Novel

Chapter 1: Jam Digital yang Berdetak Mundur

Aris menemukan anomali kematian pasien ICU yang disamarkan sebagai gagal jantung melalui manipulasi log obat. Saat ia menyalin bukti tersebut, sistem rumah sakit mengaktifkan protokol pembersihan otomatis dengan tenggat 12 jam, sementara Raka dan Dr. Baskoro mulai mempersempit ruang geraknya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Jam Digital yang Berdetak Mundur

“Matikan siaran internalnya sekarang.”

Suara Dimas pecah di telinga Aris, tipis lewat headset yang terlalu murah untuk ruang semewah ini. Alarm merah kecil berkedip di panel studio—bukan alarm gedung, tapi peringatan dari sistem siaran internal Rumah Sakit Metropolitan. Di seberang kaca, logo rumah sakit masih berputar tenang di layar besar, putih bersih, seolah tidak ada yang sedang salah. Padahal di sisi kanan monitor data, muncul baris yang seharusnya tidak pernah tayang di ruang seperti ini:

Pasien ICU 7B — Status: Meninggal — 03:14

Aris berhenti satu langkah dari terminal arsip. Jam dinding di atas rak server menunjukkan 03:24.

Sepuluh menit selisih. Ia tidak perlu menatap dua kali untuk tahu itu bukan kesalahan tampilan. Monitor detak jantung pada feed observasi masih menampilkan garis yang bergerak sampai 03:21, lalu jatuh rata. Catatan resmi di dashboard pasien menulis penyebab kematian: gagal jantung mendadak pada 03:34. Terlambat sepuluh menit. Atau dipercepat sepuluh menit. Salah satu dari dua angka itu sedang berbohong, dan di rumah sakit seperti ini, angka yang bohong biasanya punya penulis.

Dimas menoleh dari meja kontrol, headset setengah melorot. “Bukan tayang ke publik. Cuma internal. Tapi kalau file itu pecah, ruang siaran kena lock.”

“Siapa yang memanggil saya?” tanya Aris, suaranya rendah.

“Dr. Baskoro.”

Nama itu membuat ruang studio terasa lebih sempit. Aris melintasi lantai licin yang memantulkan lampu neon seperti air beku. Studio siaran internal ini dibuat untuk citra: dinding kaca, kursi tamu berlapis kulit abu-abu, meja tanpa debu, dan layar lebar yang biasa dipakai menampilkan pencapaian rumah sakit. Sekarang tampilannya justru terasa seperti ruang bedah yang baru selesai dipakai untuk hal yang tidak boleh ada namanya.

Dr. Baskoro sudah berdiri di dekat panel monitor tambahan, jasnya tetap lurus, wajahnya tenang seperti sedang menunggu jadwal wawancara, bukan mayat digital yang baru saja muncul di sistem. “Aris,” katanya, ramah yang terlalu halus. “Kami butuh Anda cek anomali ini. Ada ketidaksesuaian di feed ICU. Jangan panik. Hanya audit cepat.”

Audit cepat. Aris tahu kalimat itu biasanya dipakai untuk menutup sesuatu sebelum menjadi pertanyaan.

“Jika ini hanya anomali, kenapa saya yang dipanggil?”

Senyum Dr. Baskoro tidak berubah. “Karena Anda teliti.”

Aris menaruh kartu akses kepatuhan di pembaca terminal. Bukan akses penuh. Hanya akses kecil—cukup untuk membuka metadata, cukup dekat untuk dicurigai kalau ada yang retak. Ia pernah belajar bahwa pintu setengah terbuka lebih berbahaya daripada pintu tertutup.

Layar arsip menyala. Aris mencari 7B. Jari-jarinya bergerak cepat, membuka timestamp feed monitor, log pemberian obat, dan catatan perawat. Selisih pertama langsung muncul: waktu kematian di feed observasi jatuh sepuluh menit lebih awal daripada catatan resmi. Selisih kedua lebih buruk—dosis sedatif terakhir ditulis dua kali, dengan metadata font berbeda, seolah seseorang menimpa catatan lama lalu menyalin gaya tulisannya sendiri. Bukan error input. Penulisan ulang.

Aris memperbesar detail perubahan. Tiga revisi dalam delapan belas menit. Yang pertama dari akun dokter jaga. Yang kedua dari akses farmasi. Yang ketiga masuk lewat terminal unit yang seharusnya tidak aktif setelah pukul dua pagi.

“Dimas,” Aris bersuara tanpa mengalihkan mata dari layar, “rekamannya ada yang dipotong?”

Dimas mendecak pelan, tapi sudah membuka panel cadangan di belakang konsol. Satu kabel tipis menjulur, terpasang tidak resmi. Bantuan setengah diam-diam. Aris menarik napas pendek, lalu menyentuh ikon ekspor.

Akses dibatasi. Permintaan dicatat.

Ia mencoba lagi lewat jalur audit. Kali ini layar berkedip hijau. Aris memasukkan flash drive tipis ke port belakang terminal yang sudah disiapkan Dimas. Proses salin berjalan. Satu persen. Lima. Dua belas.

Di monitor samping, garis detak jantung pasien ICU 7B masih terlihat di feed historis, konstan sampai menjelang titik rata. Aris memaksa dirinya melihat angka-angka, bukan wajah yang belum pernah ia kenal. Karena yang paling sulit dibantah selalu yang paling dingin: waktu, dosis, akses.

Tiga puluh sembilan persen. Di jendela pembanding, ia menemukan sesuatu yang membuat punggungnya mengeras. Waktu kematian pasien di sistem resmi dicatat 03:34. Tapi dari kurva monitor dan log obat yang baru ia tarik, tubuh itu berhenti sebelum 03:24. Sepuluh menit terlalu cepat. Obat sedatif terakhir bukan cuma ditulis ulang—ada jejak peningkatan dosis yang sengaja dibenamkan di bawah entri rutin. Overdosis. Disamarkan sebagai gagal jantung.

“Sudah dapat?” tanya Dimas, gelisah.

“Belum semua.”

“Kalau Baskoro lihat proses salin aktif, kita habis.”

Aris tidak menjawab. Ia sedang membuka satu lapisan lagi, mencari metadata akses terakhir. Pada baris paling bawah, ada nama terminal yang dipakai untuk revisi ketiga. Terminal itu terhubung ke unit observasi dekat studio siaran. Artinya rekaman pasien bukan cuma lewat ICU. Ada jalur yang melewati ruang ini, atau ruang di baliknya.

Lalu notifikasi itu meledak di sudut layar.

Sistem Pembersihan Otomatis Aktif — 11 jam 58 menit tersisa

Aris membeku. Bukan ancaman umum. Tenggat nyata. Sistem rumah sakit ini bukan hanya menyimpan data. Ia juga menunggu waktu yang tepat untuk menghapus jejaknya sendiri.

“Dimas,” katanya pelan, “itu pembersihan apa?”

“Saya nggak pernah lihat menu itu.”

Bar progres salin melaju ke delapan puluh dua persen. Suara pintu geser di belakang mereka membuat Aris menoleh. Raka. Petugas keamanan internal itu berdiri di ambang studio, tubuhnya tegap, wajahnya datar seperti papan peringatan.

“Ada masalah di feed?” tanya Raka.

Dimas buru-buru berdiri, menutupi layar dengan badan setengah langkah. “Ada sinkronisasi aneh. Saya sedang bersihkan.”

Raka menatap Aris, lalu monitor, lalu kembali ke Aris. “Kenapa akun kepatuhan Anda aktif di sini?”

Aris tidak punya jawaban yang aman. Ia memilih yang paling singkat. “Diminta cek metadata.”

“Siapa yang minta?”

Aris belum sempat menjawab ketika lampu merah kecil di panel berkedip lagi. Sistem mendeteksi transfer eksternal. Akses tidak sah dicatat.

Dimas mengumpat pelan. Raka langsung mengangkat alis. “Transfer apa?”

Aris menekan jendela ekspor, memaksa salinan terakhir masuk ke flash drive. Tangan kirinya menutup port sebelum sistem bisa memutus. Progress mencapai seratus persen. Satu file kecil, tapi berat seperti batu. Ia mencabut drive itu.

Berhasil.

Dan tepat saat itu, layar utama berkedip merah lagi, lebih besar, lebih dingin.

Fragmen data dijadwalkan untuk penghapusan otomatis dalam 12 jam

Aris membaca dua kali. 12 jam. Sistem ini bukan hanya menghitung. Ia memperbarui ancaman pada data yang baru saja dicuri, seolah menandainya secara pribadi. Ada sesuatu dalam fragmen itu yang membuat pembersihan dipercepat. Dari lorong kaca di luar studio, suara langkah mendekat. Raka ikut bergerak, setengah menutup pintu ruang monitor.

Aris menahan drive di genggamannya. Di balik kaca, bayangan orang melintas. Ia baru saja memindahkan satu serpih kebenaran keluar dari sistem yang sedang mengincarnya. Dan di lorong kaca, Dr. Baskoro muncul, tenang seperti biasa, berdiri di antara lampu putih dan refleksi dirinya sendiri. Matanya menempel sebentar pada Aris, lalu pada monitor yang masih menyala.

Kalau mereka sampai menebus satu kematian dengan pembersihan otomatis, berarti ada pola yang jauh lebih besar di bawahnya. Dan seseorang baru saja melihat bahwa Aris memegang potongan yang bisa membuka semuanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced