kesaksian Maya dengan imbalan menghapus hutang medis keluarganya, sebuah tindakan yang mengorbankan reputasi dan keamanannya. Dr. Baskoro memergoki pertemuan mereka, sementara Aris menemukan bukti CCTV yang menempatkan Raka sebagai pelaku manipulasi di lokasi kematian pasien 7B.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga Sebuah Informasi

Layar ponsel Aris berkedip merah: 11:32:00. Hitung mundur itu bukan sekadar angka; itu adalah sisa waktu sebelum sistem Auto-Purge Rumah Sakit Metropolitan menghapus jejak digital kematian pasien 7B secara permanen. Di balik kaca koridor server, sensor sidik jari menolak aksesnya untuk ketiga kalinya. Aris menarik tangannya, menyembunyikan getaran jemari di balik saku jas. Ia bukan lagi penyelidik internal yang dihormati; ia adalah glitch dalam sistem yang harus segera diisolasi.

Flash drive di sakunya terasa seperti bara. Ia harus menemui Maya. Jika ada satu orang yang tahu celah di bangsal tanpa meninggalkan jejak di log pusat, itu adalah perawat senior tersebut.

Ruang istirahat staf berada di sudut mati, jauh dari jangkauan kamera kubah yang berputar ritmis. Maya duduk di sana, menyesap kopi dingin dengan punggung tegak, seragamnya terlalu rapi untuk jam shift malam. Ia tidak menoleh saat Aris masuk, namun bahunya menegang.

“Kalau kamu datang untuk tanya soal 7B, pulang saja, Aris,” ujar Maya datar. “Aku tidak bicara gratis.”

Aris mengunci pintu. “Aku tidak datang untuk meminta belas kasihan. Aku datang untuk kesepakatan.” Ia meletakkan flash drive di meja. “Log obat, timestamp, metadata. Ini bukti overdosis yang disengaja. Aku butuh aksesmu untuk menghubungkan ini dengan perintah dokter yang sebenarnya.”

Maya menatap benda itu dengan kebencian yang tajam. “Bukti digital itu sampah jika admin sistem menekan satu tombol hapus. Kamu butuh akses? Aku butuh sesuatu yang nyata. Hapus catatan hutang medis keluargaku dari sistem pusat. Nama suamiku, biaya perawatan anakku di poli jantung. Lakukan itu, dan aku akan buka mulut.”

Aris terdiam. Menghapus hutang berarti peretasan tingkat tinggi yang akan meninggalkan jejak permanen pada ID-nya. Itu adalah bunuh diri reputasi—dan mungkin karier. Namun, melihat sorot mata Maya, Aris paham: ini bukan soal uang, ini soal nyawa. Aris mengangguk pelan. “Aku akan melakukannya.”

Saat Aris sibuk meretas terminal keuangan di bawah meja, hawa dingin merayap di tengkuknya. Ia mendongak ke arah lorong kaca di atas. Dr. Baskoro berdiri di sana, menatap tajam ke bawah seolah sedang membedah spesimen. Aris tidak memalingkan wajah; ia sengaja menjatuhkan tumpukan berkas audit palsu ke lantai untuk memecah perhatian sang dokter.

“Pergi,” bisik Aris pada Maya. “Sekarang.”

Maya bangkit dan melenggang pergi dengan tenang. Aris tahu, Baskoro telah melihat mereka. Ia resmi menjadi target.

Aris berlari menuju studio siaran. Dimas, operator studio, menyambutnya dengan wajah pucat pasi. “Kamu gila, Aris. CCTV itu sudah dibersihkan total.”

“Pulihkan cache-nya,” perintah Aris.

Saat progress bar mencapai 90 persen, alarm studio melengking. Pintu didobrak paksa dari luar. Di layar monitor, file CCTV terbuka tepat saat Raka, petugas keamanan, muncul di lokasi kematian pasien 7B. Klip itu menampilkan Raka sendiri yang memanipulasi peralatan di saat yang seharusnya mustahil. Aris membeku—bukan dokter yang ia cari, melainkan algojo yang memastikan tidak ada saksi tersisa. Pintu studio terbuka lebar, dan Aris sadar, waktu 11 jam miliknya baru saja habis.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced